Naskah Martir bagian II (Dua)

NARATOR:

Warga desa Kebon Agung kembali geger. Salah seorang warga menyatakan melihat seorang lelaki menyelinap malam ke rumah Mak Saidah. Segera pernyataan warga itu menyulut ketegangan di kampung Kebon Agung. Para warga mengira pasti lelaki yang menyelinap ke rumah Mak Saidah itu  teroris temannya suaminya ESTI.

HAJI AMIR                 : “Setuju. Kalau keadaan seperti ini terus. Kampung tidak akan aman. Anak kita juga butuh keamanan. Bagaimana kalau tiba-tiba ada bom meledak di kampung kita ini?” ujar Pak Marso berapi-api.

JAIMAN                      : “Iya usir saja sekalian Esti. Kedatangannya ke kampung kita ini malah menjadikan kita tidak aman!”

WARGA                      : “Usir Esti. Tangkap Juwanda!”

Pak SANYOTO menjadi tegang. Bagaimanapun ia harus membuat keputusan yang bijaksana. Warga masyarakat sendiri lebih mendukung pendapat sepihak saja.

PAK SANYOTO  menenangkan warga.

PAK SANYOTO         : “Sebentar Bapak-Bapak. Bagaimanapun kita tak bisa menghukumi sepihak kalau tak ada bukti yang kuat.”

HAJI AMIR                 : “Lho, Pak SANYTOTO ini bagaimana? Jelas-jelas ada bukti yang nyata. Tanya saja Pak Warto yang melihat kejadian malam itu?”

Lelaki yang bernama Pak Warto itu ditarik ke depan. Ia sendiri gugup berbicara di depan warga yang banyak.

WARTO                       : “Sebenarnya saya cuma melihat bayangan lelaki yang ma… masuk…halaman”

WARSO                       : “Tuh benar kan.. Jelas sekali kalau ada Pak WARTO benar-benar melihat Juwanda.”

PAK SANYOTO         : “Mohon bapak Marso jangan memotong dulu. Biar Pak Warto bicara, apa benar dia melihat Juwanda di rumah Esti.”

WARTO                       : “Saya melihat hanya bayangan lelaki yang menyelinap masuk ke dalam halaman, Pak.”

PAK SANYOTO         : “Bisa jadi bukan Juwanda yang Pak Warto lihat itu?”

HAJI AMIR                 : “Ah, jelas Juwanda dong Pak. Siapa lagi? Masak lelaki selingkuhan Esti.”

PAK SANYOTO         : “Tenang-tenang! Kita harus menyelidiki kasus ini dengan baik. Tidak bisa bertindak sembrono!”

HAJI AMIR                 : “Begini saja Pak SANYOTO.”

Haji Amir memotong.  Warga diam.

HAJI AMIR                 : “Kita periksa rumah Esti dan kita tanya dia langsung. Apa dia benar-benar menyembunyikan Juwanda atau tidak?”

JAIMAN                      : “Ya, tidak akan mengaku dong Pak. Kita langsung usir saja dia!”

PAK SANYOTO         : “Pak JAIMAN tolong diam dulu. Biar Abah Amir selesai bicara.”

HAJI AMIR                 :  “Saya katakan kita menanyai dulu, bukan menuduh. Tapi kita harus ke sana bersama untuk mencegah jangan sampai Juwanda lari.”

PAK SANYOTO         : “Saya pikir lebih bijaksana kalau saya yang akan menanyai sendiri. Kasihan dengan Mak Saidah, kondisinya tidak bagus. Nanti bisa terguncang”

HAJI AMIR                 : “Tidak bisa Pak RT. Harus bersama dengan semua warga. Bagaimana kalau Esti menipu. Apa Pak SANYOTO bisa menjamin Juwanda tidak lari.”

Tapi warga tak terima dengan keputusan Pak SANYOTO. Mereka menginginkan agar warga bersama mendatangi rumah Esti. Pak SANYOTO hampir tak bisa mengendalikan lagi. Ia terpaksa harus mengikuti warga kalau tidak warga akan mengancam ke rumah Esti dengan memaksa Esti keluar.

Warga berjalan ramai ke rumah Mak Saidah. Anak muda, perempuan anak-anak ikut semua. Pak SANYOTO berada di depan merasa jengah dengan keadaan yang tak bisa dipimpinnya ini. Ia merasa malu menjadi Pak RT. Ia merasa malu kepada Esti. Tapi tak ada yang bisa ia perbuat sekarang.

ESTI                             : “Biar Esti yang bicara dengan mereka, Mak. Kita harus tenang. Jangan emosi. Kita berdoa saja semua baik-baik saja,”

Terdengar pintu diketuk.

PAK SANYOTO         : “Assalamu’alaikum.”

Esti tak menjawab. Ia sendiri gemetar dengan kedatangan warga itu. Rasanya tengah akan terjadi sesuatu yang buruk. Sebelum membuka pintu, ia berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan. Hasbiyallahu wa ni’mal wakil. Hanya Allah pelindungku.

Pintu akhirnya ia buka separuh. Badannya tetap berada di ambang pintu. Adalah Pak SANYOTO ternyata yang berdiri berlatar belakang sorakan warga yang membahana.

PAK SANYOTO         : “Maaf jika ini mengganggu. Saya utusan dari warga ingin menanyakan sesuatu. Apa bisa Dik Esti keluar sebentar?”

Pak SANYOTO menahan diri bersikap tenang.

Esti sejenak melihat warga yang berteriak-teriak. Ia merasa gentar dan terpaksa menyetujui permintaan Pak SANYOTO.

ESTI                             : “Tapi boleh saya ke dalam sebentar Pak?”

Esti masuk sebentar menitipkan anak-anak pada Mak Saidah itu. Mak Saidah merangkul anak-anak itu dalam pelukan walaupun  yang besar meronta ingin ikut Esti.

Ternyata orang-orang membludak hingga ke jalanan. Pasti ratusan orang yang datang ke rumahnya ini, pikir Esti yang takut jika warga mengamuk merusak rumahnya.

Saat itu juga, entah darimana yang tahu, sebuah mobil stasiun televisi yang kondang terdepan dalam menyiarkan berita, sudah datang ke tempat itu juga. Orang-orang antusias dengan kedatangan mobil stasiun televisi itu. Apalagi saat sang reporter cantik turun dan kamera untuk menyorot kerumunan warga yang ramai itu.

Pak SANYOTO juga tidak tahu bagaimana mobil stasiun televisi itu bisa datang.Ini bukan hal yang mereka rencanakan.

Orang-orang berteriak berbusa-busa. Mulut mereka bagai moncong tembakan yang memberondong sang korban tanpa kasihan. Perempuan berteriak marah sambil mencincing jarit, tak peduli urat malu. Bapak-bapak dengan lagak jagoan maju membusungkan dada sambil mengepalkan tangan, yang lain sambil mengacungkan beragam senjata. Haji Amir dengan memasang muka ganas berjalan di depan mengkomando warga. Jika ia menyuruh berhenti, maka puluhan warga itu berhenti, jika ia menyuruh menyerbu pasti warga akan menyerbu.

 “Gantung Juwanda!”

“Usir Juwanda!!”

“Biang penyakit! Bakar dia!”

Berbagai teriakan kebencian meruap ke udara bersama debu-debu membuat suasana makin gerah. Di dalam rumah Mak Saidah berusaha menenangkan anak-anak kecil itu. Ia mengajak mereka masuk ke dalam kamar, sambil membekap telinga mereka agar tak mendengar sumpah serapah warga.

Pak SANYOTO berusaha menenangkan warga. Ia berteriak lebih keras daripada gemuruh suara warga.

PAK SANYOTO         : “Sedulur sedulur!! Kita ini adalah masyarakat Indonesia yang satu. Kita orang timur yang sopan dan bukan orang biadab. Kita akan bicara dengan baik-baik. Mohon jangan membuat rusuh. Jangan bertindak yang anarki. Kita harus sabar. Jangan seperti orang gila. Mari kita bicara baik-baik. Mari kita sama-sama merembug masalah ini bersama.”

JAIMAN                      : “Sudah terang dia menyembunyikan Juwanda. Kami hanya mau Juwanda. Gantung Juwanda!”

WARGA BANYAK    : “Ya… gantung Juwanda.. gantung Juwanda!!!”

PAK SANYOTO         : “Tenang-tenang saudara…”

WARGA BANYAK    : “Biang kerok teroris. Gantung teroris. Bakar teroris…”

Di sudut lain kamera tivi mulai menyala dan menyorot setap gerakan tangan warga yang mengacung ke udara. Ada pentungan di tangan mereka. Ada yang membawa arit. Ada yang membawa linggis. Benda-benda spektakuler itu pasti akan membuat bergidik para pemirsa tivi, pikir si kameraman menyeringai. Ia senang telah berhasil mendapatkan gambar dramatis. Siaran berita ini akan mendapat rating tinggi.

REPORTER CANTIK : “Dalam hitungan empat kita mulai mengudara,” kata si reporter perempuan cantik itu dengan dingin. Sesaat ia menyempatkan bercermin sebelum ia kemudian memegang mic dan mengulas senyum pada kamera. Sangat kontras sekali dengan situasi kacau yang terjadi. Tanpa empat dan simpati ia melaporkan laporan keadaan di rumah Juwanda Bashri.

REPORTER CANTIK: “Permisa, kami sekarang telah berada di tempat kejadian perkara. Di mana massa sedang mengepung tersangka teroris Juwanda Bashri yang disinyalir berada di dalam rumah itu. Tapi, seperti yang kita lihat, suasana sangat panas dan tegang. Warga serempak bertindak dengan liar dan penuh kemarahan. Pak SANYOTO, selaku ketua RT, nampak sedang mengadakan negoisasi dengan pemilik rumah, yaitu Esti yang merupakan istri almarhum Ali Machmud. Tapi kelambatan negoisasi itu membuat warga tak sabar menuntut agar Esti mengeluarkan Juwanda yang disinyalir disembunyikan di dalam rumah ini.”

Kamera sebentar beralih kepada Pak SANYOTO yang sedang berbicara dengan Esti. Sama sekali tak terdengar bicara mereka. Hanya mimik muka saja. Lalu kamera bergerak dengan cepat ke arah reporter kembali.

REPORTER CANTIK: “Sementara itu di sini hampir tak ada aparat keamanan atau polisi. Jadi kalau sampai terjadi kerusuhan sangat rentan sekali terjadi kerusuhan. Mari kita mewawancarai seorang warga yang ikut dalam demonstran ini.”

REPORTER                 : “Bapak namanya siapa?”

Si lelaki itu menghadap pada si repoter.

WARGA 4                   : “Wardoyo Santosa, Mbak.”

REPORTER                 :“Apa Bapak asli warga sini.”

WARGA 4                   :“Saya memang asli warga sini, Mbak.”

REPORTER                 : “Baiklah Pak, apakah semua warga yang datang ke rumah Juwanda ini mau menangkap Juwanda yang ada disinyalir berada dalam rumah?”

WARGA 4                   : “Ya, benar sekali. Salah seorang warga telah melihat Juwanda di dalam rumah dan akan kami seret keluar untuk diadili.”

REPORTER                 : “Diadili bagaimana, Pak? Apakah bapak bisa jelaskan.” Berhenti sebentar untuk memberi penekanan. “Apakah akan dipukuli dan dihakimi massa?”

WARGA 4                   : “Ya, benar, Mbak.”

Si reporter menyeringai berhasil mendapat point itu.

REPORTER                 : “Kenapa, Pak? Apa karena dia seorang teroris?”

WARGA 4                   : “Ya benar, karena dia teroris, Mbak.”

REPORTER                 : “Jadi teroris harus dihukum oleh massa ya, Pak?”

WARGA 4                   : “Benar Mbak. Mereka membom orang tak bersalah. Membuat negara gonjang-ganjing. Jadi harus diberantas.”

REPORTER                 : “Jadi Bapak selaku warga mendukung pemberatasan teroris.”

WARGA                      : “Ya, Mbak.”

Kamera kemudian beralih kepada kerumunan warga yang marah. Gerakan mereka yang seakan berirama. Tangan yang mengacung ke udara bersamaaan dengan beragam senjata. Mulut-mulut yang membusa dipenuhi teriakan gantung Juwanda. Wajah-wajah marah. Wajah-wajah tokoh penduduk yang siap menghancurkan sang teroris. Hingga kamera kembali beralih pada si reporter.

REPORTER                 : “Begitulah pemirsa. Apa yang kita saksikan dengan langsung ini adalah betapa gambaran kemarahan warga pada pelaku terorisme. Kita bisa merasakan suasana di sini sangat menakutkan. Mari kita lihat perkembangan yang terjadi pada Pak SANYOTO selaku ketua RT yang bernegoisasi hendak mencari Juwanda.”

Kamera menyorot pada Pak SANYOTO. Semakin lama semakin dekat. Warga juga memberi jalan pada kameraman untuk mengambil gambar dengan leluasa. Kadang merasa kamera mengarah pada mereka, tangan-tangan iseng, wajah-wajah iseng ikut bermain agar bisa masuk televisi. Sang kameraman pun paham akan hal itu. Ia tidak langsung merekam gambar Pak SANYOTO tapi sejenak bermain dengan keadaan. Hingga ia pun berhenti pada jarak tertentu untuk mengambil gambar paling dramatis. Tak ada suara. Yang dominan suara teriakan marah warga. Dan di sana dalam kotak persegi itu Esti dan Pak SANYOTO nampak sedang bicara penuh dengan keseriusan. Para pemirsa televisi sengaja tidak dibuat paham agar lebih penasaran.

PAK SANYOTO         : “Saudara.. saudara. Esti mengatakan kalau tak ada Juwanda di tempat ini. Ia bersumpah demi Allah tidak berbohong,”

suara Pak SANYOTO tiba-tiba seakan melambung jelas di kotak imaginasi itu.

WARGA BANYAK    : “Tidak percaya. Pasti bohong. Pasti ada di dalam!!!”

Warga semakin merangsek maju. Mereka memperlihatkan pentungan sambil terus teriak-teriak.

WARGA BANYAK    : “Ayo kita seret dia!!!”

Pak SANYOTO menghela napas, berusaha menenangkan diri juga berusaha menenangkan Esti. khawatir Esti pingsan karena ketakutan.

ESTI                             : “Bagaimana ini Pak? Mereka akan mengamuk. Saya minta tolong. Kasihani kami.”

Esti hampir menangis.

PAK SANYOTO         : “Tenang Dik. Saya juga berusaha menahan mereka.”

ESTI                             : “Tapi mereka makin lama tidak bisa diatur Pak. Mereka semakin kalap, sudah tidak seperti manusia lagi.”

PAK SANYOTO         : “Begini saja Dik. Kita harus buat keputusan. Misalnya kalau benar Juwanda tidak ada di dalam, kita jangan takut.”

ESTI                             : “Apa maksudnya Pak? Demi Allah saya tidak bohong!”

PAK SANYOTO         : “Makanya itu kita akan suruh salah dua warga untuk masuk dan menggeledah rumah. Kalau mereka benar mendapati Juwanda terpaksa kita akan membawa Juwanda. Tapi kalau tidak ada, kita bisa mengusir mereka agar pergi, atau setidaknya kita punnya alasan kuat.”

ESTI                             : “Tapi memang benar tidak ada, Pak.”

PAK SANYOTO         : “Tak ada pilihan. Hanya jalan itu yang mungkin kita lakukan.”

Esti hampir menangis. Ia terpaksa setuju.

PAK SANYOTO         : “Saudara-saudara kita diperbolehkan masuk dan menggeledah rumah. Tapi jangan membuat kerusakan. Kalau Juwanda tak ada, kita akan pulang ke rumah masing-masing. Tapi kalau benar ada kita bersama-sama akan membawa ke kantor polisi.”

Kedua orang yang sudah masuk membuka semua pintu kamar. Kamar Mak Saidah dibuka. Tak ada orang. Kamar Esti dibuka juga. Ada Mak Saidah dan tiga anak kecil yang ketakutan di dalam. Pak SANYOTO segera menutup pintu itu kembali. Dua warga itu melihat Pak SANYOTO dengan pandangan tidak senang. Mereka kemudian bergerak ke dapur. Tangan sudah siap memegang pentungan, serupa betul hendak mencari maling.

WARGA 5                   : “Tidak ada di dapur.”

WARGA 6                   : “Cari di kamar mandi!”

WARGA 5                   : “Apa sudah ada yang jaga di luar? Jangan sampai dia lari!”

WARGA 6                   : “Tidak akan lari. Tapi jangan-jangan dia sembunyi dalam sumur. Pernah ada maling yang sembunyi dalam sumur, dan dia tidak ketangkap!”

Orang itu segera berlari keluar ke belakang. Di sana ia memerintahkan warga untuk melongok ke dalam sumur, siapa tahu Juwanda sedang bersembunyi di sana.

WARGA 5                   : “Di sini tidak ada.”

Kedua orang itu dengan raut muka kecewa terpaksa keluar dari rumah Esti. Pak SANYOTO di belakang mereka. Di hadapan warga yang tak sabar menunggu Pak SANYOTO segera bicara.

PAK SANYOTO         : “Saudara semua yang saya hormati, sudah diperiksa dan nol besar! Tak ada Juwanda di rumah ini. Kita harus legawa. Jangan membuat kerusuhan. Sudah saatnya kita bubar.”

Pak SANYOTO menatap Haji Amir.

PAK SANYOTO         : “Mari kita pulang. Sudah terbukti dugaan kita keliru dan salah.”

WARGA BERSORAK, “Huuuuuuuuuuuuu.”

Mau tak mau satu persatu warga bubar. Pak SANYOTO merasa lega sambil menenangkan Esti yang masih gemetar.

PAK SANYOTO         : “Sudah aman, Dik. Mereka masih mau mengerti. Sebenarnya mereka marah karena tidak tahu saja. Maafkan kami.”

Pak SANYOTO mencoba menyelami perasaan kemanusiaan Esti.

Esti tak menjawab. Ia masih gemetaran. Walaupun ia juga melihat kebenaran perkataan Pak SANYOTO Di mana warga mulai keluar dari halaman satu persatu.

PAK SANYOTO         : “Tidak apa sekarang. Semua sudah aman. Temuilah anak-anakmu.”

ESTI                             :    “Terima kasih sekali lagi, Pak.”

Pak SANYOTO menghampiri kru kamera televisi yang masih berada di tempat itu mengambil gambar dengan bersemangat. Hanya mereka seakan-akan paling beruntung dengan kejadian ini.

PAK SANYOTO         : “Mas, tolong hentikan! Jangan siarkan berita ini, karena akan memecah belah persatuan kami.”

Si reporter mengedip kepada si kameraman. Kamera pun diturunkan. Mereka undur diri lalu masuk ke dalam mobil, dengan tenang, dan di dalam mobil tersenyum menyeringai karena berhasil mengambil rekaman yang menentukan.

PAK SANYOTO         : “Tolong pergi dari kampung ini. Kami tidak mau berita ini malah membuat rusuh warga nanti.”

Setengah teriak Pak SANYOTO walaupun tak didengar mereka karena semua jendela sudah ditutup rapat.

Mobil pergi dari halaman. Esti mengucap terima kasih sekali lagi pada Pak SANYOTO. Pak SANYOTO mengangguk dan ia yang terkahir kali pergi dari rumah Esti setelah semua dipastikan aman.

 

gambar dari sini

Bagian I (Satu)

NARATOR

PROLOG

Terletak di lereng Gunung Lawu, jauh di bawah naungan awan-awan putih bulan Mei, desa Kebon Agung yang damai dan tenang, Di mana jumlah pemukiman penduduk masih jarang tak selebat tetumbuhan dan pepohonan yang lebih banyak dari jumlah populasi penduduk itu sendiri, bahkan sampai bertahun-tahun ke depan, yang semoga tetap tak ada pengembang perumahan sialan singgah ke rumah-rumah mereka sambil memamerkan uang pecahan ratusan ribu, yang akan membuat para lelaki ngiler dan menjual aset mereka.

Namun sepertinya kenyataan tak selalu tepat seperti yang kita bayangkan. Siapa sangka ketenangan itu terkoyak setelah tersiar kabar salah satu penduduk warga kampung Kebon Agung yang bernama Ali Machmud, anak janda Mak Saidah, menjadi tersangka teroris. Ali dinyatakan terlibat kelompok Islam radikal di negeri ini yang hendak mendirikan Negara Indonesia Islam atau disingkat NII. Seperti yang disiarkan di televisi, upaya Ali Machmud untuk mengebom sebuah gereja berhasil digagalkan polisi anti teror. Ali tewas di tempat kejadian perkara, dengan sepuluh peluru bersarang di tubuhnya. Pun ketika jenasah Ali Machmud hendak dikuburkan di pemakaman kampung warga Kebon Agung beramai-ramai menentang. Mereka menolak pemakaman desa dikotori jenasah seorang teroris. Tak peduli walaupun Mak Saidah, Ibu dari Ali Machmud mengiba dan memohon kepada warga agar jenasah Ali boleh dikuburkan di pemakaman kampung. Semata agar Mak Saidah dekat ketika berziarah ke kubur putranya, atau jika merasa kesepian dapat mudah bicara dengan Ali, meskipun sekedar hanya akan menjadi pembicaraan sepihak saja karena Ali sudah mati, atau hendak mencurahkan rasa hati Mak Saidah yang ingin menyusul mati anaknya karena kehidupan di dunia sama menyedihkannya.

Tetapi masyarakat Kebon Agung tetap tak peduli. Mereka tetap membuta hati. Penolakan itu menjadi harga mati. Mereka tidak mau pemakaman mereka yang baik-baik dikotori bangkai seorang teroris yang bisa menyebabkan kesialan dan bala bagi masyarakat. Kedukaan dan kesedihan itu menyebabkan Mak Saidah terguncang jiwa dan psikis. Ia sering meraung sendiri dan memaki-maki para warga yang selintas di depan matanya. Mak Saidah kini dirawat sendiri oleh menantunya, Esti, istri almarhum teroris Ali Machmud.

Begitulah nasib Mak Saidah dan sang menantunya yang malang. Masyarakat setengah hati menerima diri mereka. Para warga sendiri juga takut kalau dikatakan tidak berperikemanusiaan kalau mengusir mereka. Mereka hanya bisa mengularkan desas desus ke tetangga kanan kiri tentang janda Ali yang akan balas dendam kepada warga dan saat ini sedang merakit bom besar di rumah. Kegelisahan itu ditularkan secara berantai, menyimpan ketegangan dan menyembunyikan bara di dalam sekam.

NARATOR:

Sementara itu di warung Legiman ramai orang berkumpul. Para petani yang habis mengaso dari sawah. Para pedagang yang pulang dari pasar. Pemuda pengangguran yang suntuk terus menerus berada di rumah. Terasa nikmat mengaso sambil ngobrol ngalor ngidul tak tentu juntrungannya dengan teman di tengah hari yang panas seperti ini. Kadang disela bumbu humor mesum atau menggunjing sana sini yang menjadi ciri khas obrolan di warung. Namun siang itu mereka kehilangan obrolan mesum itu karena kehadiran Haji Amir. Alih-alih obrolan itu terasa tegang. Tak ada tawa terbahak-bahak seperti biasa. Topik obrolan mereka si janda Ali makin hari makin tenar jadi rasanan[1] warga kampung Kebon Agung ini.

 

HAJI AMIR                 : “Juwanda sampai sekarang masih menjadi buron polisi. Aku yakin dia tetap akan pulang untuk balas dendam kepada kita. Kita harus meningkatkan kewaspadaan. Jangan segan-segan lapor polisi. Polisi-polisi itu lebih suka menangkap teroris daripada koruptor. Kalau berhasil menangkap teroris pangkat mereka segera melejit naik dan bonusnya luar biasa.”

JAIMAN (WARGA 1)     : “Tapi, apa mungkin si Juwanda itu masih berani pulang kembali ke desa ini, Bah? Barikade polisi ada Di mana-mana. Sudah pasti ia ketakutan, tidak mungkin pulang.”

HAJI AMIR                 : “Jangan salah! Orang seperti mereka didoktrin untuk menjadi teroris hingga mati. Kalau mati akan mati syahid! Jadi mereka pilih mati daripada hidup. Lebih banyak kemungkinan dia akan datang daripada dia menyerahkan diri. Karena itulah kita harus waspada.”

Orang-orang sama-sama mengangguk. Membayangkan di benak mereka suatu hari Di mana ada bom meledak di tengah kampung atau saat warga berkumpul di balai pertemuan desa. Daging manusia berhamburan pecah karena bom. Orang-orang menjerit tunggang langgang. Si jago merah melalap rumah-rumah desa. Lalu desa dipenuhi tangis kanak-kanak yang jadi yatim dan para perempuan yang jadi janda. Bayangan-bayangan itu begitu mengerikan. Sementara di atas kengerian itu seorang perempuan berjilbab hitam tengah terbahak-bahak di atas pemandangan itu.

HAJI AMIR                 : “Ya, aku sudah peringatkan Pak RT soal itu agar ia segera bertindak. Kalian harus desak dia juga,” lanjut Haji Amir yang senang melihati reaksi warga mendadak pucat semua.

JAIMAN:                     “   Ya Bah, kalau begitu kita suruh Pak RT untuk mengusirnya saja,” sahut Jaiman yang mulai dijangkiti ketakutan suatu saat kampung Kebon Agung ini akan diledakkan dengan bom oleh janda Ali. Bahkan suara yang awal mulanya sepihak itu mulai diikuti yang lain.

WARGA BANYAK:       “Ya… ya.. harus diusir…”

LEGIMAN                   : “Tapi apa tidak kasihan? Keadaan keluarganya sekarang itu kan masih susah?” tiba-tiba Legiman memotong aklamasi itu.

Haji Amir jadi mengernyitkan dahi tidak senang.

HAJI AMIR                 :  “Kasihan itu harus pada tempat yang tepat. Mana mungkin kita harus kasihan dengan teroris.”

LEGIMAN BERPENDAPAT SETENGAH MEMBELA:

“   Masalahnya yang jadi teroris itu kan si Ali. Sedang bininya itu belum terbukti.”

JAIMAN                      : “Ah, istri kan pasti sepaham dengan suami. Artinya suami teroris istri pasti teroris.”

Warga ikut mengaklamasi omongan Jaiman itu, sang bujangan paling lapuk di kampung Kebon Agung ini. Legiman kalah suara. Ia sendiri merasa kasihan dengan Mak Saidah dan cucu-cucunya itu kalau mereka benar jadi diusir dari kampung. Di mana mereka akan tinggal? Siapa yang mau ngurus mereka? Siapa yang akan ngasih mereka makan? Tidak mungkin warga yang lain yang mereka tempati mau menampung mereka.

HAJI AMIR                 :  “Aku sarankan untuk mendesak Pak RT agar mengusir perempuan itu sebelum mara bahaya yang besar akan datang pada kalian. Aku akan terus pantau perkembangan ini.”

Orang-orang sepeninggal Haji Amir ternyata masih betah melanjutkan obrolan tentang janda Ali.

JAIMAN                      : “Kenapa sih jilbab yang ia pakai harus warna hitam? Apa cuma warna itu yang dia punya?” Jaiman yang paling getol bergunjing buka suara.

WARSO (WARGA 2) “Siapa tahu daleman yang dia punya juga hitam.”

Semua ikut tertawa.

JAIMAN                      : “Kecil gitu sudah punya tiga anak. Brindil seperti kelinci saja.”

Tertawa.

LEGIMAN                   : “Ah, kerjaan kalian ngomongi urusan orang melulu. Pikir urusan kalian sendiri. Sawah kalian yang kena wereng itu! Nggak usah nyampuri urusan orang lain.”

WARSO                       : “Ah, daripada diem nggak ada yang diomongin. Kan warung kamu jadi tambah gayeng. He hehe..”

Tetapi tiba-tiba suara ketawa mereka berhenti dan menengok pada arah jam sembilan. Tampak seorang perempuan berjilbab hitam besar membawa tas datang ke arah mereka. Seketika suasana hening.

JAIMAN                      : “Tampaknya mau ke warung,” Jaiman lirih. “Mau apa? Bawa tas besar lagi!”

WARSO                       : “Masak bawa bom. Ya, pasti mau beli apalah gitu. Ini kan warung.”

JAIMAN                      : “Panjang umur benar. Baru saja diomongi benar-benar muncul,” yang lain ikut menimpali.

Saat perempuan berjilbab itu datang, yang tak lain adalah Esti, semua terdiam. Hanya Legiman si pemilik warung yang menyapa wajar.

ESTI                             : “Assalamu’alaikum…”

Esti tenang dan wajar meski semua pandangan menuju ke arahnya.

LEGIMAN                   : “Wa’alaikum salam…”

ESTI                             : “Ini Pak, saya mau nitip kue bolu kukus apa bisa? Kebetulan saya yang buat sendiri.”

LEGIMAN                   : “Oh, boleh. Dijual berapa ini?”

ESTI                             : “Saya jual ke Bapak tiga ratus rupiah. Kalau dijual lima ratus.”

Pak Legiman menimbang kue-kue kecil itu.

LEGIMAN                   : “Ini titip ya? Bayarnya nanti belakangan kalau laku.”

ESTI                             : “Ya, Pak. Besok saya akan datang lagi.”

Kemudian perempuan berjilbab besar itu pamit pergi. Orang-orang berhela napas. Suasana jadi kembali ramai.

JAIMAN                      : “Jangan-jangan kue bom.”

LEGIMAN                   : “Emang mau ngebom kepala kamu yang botak itu!” “Kelihatannya sih enak. Silakan coba!”

WARSO                       : “Ah, nggak ah..”

LEGIMAN                   : “Jangan takut. Ini kue bukan bom! Kalian masih punya mata sehat kan?”

Legiman mencoba kue bolu kukus kecil itu. Ia sejenak mengernyit. Orang-orang jadi penasaran.

LEGIMAN                   : “Wah, bener enak kok. Kuenya lembut dan manisnya pas. Aku yakin kue ini tidak pakai pemanis sacharin.”

Legiman mengangguk-angguk meyakinkan yang lain. Tanpa ragu ia mengambil satu lagi mengunyah di hadapan para pengunjung yang malah jadi menonton.

WARSO                       : “Beri nama saja Kue Teroris biar laris.”

Orang-orang tertawa.

WARGA 3                   : “Wah, memang bener enak.”

LEGIMAN                   : “Benar kan?”

WARSO                       : “Berapa harganya?”

LEGIMAN                   : “Lima ratus aja.”

WARGA 3                   : “Tadi si doi bilang tiga ratus.”

LEGIMAN                   : “Beli ke rumahnya sana kalau mau tiga ratus!”

JAIMAN                      : “Pintar buat kue bolu ternyata si janda Ali itu.”

LEGIMAN                   : “Ya, dia terpaksa harus buat kue. Dia kan harus nanggung makan tiga anak ditambah Mak Saidah yang kurang waras itu.”

JAIMAN                      :    “Kasihan juga dia.”

WARSO                       :  “Ini salah Ali sendiri. Kenapa malah mencelakakan keluarganya dengan jadi teroris.”

WARGA 3                   : “Iya, gara-gara ulahnya yang lain jadi sengsara.”

LEGIMAN                   : “Sudah, yang sudah mati jangan diomongin lagi.”

Kemudian orang-orang diam. Menikmati waktu yang mulai bergeser pelan ketika cahaya matahari mulai bergeser condong ke barat. Satu persatu orang kembali ke rumah masing-masing sambil membawa caping dan cangkul mereka. Legiman sendiri tetap di warung sambil menikmati kue bolu yang para warga namakan Kue Teroris itu.

[1] Rasanan, Jawa, gosip.

gambar dari sini

Naskah Drama “MARTIR” Karya Andri Saptono (Prolog)

PEMERAN:

HAJI AMIR:

Seorang haji yang tambun. Kepalanya botak di depan dan belakang. Guyonan anak muda, kalau botak depan dikatakan sebagai botak seorang pemikir. Tapi kalau botak di belakang adalah botak orang pintar. Kalau begitu botak kedua tempat, dia berpikir dirinya pintar.

Haji Amir adalah tetua masyarakat di kampung ini. Ia seorang kaya yang mempunyai sawah berhektar-hektar di sebelah utara desa. Sudah empat kali ia naik Haji ke Mekkah. Tahun ini ia sudah mendaftar untuk umroh lagi. Haji Amir yang dulu pensiunan Kepala Depag ini yang mengaku seorang yang anti poligami, kabar terakhir ia menikah siri dengan seorang perawan di kampung sebelah dengan alasan ingin menolong gadis itu dari jerat kemiskinan. Tapi orang tak lantas percaya begitu saja pada niat baik Haji Amir. Semua sudah mahfum kalau memang seharusnya Haji Amir itu beristri lagi, karena istrinya galak bukan main.

Begitupun, semua keputusan penting di kampung kalau tidak mendapat persetujuan atau restu Haji Amir, harus siap-siap dikaji ulang dan bahkan bisa dibatalkan.

PAK RT SANYOTO:

Seorang duda. Punya anak dua (kuliah di luar kota). Seorang yang senang berpakaian bersih dan ramai. Selalu memakai pomade biar rambutnya rapi.

LEGIMAN:

Pemilik warung. Orangnya dikenal baik dan suka menolong. Tapi, malangnya warungnya sering dipakai ghibah orang-orang.

JAIMAN:

Salah seorang warga yang di warung paling suka obrolan mesum.

WARSO:

Biasanya ngopi dengan JAIMAN. Jika ada WARSO pasti ada JAIMAN. Begitu setiap harinya. Mereka buruh serabutan.

ESTI:

Janda teroris yang telah dibunuh oleh polisi. Punya anak 2 dan mertua yang sakit jiwa karena anaknya meninggal. Bahkan, meninggalpun ditolak kuburnya oleh masyarakat. Hal terakhir ini yang membuat ia stress hingga menjadi seperti sekarang ini. ESTI yang merawat mertuanya yang sakit ini. Tetapi sebagai istri teroris ia pun kerap dicurigai masyarakat. Jangan-jangan ia akan membalas dendam dengan mengebom dirinya sendiri di tengah kampung.

 

 

Wabah

“Anak turun iblis…..! Pembawa bencana!!

“Minggat dari desa ini. Jangan kotori desa ini!!!” teriak warga menyakitkan dan membakar hati Atmo Kanjeng. Sekitar duapuluhan warga berada di halaman semua membawa berbagai macam senjata – pentungan, linggis, parang, hendak mengusir keluarga Atmo Kanjeng yang mereka anggap menularkan wabah baru yang melanda desa Kebonagung itu.

* * *

“Tenang, pak.. Sareh…

“Bagaimana bisa sabar, lihat saja kerumunan manusia yang membawa parang, linggis, pentungan yang mau menistakan kita itu, bu!”

Atmo Kanjeng meraih parangnya yang diselempitkan di dinding. Ia tak akan gentar menghadapi mereka. Masa lalunya sudah kenyang dengan pengalaman berdarah di masa revolusi dulu.

“Mau kemana pak? Jangan nekat dulu. Semuanya tak akan selesai dengan kekerasan!.” Istri Atmo Kanjeng mengganduli lengan suaminya. Ia tak berharap suaminya mati konyol diamuk warga.

“Mereka akan mengira aku takut! Tidak bisa dibiarkan lagi!”

“….ingat anak kita yang sakit pak!” Lanjutkan membaca

Elegi Seorang Pecandu Buku

Aisyah adalah seorang pecandu buku. Seisi rumahnya penuh dengan buku. Pernah tetangganya bilang, rumahnya adalah yang paling rentan kebakaran satu komplek ini. Pasalnya, semua dinding dari ruang tamu hingga kamar mandi tak luput dari rak buku.

Aisyah terkekeh. Ia menganggap itu sebagian pujian.

Ya, semua buku itu adalah koleksinya dari sejak ia SD. Sampai usianya yang 29 akhir tahun ini, nyaris setiap bulan tak pernah absen belanja buku. Baginya belanja buku adalah kehormatan[1]. Bahkan ia berharap keluarganya akan menjadi keluarga percontohan pecinta buku di perumahan ini. Begitu harapannya sering ia katakan kepada Zain, sang suami. Aisyah ingin Bilqis kecil yang baru berumur 8 bulan itu sudah mewarisi ilmu mengarsip Dewey[2] sejak dini.

Zain tertawa saja dengan bualan Aisyah. Tapi, memang saat ini impian Aisyah itu tampaknya harus bersabar dulu. Pasalnya Zain belum mencintai buku seperti dirinya. Ya, Zain lebih senang dengan hal-hal yang praktis, semisal mesin dan komputer. Dan memang suaminya adalah orang bengkel. Pun bengkelnya yang berada di jalan Purwosari ini sangat sukses karena kerja keras dan keuletan Zain.

Tetapi, terkadang Zain suka mengkritik Aisyah yang suka menghabiskan waktu seharian dengan buku dan ‘sedikit melupakan’ si Bilqis. Jika hal ini terjadi sindiran tajam dari Zain akan beruntun menyerangnya tanpa ampun.

Aisyah terkekeh saja menimpali kekesalan suaminya. Menurut Aisyah, Bilqis itu juga menyukai buku seperti dirinya. Buktinya ia sering melihat Bilqis yang baru berumur beberapa bulan itu suka menggigit-gigit buku atau kertas brosur di meja. Ah, kecilnya suka menggigiti buku, kalau besar jadi seorang kurator atau kritikus buku, pikir Aisyah.

“Aku ingin punya juga anak lelaki yang menuruni bakatku. Aku ingin mewariskan bengkelku itu nanti pada anak-anakku.” Lanjutkan membaca

Hujan Bulan Desember

Hujan tak berhenti turun sejak semalam. Genangan air di halaman makin meninggi. Alamat mungkin selokan di depan rumah meluap. Namun yang merisaukanku bukan tentang kemungkinan banjir di komplek perumahan jika hujan deras di bulan-bulan Desember seperti ini. Adalah rasa dingin dan senyap yang dikirimkan oleh hujan. Perasaan tidak nyaman. Kesendirian yang berat. Harapan-harapan yang tersangkut dalam jaring laba-laba besar karena kepala memikirkan banyak hal sekaligus.

Aku tak berencana untuk mengakhiri kenestapaan ini. Sebagai penulis kurasa memang aku telah terbiasa menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan. Ini berlangsung lebih dari lima belas tahun. Karya tulisan lebih banyak yang tersimpan di komputer daripada dimuat di media massa. Alih-alih beberapa hal yang menyenangkan bukan datang dari riwayat penulisan itu sendiri. Tetapi, aku tak hendak menceritakan bagaimana detail soal itu. Kau akan memahami hal ini jika melakukan seperti aku lakukan. Seperti orang tuaku yang tak paham dengan hidupku yang lebih memilih sebagai penulis.

Mereka mengeluh tentang hidupku yang tak keruan. Mereka meminta aku agar memilih pekerjaan yang bagus. Sebuah pekerjaan yang benar-benar bisa membuatku hidup mapan. Mereka akan melakukan apa saja untuk itu. Siap membantu koneksi dan tetek bengek lainnya.

Namun, sebenarnya mereka sedang membuat tembok yang tinggi denganku. Sebuah hal kesia-siaan yang tak menyenangkan. Jadi inilah kesepian yang bertambah dibawa oleh hujan. Membasahi hatiku. Menenggelamkanku dalam kerisauan yang kejam. Terkadang rokok dan minuman yang masuk ke dalam lambungku seakan hanya sebuah pelarian sekilas. Hampa dan tak bermakna. Toh, ia tak akan bisa mengubah apapun. Atau taruhlah orang tak seharusnya bergantung pada dua hal ini: rokok dan minuman. Lanjutkan membaca

Boneka Bobby 13

Aku masih sering mengingat adegan itu sambil tertawa: sebuah sepeda motor vario 125 cc yang ditumpangi Bobby B13 berwajah Chuck Norris, Pakdhe Thayib dan anaknya yang sekolah di Madrasah Ibtidaiyah terbang ke blumbang lele yang ada di depan rumah mereka. Sialnya, Chuck Norris yang duduk di depan memang tidak bisa melihat dan tidak bisa menyetir yang menjadi pangkal persoalan itu. Sebabnya Chuck Norris hanya sebuah boneka karet sintetis yang mirip manusia dengan tulisan “Made In China” tepat di atas di pantatnya.

Aku melihat dari teras rumahku saat adegan kecelakaan itu berlangsung sukses. Jelas aku ingin menolong mereka. Saat aku tiba di sana, pakdhe kulihat berdiri di tengah blumbang yang airnya sedengkul berwarna coklat kotor karena itu memang kolam lele. Anaknya, si Rudi, malah tertawa dan bercerita kalau dia baru saja terbang bersama Chuck Norris. Emaknya, berteriak-teriak tidak karuan dan hampir menangis. Segera emaknya ikut nyemplung ke kolam, meraba-raba anaknya. Setelah yakin anaknya aman, tidak kurang suatu apapun, ia langsung menyemprot suaminya,

“Bapak ini gimana, masak jalan selebar itu bisa nyemplung ke blumbang? Naik motornya apa sambil merem sih?”

“Ndak, Bu. Yang di depan bukan Bapak tetapi Chuck Norris,” Rudi yang belepotan lumpur menjelaskan.

“Ah, bapakmu itu sudah sinting. Sejak dia ikut-ikutan beli boneka itu, dia makin tambah aneh-aneh. Masak boneka diajak naik motor. Malah ditaruh di depan. Untung saja tadi tidak nggambul gapura di jalan.”

Dan istrinya masih nyemprot macam-macam. Aku perhatikan drama keluarga itu sambil mesam-mesem. Kulihat Pakdhe hanya diam melihat keadaan Chuck Norris yang tenggelam dengan wajah di dasar lumpur dan kaki yang terangkat ke atas. Pakdhe lantas mengangkat kaki Chuck yang nyembul itu lalu ia seret ke daratan. Tetangga yang ternyata banyak berdatangan malah ikut tertawa. Lanjutkan membaca

Rahasia Ilmu Kentut Wangi

Rahasia ilmu kentut wangi konon adalah sebagian rahasia jalan suci. Tidak semua orang sakti bisa mendapatkan karomah ini, apalagi sekadar orang yang mengaku-ngaku suci.

Bambang Gentolet sebagai seorang calon bupati yang ingin menang di pilkada tahun ini ingin mencari lambaran bagi dirinya. sudah menjadi kali ini ingin ngangsu kawruh mendapatkan karomah kentut wangi. Gurunya, Syekh Kirdun, adalah seorang manusia yang mempunyai karomah kentut wangi ini. Bambang bertekad ia harus bisa mendapatkan karomah ini. Masalahnya juga adalah ia sering ngentutan ketika duduk lama atau ketika gugup. Dan ini semua tak bisa ia hindari kalau berniat untuk mencalonkan diri menjadi bupati kota Bulak Adem ini.

Bambang sendiri sebagai cabub sudah menguasai sebagian ilmu kanuragan. Dari ilmu kebal senjata tajam, ilmu lebu sekilan, dan dasar-dasar ilmu hipnotis, dan ilmu semar mesem. Tujuannya agar ia ketika bicara di depan orang banyak, atau ketika bicara dengan masyarakat, ia lebih percaya diri dan perkataannya bisa diterima oleh masyarakat. Singkatnya, semua ilmu untuk lambaran menjadi seorang calon bupati ia sudah miliki. Bahkan, ia yang getol belajar ilmu ini sejak ia remaja semua ini bisa ia ditempuh dengan mudah. Tetapi, ilmu kentut wangi adalah puncak dari ilmu segala ilmu. Di pulau jawa ini hanya Syekh Kirdun yang mendapatkannya. Jadi, bayangkan, satu pulau hanya satu manusia saja yang mempunyai karomah kentut wangi.

Syekh Kirdun sendiri, tentu juga bukan manusia biasa. Dari namanya saja, tidak semua orang biasa mampu menyandang nama seperti itu: Kirdun atau monyet. Kalau mau digamblangkan orang akan menyebutkan Syekh monyet. Tetapi, begitulah Syekh Kirdun tak pernah berkeberatan dipanggil Syekh Kirdun alias Syekh monyet. Lanjutkan membaca

Tuna Sathak Bathi Sanak

Saiki Solo tambah ‘syumuk’, luwih sumuk tinimbang taun winginane. Biyen aku ngomah ana ing celak bon raja Sriwedari, pase neng mburi Sriwedari, yaiku kampung Kebonan. Lagi telung tahun wingi aku pindah Karanganyar jalaran melu bojo. Saiki aku wis dadi ‘Mahmud’ alias Mamah muda. Anakku  lanang siji, umure lagi setahun. Mulane kuwi yen nginep sewengi ana Solo, anakku gampang banget rewel. Jalarane ya kuwi, Solo saiki sansaya gerah lan kemranyas hawane.

Pancen sumuke Solo saiki wis kaya Jakarta wae. Mula sebabe uga padha, akeh bangunan dhuwur sing dibangun, penghijauan kota tambah suda lahane, malah sing tambah ngrembaka hotel-hotel modern sing sajakke minim lan kurang nggatekne lanskap ijo, alias green land ngono kae.

Mulane kuwi, Mamah sing isih betah neng Solo, tak bujuk-bujuki pindah wae neng Karanganyar. Omah Solo didol. Payune mesti dhuwur. Mamah uga sambat. Pajak PBB wae nganti 2 yuta. Padahal Mamah kuwi dudu pensiunan tur wis ora cekel gawe. Mung ngandalke saka usaha kos-kosan. Sansaya suwe ragat urip neng Solo ya tambah akeh. Lha wong mburi Sriwedari termasuk kampung ana tengah kutha.

“Yen rega omah karo lemah neng RT sisih wetane dhewe, sing jembare padha omahe dhewe iki, wingi payu 1 milyar, Ri.”

“Rata-rata semono payune, Mah. Lumayan yen diijolke neng Karanganyar wis entuk pekarangan sing amba. Turahane iso kanggo usaha.” Lanjutkan membaca

Elegi Cinta Aku, Kau, dan Dia

dimuat di Antologi Cerpen Guru Balai Bahasa Jawa Tengah

Aroma parfummu masih tertinggal di bantal ini. Mengekal di ruang kamar yang tak sepenuhnya engkau tinggalkan benar. Hanya terdengar tik tok jam dalam keheningan tunggal tatkala kumembuka mata pagi ini. Rasa kopi yang masih pula tertinggal di bibirku dari tiga gelas cangkir kopi yang kau seduhkan semalam, yang kutandaskan dalam perbincangan kita tentang novel Sandra Cisneros itu.

Sedetik ini aku ingin menelponmu. Mengatakan sebuah lintasan pikiran tentang novelis kenamaan Amerika latin itu. Tapi tatkala kuraih handphone di tempat ia seharusnya berada, ternyata tempat itu kosong.

“Aku mau membelikan sandal yang baru buat Kasyfa besok,” ujarmu semalam. “Aku ingin mengajaknya ke pasar Beringharjo. Mengajaknya melihat-lihat suasana pasar tradisional.”

“Menurutku itu ide menarik. Pasar tradisional harganya murah dan kualitasnya tak kalah.”

“Tidak, sebenarnya bukan soal itu. Aku ingin mengajaknya melihat kerumunan orang biasa. Biar ia merasakan kebersamaan dengan mereka. Aku ingin Kasyfa kelak selalu hadir bersama orang-orang kecil.”

Aku selalu terpukau dengan perkataanmu. Sesuatu yang unik dan tulus selalu muncul dari dalam hatimu. Lanjutkan membaca