Arsip Bulanan: Oktober 2009

Tikus Nggrudug Omah

tikus

Kajate Heni karo garwane ngedegne omah dhewe saiki wis klakon tenan. Omah kuwi ora gedhe magrong-magrong kayata loji gandrung sing kerep ditonton aneng sinetron-sinetron tv kae. Nanging, Heni tetep syukur alhamdulillah, saikine wis bisa mentas ngedegne gubug dhewe, ketimbang biyen isih numpang maratuwa. Heni rumangsa tenan, umpama nggandul maratuwa ngono arep ngapa-ngapa ora bebas.
Sakjane, babagan omah anyar kuwi mau wis cukup bisa kanggo bungah atine Heni lan garwane. Malah dhek acara boyongan pindah omah kae Heni ngundang tangga teparo ngiras acara syukuran. Nanging ndilalah, yen wong urip kuwi kebak panggone masalah, lha kok ngepasi wae neng omah anyare kuwi ana perangan sing mesthi gawe gidhu lan anyel atine Heni, ya kuwi bedhes-bedhes tikus sing ora dinyana-nyana saka ngendi asal papan dununge, lha kok melu boyongan pindah menyang omahe Heni. Lan tumekané bedhes-bedhes tikus mau ora trima siji baka siji nanging grudugan, sak brayat dijak kabeh. Lanjutkan membaca

Ngoyak Maling Sekti

Ngoyak Maling Sekti
dimuat di Littera Taman Budaya Jawa Tengah
Kliwat tengah wengi pedhute sansaya kandhel ngemuli lurung desa Pondok sing sepi nyenyet persis kuburan. Genah wayah mene mokal ana manungsa saba. Nanging, ing cakruk isih katon ana sijineng menungsa kliyekan durung turu amarga jaga rondha. Kancane sing loro wis angler turu ora ana baneke swara. Sakjane dheweke uga krasa ngantuk banget. Mripate wis kethal-kethil ora bisa melek amba maneh kari limang wattan. Udude sing wis cendhek isih nekad terus disedot kanggo ngangetke cangkem ben ora kademen. Gelas-gelas kopi kari ampas pating glethak wis metu mbune. Sambene liya sakwise kopine kari ampas saiki ganti nyebleki jingklong yen pas nyokoti tangan utawa pipi.
Plek! Plek! Plek!! Ping telu banter suarane tangane sing kebak kapal kuwi nyablek pipine sing dicokot jingklong.
“Tanjir!” pisuhe Paijo, nom-noman rondha mau karo grayaki jingklonge sing luput. Pipine dhewe sing kena tabok dadi ngecap driji lima abang. Genah larane.
Lelakone wong rondha telu mau ora amarga ora ana jalarane. Meh sesasi iki, desa Pondok wis kaping pindho disatroni maling. Omahe pak bayan lan bu Jimin klakon dibabah maling. Bandha donya mas-masane bu Jimin sing ana lemari digondol ilang sak kotak-kotake. Dene pak bayan, dheweke kelangan wedhuse loro sing ana kandang. Lanjutkan membaca

Kentir

Dimuat di Jagad Sastra Harian Solo Pos
kentir
Adzan luhur nggugah lamunane Sanyoto. Leren sik saka gaweyan sing lagi dilakoni kuwi, sampah plastik sing deweke pilihi lan banjur dikumbah, sing arep di dol neng papan daur ulang.
Sakjane iki wayah ngaso, nanging ing benak Sanyoto kok rasa-rasane ora pingin ngaso. Ora wayah nyambut gawe ora wayah ngaso, raine ayu Sunarti terus kumlebat. Ngarep-arep deweke enggal ngrampungi gaweyan ngresiki sampah plastik kuwi lan enggal di dol. Sak kilogram sampah plastik payu sewu rupiah. Yen saben dina entuk limalas kilo, rak yo lumayan. Malem minggu yen duwite wis mlumpuk iso mampir neng warunge Sunarti.
Pikirane Sanyoto terus mlaku. Kandhane kanca-kancane, dheweke wis wayahe rabi. Umure wis pas nduweni bojo. Ora enom banget lan ora tua. Ora apik wong lanang rabi suwe-suwe, arep ngenteni apa maneh? Dadi pakane setan, kanda kanca-kancane sak profesi. Lanjutkan membaca

Sang Paranormal

dimuat di solo pos 18 Oktober 2009
dukun1
Sang paranormal muda yang tampan dan berwajah jernih itu, Bayu Kasatmata, sejenak menguap lebar-lebar menampakkan seluruh mukanya yang semula tampan sekarang tinggal bentuk mulut saja. Ternyata sangat buruk sekali muka manusia itu jika hanya terdiri dari mulut tanpa ada bagian yang lain. Namun harap maklum, perut sang paranormal kita ini memang begitu kenyang setelah sarapan satu porsi ayam bakar saat sarapan pagi. Maka pantaslah kalau ia menguap begitu lebarnya.
Bayu Kasatmata ganti mengambil koran baru di atas meja. Koran tabloid yang tentu saja sejenis dengan profesi yang ia geluti. Koran itu namanya Obral metafisika. Di dalamnya berisi cerita-cerita gaib, dunia jin perewangan, iklan pasang susuk, memagari rumah dari gangguan jin, cara instan menyantet orang, dan sejenisnya.
Nampaknya iklan Klenik Bayu Kasatmata di koran Obral Metafisika itu sudah akan habis masa tayangnya bulan ini. Dan pastinya ia harus segera memperpanjang agar magnet kuat penarik pelanggannya ini tidak luntur kesaktiannya. Lanjutkan membaca

Lamaran Sri

lamaran sri
pengantar arswendo atmowiloto

Para Pengisi :
Andri Saptono – Megatruh Solo
Indah Darmastuti – Menjadi Patung
Joko Sumantri – Lelaki Tahu
Marwanto – Hujan dan Kota Yang Selalu Cemas
Ratih Kumala – Ode Untuk Jangkrik
Retno Iswandari – Alterego Solo
Sanie B Kuncoro – Lamaran Sri
Iis Sukandar – Menuju Rumah Impian
Sri Atin – Songsong Payung Kematian Ayah

Megatruh Solo

Sebait tembang Megatruh mengalir dari radio di sebuah warung tepat di depanku sekarang berdiri. Tembang itu dinyanyikan dengan tenang dan lambat. Tekanan suara seperti itu walaupun sekarang mengalir dari sebuah radio dua band, tapi tembang itu mampu mengalirkan kesejukan yang aneh padaku. Dibandingkan lagu pop maupun klasik aku merasa hanya tembang macapat yang tampaknya dilagukan dengan kekuatan yang besar, keseimbangan yang amat sempurna, pelan dan kuat. Begitu laras hingga menyentuh relung hati tempat di mana semua lagu bermuara, mengubah pribadi-pribadi yang mendengarnya. Lanjutkan membaca

Children Of Heaven

children-of-heaven

Film Iran karya sutradara Majid Majidi tahun 1997 ini sesungguhnya hendak bercerita banyak, namun lewat kesederhanaan dan alurnya yang memikat, semua itu menjadi kian terasa bahwa film ini adalah sebuah master piece yang sempurna. Film ini berhak untuk menyandang julukan film-film yang timeless.
Film berdurasi 88 menit ini meraih penghargaan pada Montreal World Film Festival, Newport International Film Festival, dan Silver Screen Awards di Singapore International Film Festival. Film ini menjadi nominatar Film Asing terbaik Academy Award. Sayang sekali, piala Oscar itu jatuh ke tangan film Italia, Life Is Beautiful karya Roberto Benigni
Di Arab Saudi film ini memang terlambat diputar dan diputar pertama kali oleh sebuah lembaga sastra. Kiranya film ini adalah film yang berbobot hingga menjadi film yang pertama diperbolehkan untuk ditayangkan di bioskop Arab Saudi yang memang ketat dalam memperbolehkan tayangan film…
untuk lihat langsung streaming dengan kualitas yang tinggi dan tidak terputus-putus, silakan klik ini ..
(part 1)
[googlevideo=http://video.google.com/videoplay?docid=2085360636693346701#]

(part 2)
[googlevideo=http://video.google.com/videoplay?docid=2085360636693346701#docid=1568263933309969077]

Pembalasan Dendam Lydia

sebuah cerpen
crying

Pembalasan Dendam Lydia

Peniti-peniti kebencian mulai mencucuki mata Lydia hingga berdarah. Ranjangnya terasa bertebar paku panas menyakitkan. Ia telah meyakinkan dirinya kalau ia bukan sedang mencemburui suaminya, melainkan kebohongan suaminya, yang kini sedang bersenang-senang dengan barang antiknya yang lain itulah yang mencabik-cabik hatinya!
Tiba-tiba Lydia menatap patung batu budha setinggi satu meter yang tepat bersisihan dengan urban stand lamp favoritnya, di dalam kamarnya yang serba greeen itu, menjadi dua kali lebih besar dari ukuran semula. Wajah bijaksana patung budha itu jadi menyeringai seakan berusaha memusuhi keberadaannya. Lydia merasa ngeri dengan apa yang dilihatnya. Secara mekanis ia mundur ke pangkal ranjangnya sambil memeluk bantal Micky Mouse nya.
Suaminya, Permadi, mendapatkan patung budha itu dari Thailand. Ia memaksakan argumen kalau patung budha di dalam kamarnya itu akan membawa energi positif bagi kehidupan perkawinan dan bisnis barang antiknya. Pada hari-hari tertentu suaminya akan membakar dua buah hio atau dupa China di sela jemari gempal patung batu itu, dan menaruh cawan kuningan berisi air mawar sebagai bagian dari persembahan. Ketika mereka bercinta, mata Lydia akan terpaku pada wajah bijaksana sang budha itu, yang seakan tersenyum menyaksikan seks eksperimental yang sedang mereka agendakan. Tapi suatu kali karena muak dengan bau hio di dalam kamarnya itu, Lydia menyemprot ruangan kamarnya dengan semprot nyambuk berparfum yang didapatnya dari gudang. Lanjutkan membaca

Gapura Sebagai Beban Artificial Desa

Gapura Sebagai Beban Artificial Desa
Oleh Andri Saptono

Gapura dalam kamus WJS Purwadarminta berarti pintu gerbang. Secara ontologis ia menjalankan fungsinya sebagai ambang untuk memasuki puri kedalaman pada suatu tempat atau rumah. Ucapan selamat datang biasanya menjadi wajib dibubuhkan di gapura tersebut beserta nama tempat atau lokasi.
Gapura bisa juga menjadi sebuah penanda akan ekslusivitas (kepemilikan) atau teretory (sebagai daerah kekuasaan).
Pembangunan gapura sekarang ini memang marak sekali seperti tumbuhnya cendawan di musim hujan. Fenomena ini hampir tak diketahui pasti kapan mulainya. Tapi beberapa moment penting, semisal peringatan hari kemerdekaan, memang menggunakan gapura sebagai bagian dari bentuk-betuk perlombaan untuk memperingati momen-momen itu. Semisal lomba hias gapura tujuh belasan yang diadakan di beberapa tempat secara aksidental.
Disorientasi Pembangunan.
Gapura selamat datang di desa-desa yang sekarang ini marak dan stereotif adalah contoh kesalahan dari sebuah orientasi pembangunan. Lanjutkan membaca

Paradok Pabrik Gula Tasikmadu

9_Loko_uap_melewati_depan_PG_Tasikmadu
Paradok Pabrik Gula Tasikmadu
Oleh Andri Saptono

Riwayat pabrik gula Tasikmadu yang dulu didirikan oleh KGGPA Mangkunegoro IV pada tahun 1871 yang sekarang berganti PTPN IX tidak bisa dipungkiri memang lagi cenderung berorientasi pada kegiatan agro wisata Sondokoro-nya. Publikasi iklan yang giat ditunjang berbagai pembangunan wahana rekreasi di dalam komplek pabrik makin meneguhkan citra pabrik gula Tasikmadu yang ingin mengembangkan wahana rekreasi sebagai pemasukan penting selain tetap memproduksi gula sebagai hasil utama. Malah cara produksi gula yang sebagian masih memakai alat-alat kerja tempo dulu menjadikan salah satu daya tarik pabrik gula Tasikmadu yang bisa dijual. Namun pabrik gula Tasikmadu juga menyajikan sebuah paradok. Seakan ingin menampilkan keeksotikan sebuah pabrik gula peninggalan jaman kolonial dengan wahana agro wisatanya tapi proses buangan limbah pabrik gula itu sendiri kurang mendapat perhatian yang memadai. Pabrik gula yang kini sedang menggiatkan salah satu wahana agro wisata Sondokoro-nya sebaliknya juga mengotori wahana tersebut dengan asap dan debu dari cerobong asap yang mengepul rendah.
Kita memang kurang menyadari atau kerap mengabaikan bahaya-bahaya dari polusi cerobong asap. Di desa sekitar yang masih satu kelurahan dengan pabrik gula Tasikmadu juga mendapat imbas yang buruk dari cerobong asap itu. Tak ayal setiap selesai musim giling setiap rumah akan memanen debu di plafon setiap rumah. Setiap orang yang melintas di dekat kawasan pabrik tak jarang sering kelilipan debu dari asap pabrik. Hal ini tentu sangat tidak nyaman dan cenderung berakibat berbahaya. Sikap masyarakat sekitar yang abai, mungkin karena sudah terbiasa dan merasa urip (baca: bekerja) dari bekerja di pabrik gula tersebut seharusnya tidak boleh kita lantas membuat sebuah apologi untuk tidak bersikap kritis. Lanjutkan membaca