Arsip Bulanan: November 2010

PEMUDIK TERAKHIR


ditempel juga di harian Solopos 14/11 2010

Sinar rembulan menengok masuk ke dalam kamar saat tirai jendela kamar Sanyoto tersibak ditiup angin. Sanyoto tengah terbaring memandangi langit-langit kamar yang tak berplafon. Ratmi, istrinya, sedang memunggungi.

Sengaja jendela dibuka karena malam ini cuaca amat gerah. Sanyoto hanya memakai singlet dan sarung yang dililitkan ke pinggang. Ratmi memakai daster kesukaannya yang telah menjadi tipis dan luntur warnanya itu. Betapapun mereka adalah bukan pasangan suami istri yang kaya. Kamar mereka biasa. Isi pernak-pernik kamar itu pun milik orang biasa. Lanjutkan membaca

Membakar Jakarta


Pupil mata Sanyoto membesar melihat debu yang naik ke udara di kejauhan diikuti kemunculan sebuah truk besar polisi berwarna coklat. Namun ia memandangnya dengan mencibir. Ya, ia kesal dengan kedatangan mereka yang terlambat. Atau seharusnya ia tak perlu terkejut dengan hal itu.

Ketika penumpangnya telah turun Sanyoto hanya bangkit berdiri, sama sekali tak menyambut. Mereka kebanyakan berumuran lebih muda dari Sanyoto, nampak muda, gagah, dan bersenjata. Namun bukan hal itu yang menarik perhatian Sanyoto sekarang, melainkan seorang sersan yang menghampirinya dirinnya sekarang.

Sersan Broto ditugaskan di daerah kerusuhan. Ia kenal dekat dengan Sanyoto, bahkan sebenarnya pernah berhutang nyawa pada lelaki kecil itu. Sanyoto menatap lekat wajah lelaki besar itu. Ia setinggi kepalanya dan harus mendongak. Broto menghindari tatapan mata Sanyoto, meski tak hendak menatap benar pada reruntuhan rumah-rumah di sekelilingnya yang baru digusur buldozer itu. Lanjutkan membaca