Arsip Bulanan: Mei 2011

LAUNCHING ANTOLOGI CERPEN JOGLO 9

Para cerpenis Pengisi PARAS PEREMPUAN CADAS

A. Zakky Zulhazmi
Abednego Afriadi
Andri Saptono
Gendut Pujiyanto
Gunawan Tri Atmodjo
Indah Darmastuti
Puitri Hati Ningsih
Miftahul Abrori
Retno Iswandari
Yuditeha

Acara Sabtu, 28 Mei 2011
di teater Arena taman budaya jawa tengah

Pembicara
BENI SETIA
RAHMA PURWAHIDA, UMS

Perayaan Kemurungan
Oleh : Rahmah Purwahida

Kesepuluh cerpen ini berhasil mensakralkan kemurungan untuk dirayakan. Kemurungan-kemurungan itu dihadirkan dengan cinta dalam perhelatan akbar mencapai makna kemanusiaan. Pernak-pernik kepiluan dalam keseharian adalah mantra penjinak pembaca agar bersedia merasuki ruang makna kemanusiaan dengan kesahajaan.

Kemurungan pada hidup keseharian yang tercecer dalam lingkungan keluarga dan masyarakat tidak berjarak panjang dengan keriangan. Di balik kemurungan itu terselip cinta. Kemurungan karena cinta adalah kerelaan untuk berkorban. Kerelaan itu adalah bentuk kemurungan untuk menebus keriangan masa depan. Episode terakhir Cokro, cerpen Andri Saptono berhasil mengisahkan hal itu. Seorang pembunuh – Cokro- rela melepaskan kebebasannya setelah kegagalannya melakukan pembunuhan yang ke-100. Istri Cokro, Tinah, menahan murung ketika menyaksikan suaminya digelandang polisi ke penjara. Tinah membiarkan suaminya ditangkap agar ia bisa membesarkan anaknya dan kelak tidak menjadi pembunuh seperti sang ayah. Meski dirundung murung sebab peristiwa itu, namun Cokro dan Tinah menyimpan keriangan masa depan karena telah memenuhi wasiat almarhum ibu Cokro.

Keluarga kadang kala adalah surga. Namun, pada kala lainnya, memungkinkan menciptakan neraka kemurungan. Cerpen milik A Zakky Zulhazmi, Marsha, berceloteh tentang seorang anak perempuan dianiaya ayahnya yang kecewa dengan kematian adik Marsha. Marsha kehilangan surga dalam keluarganya dan kerap menjadi murung. Marsha menamatkan kemurungannya dengan menjemput keriangan surga melalui kematian.

Kemurungan dalam keluarga juga disajikan dalam Menukar Kematian, cerpen milik Abednego Afriadi, anak bungsu yang murung karena bertubuh buruk dan mewarisi kemampuan meramal nasib dan menunda kematian seseorang dari ayahnya. Kemurungannya semakin berlanjut ketika sang ayah dijemput ajal sebelum waktunya. Sang ayah merupakan tumbal dari sekian pasiennya yang menukar kematian padanya. Kemurungan anak bungsu menyulut api dendam. Ia sangat mencintai Sang Ayah. Ia memilih untuk membunuh para pasien ayahnya dengan ilmu yang dimilikinya dan menutup kemurungannya dengan menyusul Sang Ayah, menukar kematian.

Kemurungan dalam keluarga seperti benih ide yang subur dalam antologi ini. Kedua cerpen ini bercerita tentang keluarga yang murung sebab ibu dilanda kemurungan. Menjelang Pernikahan, cerpen Gendut Pujiyanto, bercerita mengenai seorang ibu yang murung dalam ketidaksadaran diri sebab hingga sesaat menjelang perayaan pernikahan anaknya tidak kunjung menemukan tukang adhang. Sang ibu gagal merealisasikan nadzarnya. Tolong Bangunkan, cerpen Retno Iswandari adalah miniatur kemurungan ibu dalam kegilaannya sebab kehilangan putri yang dicintainya.

Ide keluarga yang murung belum berhenti hanya karena seorang ibu yang murung. Pada Kronika Sakit, cerpen Yudhi Teha, ditemukan kisah kemurungan sang istri karena suaminya yang pesakitan berselingkuh. Sang istri seketika stroke setelah berjumpa dengan isteri muda dan anak tirinya. Kemurungan resmi berperan sebagai petaka dalam cerpen ini.

Kemurungan dalam lingkungan masyarakat tampil dalam Haji Inul Dan Ayat Bajakan, cerpen Gunawan Tri Atmodjo. Cerpen ini tentang kemurungan seseorang yang berniat menghibur warga kampungnya, namun gagal sebab khotbah Haji Inul yang mengharamkan memutar musik bajakan untuk membangunkan sahur. Kemurungan dari sepenggal kisah kasih tak sampai dari masyarakat suku dayak Mratus dikisahkan Tanah Laut, cerpen Indah Darmasturti. Sarju, seorang pemuda dayak Mratus yang bemaksud mempersembahkan kehidupan yang layak untuk Sinaka, dengan jalan yang salah yaitu membalak hutan yang dicintai pujaan hatinya.

Oseng-Oseng Mercon, cerpen Puitri Hati Ningsih, juga berceloteh mengenai kejahatan pencuri lombok yang menghadirkan kemurungan pada hati penjual dan penikmat oseng-oseng mercon. Mbah Panggah gagal menghadirkan oseng-oseng mercon untuk pelanggan setianya sebab lombok-lombok dari kebunnya dicuri, sedang harga lombok di pasaran kian minggi. Paras Perempuan Cadas, cerpen Miftahul Abrori, Juwarni yang murung saat pawon-pawon karyanya ditinggalkan oleh para ibu yang terjerat cinta kompos gas dan LPG.

Perayaan kemurungan dalam cerita-cerita ini adalah upaya mencapai hakikat kemanusiaan. Cerita-cerita yang mendengungkan kemurungan dalam keluarga mengingatkan bahwa kemurungan menjadi semacam jalan cadas yang seharusnya dilewati sebagai ritual menemukan puncak keriangan masa depan. Cerita-cerita yang mendengungkan kemurungan dalam masyarakat merupakan kritik sosial tentang rakyat yang dilanda murung sebab melarat.

Kisah para tokoh yang terluka fisik dan psikologisnya karena penganiyaan seperti Marsha (Marsha), dipenjara seperti Cokro (Episode Terakhir Cokro) mempersembahkan diri menjadi tumbal untuk menebus dosa seperti Sarju (Tanah Laut), atau diselingkuhi seperti Ratri (Kronika Sakit) dan sekian kisah dalam cerpen lainnya adalah kronik luka-luka atas kemanusiaan dalam keseharian. Kronik itu kadang tertelan dalam derasnya arus aktivitas keseharian kita. Namun, membaca cerita ini mengantarkan kita memasuki ruang nurani untuk mengeja tanda-tanda keriangan dalam kemurungan. Kemurungan tidak selalu tampil sebagai petaka sebab sesungguhnya ia berjarak pendek dengan keriangan. Membaca cerita-cerita ini akan ditemukan perayaan kemurungan adalah layak. Perayaan itu adalah tebusan untuk mencapai hakikat keriangan. Tabik

Rahmah Purwahida, pendidik dari pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FKIP UMS.

ditulis kembali setelah setengah malam sepulang dari acara …

Sajak Ekstase dan Mencari Rumah Tuhan


Ek­ta­se 1

sung­guh me­re­ka pi­kir aku me­lu­kai ha­ti­ku sen­di­ri

da­lam per­ja­lan­an sing­kat nan pan­jang me­nem­pu­hi­Mu

me­re­ka­lah cin­ta-cin­ta re­meh yang ha­rus me­ne­pi

da­ri pan­tai ingat­an

ter­sing­kir de­ras ge­lom­bang wang­iMu

ka­u­lah len­te­ra ca­ha­ya yang tak per­nah pa­dam da­lam ke­ge­lap­an

ku­sim­pan di da­da rin­du

ber­sa­yap nya­nyi te­ku­kur yang ter­bang me­nu­ju ma­ta­ha­ri

Lanjutkan membaca

LOMBA CERPEN | LOMBA MEMBUAT POSTER & KOMIK | LOMBA DESAIN KARAKTER KOMIK (TERBUKA UNTUK UMUM)

-LOMBA CERPEN-

Syarat & Ketentuan :
1. Lomba terbuka untuk pelajar SMP, SMA dan Mahasiswa/Umum (WNI/WNA) kecuali panitia, dewan juri dan keluarganya.
2. Lomba terbuka untuk perorangan dan bukan kelompok.
3. Lomba dibuka tanggal 10 Februari 2011 dan ditutup tanggal 15 Juni 2011.
4. Kategori Lomba :
• Kategori A (Pelajar SMP)
• Kategori B (Pelajar SMA)
• Kategori C (Mahasiswa / Umum)
5. Tema Cerita : “Kehidupan Remaja Memiliki Banyak Warna Kehidupan” (Cinta, Kebahagiaan, Harapan, Kepedihan, Kegagalan dan Kekecewaan).
6. Judul bebas tetapi harus sesuai dengan Tema Cerita.
7. Peserta diperbolehkan mengirim maksimal 5 judul karya.
8. Naskah ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik, benar, indah dan komunikatif.
9. Naskah harus asli dan belum pernah dipublikasikan atau tidak sedang diikutsertakan dalam lomba yang serupa. Lanjutkan membaca

Lomba Penulisan Cerita Film “TENTANG ANAK-ANAK DAN KEPAHLAWANAN”


Waktu : 01 Juli 2011 – 30 September 2011

I. HADIAH

Akan dipilih 3 (tiga) pemenang utama, 3 (tiga) pemenang harapan dan 10 (sepuluh) naskah pilihan.
1. Pemenang I Rp. 50.000.000
2. Pemenang II Rp. 40.000.000
3. Pemenang III Rp. 30.000.000

Serta piala dan piagam penghargaan (pajak ditanggung pemenang)

II. KETENTUAN UMUM

1. Peserta Lomba Penulisan Film adalah Warga Negara Indonesia.

2. Terbuka untuk umum usia 16 tahun keatas.

3. Cerita film ditulis minimal sebanyak 90 halaman disertai senopsis dan biografi penulis.

4. Cerita film dikirim sebanyak 2 (dua) copy dalam bentuk print out ukuran A4, dilengkapi dengan CD.

5. Cerita film adalah karya asli yang belum pernah dipublikasikan atau diproduksi.

6. Cerita film yang ditulis mengandung nilai budaya dan identitas bangsa.

7. Jika terjadi tuntutan dari pihak lain atas keaslian naskah cerita tersebut, maka akan menjadi tanggung jawab penulis yang bersangkutan. Lanjutkan membaca