Arsip Bulanan: Juni 2011

PAHLAWAN + PANCASILA


Ada yang absurd dari sejarah Indonesia itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa pahlawan yang berjuang di masa sebelum proklamasi dikatakan sebagai pahlawan kemerdekaan. Dan pahlawan yang berjuang sesudah proklamasi dinamakan sebagai pahlawan proklamasi. Atau pahlawan yang menghancurkan gerakan PKI dari Indonesia dinamakan sebagai pahlawan revolusi. Mungkin di jaman sekarang orang seperti Munir harusnya disebut sebagai pahlawan reformasi.

Pahlawan asal kata dari pahala dan wan. Orang yang berjasa yang kemudian mendapat pahala. Pahala selama ini lebih dekat kepada pemahaman Islam, yaitu ganjaran atau balasan.

Dalam Islam, pahala terbesar bagi seorang hamba adalah pahala yang diberikan nanti di akhirat. Dalam banyak ayat, disebutkan bahwa pahala dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pahala di akhirat.

Akhirat yang belum dinampakkan mata sekarang namun kenikmatannya disebutkan dalam Al Quran dengan dikatakan sebagai dimana kebun yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.Tempat bidadari surga yang perawan dan bening kelihatan tulang sumsumnya. cemeti di surga itu sendiri jauh lebih indah daripada dunia seisinya. Atau bahkan orang yang paling rendahnya berkedudukan di neraka mendapat 10 kali kerajaan bumi . Wa’llahu ta’ala a’lam. Lanjutkan membaca

PURNAMA KEGELAPAN *


Sanyoto datang dengan tangan kosong di Astana Randu Songo kali ini. Ia tidak membawa kembang tujuh rupa, tidak rokok klembak menyan, tidak juga dupa China. Ia selalu datang sendiri seperti dipesankan eyang Singodimedjo, sang juru kunci Astana Randu Songo yang flamboyan itu. Dan sekarang adalah kedatangan Sanyoto yang ke empat kali di tempat pekuburan para kerabat raja Surakarta Hadiningrat ini.

Sinar bulan menjadi bercak-bercak cahaya karena terhalang dahan pohon randu alas yang lebat. Bau tanah pekuburan bercampur bunga kamboja menusuk hidungnya saat memarkir sepeda motornya di dalam pemakaman. Sanyoto teringat pertama kali datang ke tempat ini. Ia sontak merinding masuk ke area pemakaman, meskipun saat itu ia tidak sendiri. Baru setelah dua tiga kali kedatangannya kemudian ia merasa Gusti Panembahan Aryo Dipo yang menguasai tempat ini tidak berkeberatan dengan kedatangannya.

Sanyoto mendapati Eyang Singodimedjo, sang kuncen makam bersila di depan makam bercungkup Gusti Panembahan Aryo Dipo. Ia harus menunggu selesai sang kuncen makam yang sedang berwawasan sabda dengan tuannya di alam lain itu.

Puntung rokok kretek ketiga baru ia injak dengan sepatu pantofel itu ketika sang kuncen makam menghampirinya.

“Aku dapat kabar besok akan terjadi gerhana bulan. Tepat tengah malam kamu bawalah ayam cemani. Paling baik yang baru sekali bertelur. Aku kira lakumu sudah mendapat jawaban Gusti Panembahan. Kamu beruntung!”
Sanyoto mengangguk menangkap kalimat terakhir yang diucapkan juru kunci itu. Lanjutkan membaca

EPISODE TERAKHIR COKRO


Aneh, bukan pijar dendam yang terpancar dari mata Cokro ketika memandang musuh yang harus ia bunuh. Sorot kemarahan binatang buas itu tiba-tiba meredup dan menjadi nyala lilin sepi. Skenario ini seharusnya tidak pernah terjadi!

“Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!” bentaknya kepada lelaki malang yang bersimpuh di kakinya. Anggota legislatif itu bangkit berdiri dan sekejap lari tunggang langgang, tak mengira selembar nyawanya bakal lepas dari cengkraman maut.

Cokro menggigil. Bayangan yang melintasi matanya adalah bayangan Ibunya. Ini adalah sebuah kemunculan yang luar biasa dan waktu yang sangat tidak tepat pada ke seratus pembunuhan yang akan ia lakukan.
Denyut aneh yang mengalir di urat nadi dan menyerbu jantungnya itu sekejap memadamkan nyala api pada kobar mata Cokro. Dalam bayangan kegelapan pohon-pohon di taman tubuhnya menggigil. Pistol di tangan seketika ia lempar ke semak-semak mirip orang kepanasan karena memegang bara di tangan.

Cokro berlari keluar dari taman. Ia tak abaikan kendaran lalu lalang, terus berlari menembus kegelapan gang-gang sempit perkampungan. Sesampai di rumahnya ia gedor pintu dengan bernafsu.
Lanjutkan membaca