Arsip Bulanan: Juni 2012

SANG PENEBUS

dimuat di majalah Al Mar’ah MTA

Ini hari terbesar dalam hidupku. Apa sudah mantap dari lubuk hati terdalam dan yakin orang tuaku akan mengerti apa yang kulakukan. Mereka tahu anak gadis mereka sudah besar untuk tidak membuat pilihan bodoh. Apalagi yang kulakukan ini adalah demi pencarian kebenaran hakiki. Ya, aku yakin orang tuaku akan mengerti mengapa aku memilih Islam sebagai agamaku.

Awalnya aku hanyalah seorang gadis dengan latar belakang orang tua pegawai negeri yang beragama nashrani. Kedua orang tuaku sangat baik, bahkan berlebihan dalam memanjakanku. Dari bersekolah yang elite hingga membatasi pergaulanku hanya dengan anak-anak kalangan tertentu saja. Pendeknya, untuk semua materi, aku sudah tercukupi. Bahkan terakhir ayahku meminta pendapatku, apakah aku perlu dibelikan mobil untuk berangkat kuliah.

Tidak, aku bukanlah orang yang senang dengan kehidupan yang bermewah-mewah. Pada dasarnya aku adalah anak yang cengeng, mudah tersinggung dan sensitif. Kuakui ada banyak kelemahan dari sikapku mungkin karena terlalu banyak dimanjakan kedua orang tuaku. Namun, pencarianku yang sebenarnya tentang kebenaran yang membuatku ingin mencari Islam. Lanjutkan membaca

Tersesat di Pasar Tiban

dimuat di cerita kita Suara Merdeka

Pagi yang bening. Embun masih enggan berpisah dengan pucuk daun. Kukuruyuk ayam jago di halaman membuka pagi ini yang cerah ini. Nisa baru saja merapikan selimutnya. Hari ini adalah hari libur. Ia memang bangun agak terlambat. Namun ia sudah sholat subuh sejak tadi.

Ya, hari ini hari libur. Ada banyak rencana yang ingin ia kerjakan. Jam delapan nanti ia bersama Ani mau pergi ke pasar tiban di kota.

Pasar tiban itu apa ya dan Nisa mau beli apa di pasar tiban sana?

Pasar tiban itu adalah pasar yang ramai pada hari libur saja. Para pedagangnya bukan pedagang tetap, tapi mereka berdatangan dari berbagai tempat dan menggelar dagangan atau lapak di sana.

“Nanti Nisa libur kan?” tanya Umi yang membawa sayuran mau memasak di dapur.
“Iya Mi. ada apa?”
“Kebetulan, Abi mau pergi ke rumah nenek. Nanti Nisa ikut sama Abi. Umi tidak bisa ikut karena mau membantu Ibu Rahmah yang baru saja melahirkan adik kecil.”
“Ehm…tapi Umi…” Nisa bingung. Ia kan punya rencana mau pergi ke pasar tiban di kota.
“Ada apa? Apa Nisa punya rencana lain.”
“Iya sih Mi. Nisa sudah janji mau pergi sama Ani ke pasar tiban di kota nanti siang. Bagaimana dong?” Lanjutkan membaca

BELAS KASIH KEHIDUPAN

dimuat di koran Joglo Semar 24/6

Jalanan mengembun air mata. Jeritan panjang klakson mobil-mobil pribadi, truk gandengan, angkot, bis kota, menyentak-nyentang jantung Sanyoto yang berdebar kencang. Setiap langkahnya diburu waktu. Dan waktunya kini diburu oleh suara tangis anaknya yang sedang terbaring di bangsal puskesmas.

“Ia harus dirujuk ke rumah sakit Pak. Jangan sampai terlambat. Sakitnya tidak sekedar demam,” ujar istrinya dengan mata sembab.

Wajah anaknya yang pucat terkilas, makin menggerus hatinya. Tajam sengatan matahari tak hiraukan lagi. Diburunya bis kota yang sedang berhenti itu dan meloncat ke dalamnya.

Mata-mata jengah seakan mengecam dirinya, pengamen yang hidup dari uang recehan para penumpang bis kota.

“Selamat siang penumpang bis Semoga Jaya… perkenankan saya mengamen sekedar mencari rupiah untuk makan dan pengobat bagi kehidupan kami. Orang-orang yang papa di jalanan.”

Sebuah lagu didendangkannya dengan suara parau, suara kemiskinan yang menjadi warna hidupnya. Suaranya mengiba, meminta simpati. Lanjutkan membaca