Arsip Bulanan: November 2012

RESENSI BUKU “TANDA LAHIR KEBERUNTUNGAN”

Awalnya setelah pertama kali melihat gambar cover dan judul buku ini, saya tak setuju. Kenapa? Buku ini berjudul “Tanda Lahir Keberuntungan” dan bergambar cover keluarga, seorang ayah mengangkat tangan dan seolah-olah menunjuk ke tangan tersebut, yang berhadapan dengan seorang anak perempuan, dan seorang ibu di samping ayahnya. Cover buku ini menurut saya terkesanbahwa tanda lahir itu bisa membawa keberuntungan, dan tentunya Islam tak mengajarkan seperti itu, dan hal tersebut bisa menjerumus kepada kesyirikan.

Dan setelah saya baca hingga selesai, apa yang buku ini sajikan kepada pembacanya, ternyata jauh dari apa yang saya pikirkan awal tadi. Mungkin kritik buat desain cover dan pembuat judul buku ini agar sebelumnya ada persetujuan kepada penulisnya dulu, agar cover tersebut sesuai dengan tujuan penulis menulis buku yang mempunyai 135 halaman ini.

Buku ini terdiri dari 20 kumpulan cerpen yang sangat inspiratif, dan cocok untuk anak-anak usia SD. Kata-katanya ringkas, nyaman dan mudah dipahami. Apalagi ada tambahan hikmah yang bisa diambil dari setiap cerita pendek di akhir cerita. Kisah-kisahnya pun tak jauh dari kehidupan sehari-hari.

Semua cerita berkisah tentang anak-anak. Di cerpen pertama, pembaca akan disuguhkan cerita tentang Aziz, anak orang kaya, bertemu dengan dua orang anak jalanan yang mencari uang dengan cara mengamen di jalan raya. Dikisahkan bahwa Aziz tersesat ketika mengejar penjual es krim, dan ditolong oleh kedua anak jalanan tersebut, Eko dan Andi. Cerpen pertama tersebut mengandung hikmah untuk membiasakan memandang yang di bawah kita agar lebih besyukur, saling membantu sesama teman, tidak memandang miskin atau kaya, dan makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Banyak lagi kisah lain yang mengandung keteladanan yang tentunya bisa diambil contoh untuk diterapkan di kehidupan anak-anak yang kebanyakan sekarang dirasuki dengan tontonan kartun-kartun khayalan yang tak masuk akal. Karena sedikit banyak tontonan kartun yang taknyata tersebut memberi pengaruh kepada penontonnya, khususnyaanak-anak yang cenderungmemilikisifatmeniruapa yang ditontonnya. Lanjutkan membaca

Stop Stigmatisasi Terhadap Agama


dimuat di majalah Respon MTA Nopember 2012

Stigmatisasi, berasal dari kata stigma, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah pelekatan citra negatif kepada diri seseorang oleh lingkungan. Pembicaraan kali ini penulis ingin mengetengahkan tentang stigmatisasi Islam yang meruncing sebagai pelaku terorisme. Sebuah ilustrasi yang nyata terjadi ini bisa menjadi sebuah contoh. Pada suatu hari dalam sebuah arisan ibu-ibu, sang ketua yang mendapat amanat dari kelurahan menyampaikan dua pesan kepada masyarakat agar mewaspadai dua hal : pertama, gaya hidup punk yang melanda anak muda, khususnya remaja. Yang kedua adalah radikalisme Islam yang selama ini dikonotasikan dengan NII. Barangkali karena perilaku anak punk yang anti kemapanan dan pemakaian aksesoris nyleneh yang suka anak punk kenakan yang membuat para orang tua-orang tua itu resah. Sedangkan pada pesan yang kedua, agaknya ketua yang tak mengerti makna sebenarnya radikalisme Islam, hanya mengetengahkan gejala-gejala yang sama sekali tidak akurat, dan cenderung ngawur. Sang ketua itu menghasung kepada ibu-ibu kampung, yang cenderung reaktif dan kurang pendidikan, agar menghindari memakai cadar bagi perempuan, tidak memakai pakaian hitam (entah apa hubungannya dengan warna hitam) dan menyuruh memakai peci hitam ala Sukarno supaya bisa dicirikan orang yang nasionalis.

Dari hal di atas, bisa ditengarai upaya stigmatisasi yang sengaja coba dilekatkan kepada simbol Islam, bahwa Islam adalah pelaku dominan terorisme di Indonesia. Lebih jauh stigmatisasi ini dilakukan dengan cara mempararelkan bahwa gerakan punk yang anti kemanapan sama berbahayanya dengan gerakan Islam radikal. Dan ketika yang menerima adalah masyarakat lapisan bawah yang cenderung reaktif dan agitatif, hal itu menjadikan masyarakat suka hantam kromo meng-qiyas-kan semua simbol dan gerakan Islam sebagai bentuk terorisme. Apalagi di tengah tayangan media televisi yang sering menampilkan Islam dalam kaitannya dengan jihad fi sabilillah secara parsial. Hal ini persis dengan kisah tiga orang buta yang ingin mengetahui bagaimana bentuk seekor gajah. Ada orang buta yang memegang ekor, mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti cemeti, atau yang memegang belalai mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti pohon kecil, dan seterusnya. Hikmah dari cerita ini adalah pemberitaan parsial jelas sangat tidak bijaksana dan cenderung bisa membinasakan kerukunan hidup di Indonesia. Contohnya di jejaring sosial media media, yang minim sensor hanya akan menjadi ajang saling hujat antara pengunjung. Hal itu terjadi tidak hanya di portal berita Viva News, Yahoo, Detik.com atau Kaskus, bahkan hampir di semua situs jejaring sosial di muka bumi ini. Sudah menjadi pemandangan biasa pemeluk agama satu menghina agama lain dengan bahasa kasar dan vulgar hanya untuk melampiaskan emosi. Atau yang lebih tidak beradab adalah Innocence Of Muslim, yang menuai protes dan kecaman dari seluruh penjuru umat Islam di seluruh dunia. Apakah mental keberagamaan seperti ini yang hendak dicapai? Lanjutkan membaca

PULANG

dimuat di joglo semar 04/11/

Kepulanganku ke rumah Simbok kali ini bukannya tangan kosong. Setidaknya ada sedikit yang kubawa. Ada kain batik untuk Simbok, oleh-oleh snack untuk keponakan. Namun aku masih merasa salah. Sepuluh tahun lebih aku tak pulang. Adikku yang lain, mereka selalu pulang. Namun karena aku bukan orang yang paling kaya di antara mereka, jarang sekali aku pulang. Dan ini adalah tujuh tahun terakhir aku pulang kampung ke rumah Simbok di jawa timur ini. Walaupun alasan ini pula bukan penyebab utama aku enggan pulang.
Di mobil ada anak dan istriku yang sdang tertidur. Mereka tampaknya menikmati perjalanan jauh. Tak keberatan kuajak pulang ke Malang. Istriku yang dapat cuti panjang dari perusahaan terserah saja. Malah dia sering menanyakan mengapa aku jarang pulang ke kampung halaman.
Aku menjawab karena memang aku tak ingin pulang. Kerinduan pada Simbok memag kurasakan meletup kali ini hingga aku memutuskan mengajak mereka. Sering aku bermimpi melihat Simbok. Raut wajahnya, rambutnya yang beruban, semua begitu lekat dan nyata terbayang padaku.
Perjalanan dari Jakarta bukannya tanpa kesulitan. Jalanan macet di mana. Untunglah anak-anakku tak banyak rewel. Kami bisa mengatasi setiap kendala. Dan sering kami hanya istirahat ketika anak-anakku hendak ke kamar kecil. Tapi itu tak masalah. Istriku tahu yang harus dikerjakannya dan banyak membantuku dalam perjalanan kali ini.
Namun rasanya masih ada yang kurang kubawa dalam perjalanan ini. Ada yang ingin berbeda kubawa pulang untuk Simbok. Lanjutkan membaca

Antara Sun Tzu dan Jihad Sabilillah

dimuat di harian suara merdeka

Buku The Art Islamic of War, Shohihul Hasan, Lc.M.Pi ini bisa menjadi pencerah bagi gejala Islamphobia yang sekarang menggejala di Indonesia. Selain mengetengahkan kisah perang umat muslim di jaman Rasulullah sendiri dan para Khulafaur Rasyidin, juga memberikan comparasi yang menarik dengan strategi perang Sun Tzu yang mashyur itu. Lebih dari itu semua buku ini, yang awalnya adalah tesis untuk mendapat gelar Magister Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta ini, yang juga diterbitkan oleh UMS Press, memberikan narasi yang lebih shahih tentang perjalanan dakwah Islam di bawah kilatan pedang.
Diakui gambaran jihad Islam yang di dapat sebagian orang muslim pada hari ini, banyak merujuk pada penulis orientalis atau para pemikir barat, yang banyak jatuh pada persangkaan belaka. Penulis pun memberi jawab tentang hal itu menurut Ira M. Lapidus, dalam bukunya A History of Islamic societies, sangat sedikit terjadi pemaksaan Islam lewat peperangan, namun lebih mashyur terjadi asimilasi lewat perkawinan, perdagangan dan kepercayaan masyarakat lokal kepada para pendakwah Islam. Hal ini menjadi gambaran Islam ketika pertama kali memasuki Indonesia. Lanjutkan membaca