Arsip Bulanan: Januari 2013

Hidup Tanpa Rencana # cerber Al Mar’ah # 2

sajadah

Dada Mahesa terasa sesak. Ia ingin muntah. Sepertinya benturan yang terjadi membuat ia pening. Ia masih ingat dengan kejadian tabrakan baru saja tadi. Dan sekarang, tak tertahankan lagi ia ingin muntah.

Tapi betapa terkejutnya ketika Mahesa membuka mata. Ia berada di sebuah ruangan asing. Ia bingung memikirkan dimana sekarang berada. Ia sekarang telah berada di ranjang. Tunggu dulu, pikirnya, apakah aku sedang berada di rumah sakit?

Mahesa membuka mata dengan jelas. Ya, katanya pada dirinya lagi, ia berada di rumah sakit. Ruangan putih ini. Bau obat menusuk hidung. Dan ia melihat dengan jelas infus yang mengalir ke tangannya.

Mahesa bernapas lagi mengendalikan hatinya yang tergoncang. Ia tak percaya bahwa ia sekarang berada di rumah sakit. Entah berapa lama ia terbaring di sini. Dan ketika ia melihat ke bawah ia melihat kedua kakinya diperban!

Mahesa beristighfar dalam hati. Ia ingin menangis melihat kenyataan yang terjadi alih-alih ia tak bisa menahan diri untuk memuntahkan isi perutnya yang bergejolak.

Saat itu seorang suster sedang masuk dan segera menolongnya.

“Syukurlah Anda sudah sadar,” katanya dengan ramah dan tak marah sambil membersihkan isi perut yang mengotori lantai.

Tapi tetap saja Mahesa tak bisa menutupi kegoncangan hatinya.

“Bagaimana keadaan saya suster?”

“Anda baik-baik saja. Untuk lebih jelasnya nanti saja menunggu pemeriksaan dokter.” Lanjutkan membaca

Sebagian sebab-sebab kemenangan

Pada waktu Umar bin Khattab mengirimkan utusan di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menaklukkan Parsi, beliau menulis surat/pesan yang isinya memberikan sebagian sebab-sebab kemenangan tentara muslimin. Ada 3 hal penting yang disampaikan Umar sebagai amirul mukminin kepada Sa’ad bin Abi Waqqash. Inilah isi pesan itu :

1. Takwa kepada Allah
Setelah itu, aku perintahkan kepadamu dan semua tentara yang ikut brsamamu untuk bertakwa kepada Alla dalam keadaan bagaimanapun juga, sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan musuh serta siasat perang yang paling hebat.

2. Meninggalkan segala bentuk perbuatan ma’siat
Aku perintahkan pula kepadamu dan orang-orang yang ikut bersamamu, agar menjaga dari perbuatan ma’siat lebih cermat daripada menjaga serangan musuh, karena dosa-dosa tentara itu lebih menakutkan mereka sendiri daripada serangan musuhnya. Kemenangan kaum muslimin itu akibat perbuatan ma’siat musuhnya. Andaikata mereka tidak berbuat ma’siat orang-orang muslim tidak mempunyai kekuatan, sebab Lanjutkan membaca

Cerber Sajadah Panjang # 1

Sajadah Panjang

…..
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Diatas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba
…..

(Lagu Bimbo, Sajadah Panjang )
sajadah

I
Semua Dimulai Dari Sebuah Malam

Berawal dari sebuah malam dan seorang lelaki dengan impian yang dikejarnya. Ia bekerja keras tak kenal lelah untuk meraih cita-cita. Bersungguh-sungguh membayangkan di setiap langkahnya dengan kecintaan luar biasa, bahwa ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan itu. Itulah harapan. Itulah cinta.
“Apa yang kuperbuat di malam ini adalah demi tercapai mimpiku esok hari!” putus Mahesa saat mulai membersihkan lantai restoran itu. Ia bekerja paruh waktu. Ketika pagi dan sore kuliah tapi ketika malam ia menghabiskan waktu di restoran menjadi pramusaji dan pembersih restoran.
Saat ini sudah hampir jam satu malam. Ototnya terasa linu. Tenggorokannya terasa gatal, pertanda dari sakit demam. Tapi Mahesa tahu ia harus merampungkan tugasnya sebelum pulang. Sejenak ia menghela napas. Lantai telah selesai ia pel. Ruangan telah bersih dan ia siap-siap pergi dari tempat ini. Tapi di tempat lain, di rumah masih menunggu tugas kuliah. Kalau memungkinkan ia akan menyelesaikannya setelah sampai rumah. Namun kalau tak kuat ia tak akan memaksa. Ia tak mau tubuhnya sakit sekarang, karena ia akan memerlukan banyak tenaga untuk kerja dan belajar di hari esok.
“Sudah selesai Pak Marno. Saya pulang dulu,” kata Mahesa pada si penjaga malam yang sedang memutar-mutar sinyal radio, dipilihnya pada lagu dangdut kesukaan. Ia hanya mengiyakan dengan acuh saja salam Mahesa.
Mahesa pergi dengan sepeda kumbangnya meluncur membelah malam menuju ke kamar kost di Gampingan. Melewati Malioboro, salah sudut kota Jogja yang masih belum tidur. Jam segini masih banyak orang begadang, entah itu pedagang, pengamen jalanan, para turis domestik atau turis mancanegara. Ada seorang turis bule sedang serius membidikkan kameranya ke arah gedung Bank Rakyat Indonesia. Ada seorang pengemis sedang menghitung uangnya di bangku taman, tepat di sebelahnya seorang mahasiswa sedang memelototi laptop. Semua kehidupan terasa bergerak lamban. Mahesa terus meluncur ke arah barat. Ketika jalanan menurun ia bisa sejenak istirahat, tak perlu mengayuh sepeda. Tinggal diam saja nanti sepeda akan sampai di kamar kostnya yang terletak dekat pasar, di sebelah SMA 1 Jogjakarta.
Sambil diam begini, Mahesa ingat setahun lalu ketika ia bingung mencari sambilan hingga akhirnya memilih berjualan poster di Malioboro. Tapi ternyata orang-orang lebih memilih poster bintang film, wanita seksi, bukan poster-poster lanskap alam yang ia jual. Mereka hanya melewati saja lapaknya hari demi hari, hingga terpaksa ia menjual rugi semua barangnya kepada seorang pedagang sahabatnya. Lanjutkan membaca