Arsip Bulanan: Maret 2013

Mengembangkan Budaya Tulisan Melalui Smartphone

menjadi 10 finalis di lomba tulis Gagdetan.com

gadgets

Adalah sebuah keprihatinan melihat banyak pengguna gadget membatasi diri pada ritus budaya budaya cangkeman (lisan) yang instan. Keakraban dengan gagdet sebatas budaya sms-an dengan kata yang amburadul dan jejaring sosial hanya dipenuhi dengan status tak bermutu yang mereduksi intelegensia manusia.

Sebaliknya mengembangkan budaya menulis yang standar dan kreatif akan mengembangkan kemampuan kita baik dalam menulis, berpikir, merumuskan pikiran serta menyampaikan pikiran dengan cara yang tepat. Semua itu bisa dimulai dengan smartphone yang tepat pula. Jangan hanya menyerah sebatas budaya cangkeman, tapi kita harus lebih maju selangkah. Kita harus mengembangkan diri kita dengan budaya menulis yang lebih formal namun tetap kreatif. Caranya dengan menghadirkan smartphone khusus untuk menulis. Artinya manfaat itu tidak hanya dapat dinikmati para penulis atau jurnalis saja, tetapi orang awam pun bisa belajar menulis dan mengembangkan diri lewat tulisan.

Sebagai seorang penulis yang mobile ke mana saja, kadangkala ada banyak peristiwa yang ingin saya catat. Sebuah peristiwa menarik yang telah berlalu jelas tak bisa dikembalikan lagi. Harus pada momentum yang tepat itu. Dan saya memikirkan bagaimana sebuah tablet atau smartphone khusus yang bisa mengakomodir kebutuhan seorang penulis seperti saya. Setiap fitur menyediakan kemudahan saya dalam mengambil video atau memotret dengan resolusi tinggi, memadukan tulisan dengan gambar, video atau mp3, dan tak kalah penting fitur menulis itu sendiri. Kemudian semua itu dimudahkan dengan aplikasi internet jaringan tinggi sehingga kita mudah menguploadnya ke dunia maya. Semacam smartphone yang lebih dekat kepada blog namun lebih praktis daripada blog. Hal itu tentu saja harus didukung template yang menarik agar tidak membosankan. Syukur-syukur, kita bisa mengcustom tampilan tersebut khas karakter kita. Misalnya warna batik yang kita ambil dari budaya kita sendiri, atau grafiti jalanan yang merupa kan simbol perlawanan anak muda sekaligus kritik sosial. Lanjutkan membaca

Badrun Belum Mati

dimuat di joglosemar
jagoan_tulen_by_braja2000-d392t19
“Hanya orang lapar yang mengerti artinya kemiskinan. Kalau pada pilkades kali ini si calon lurah, bilang dia memahami warga miskin di desa ini, padahal dia selama ini bergelimang harta, tidak pernah lapar hingga terpaksa puasa, maka jangan percaya omongannya. Orang seperti itu hanya pembohong!!”
Badrun berkoar di tengah lapang. Orang-orang berkerumun. Mereka percaya apa yang dikatakan Badrun karena dia orang yang selama ini masih bisa dipercaya, masih jujur, tidak brengsek seperti lainnya.
Di kesempatan pilkades kali ini Badrun menuntut para lurah yang terpilih nanti mau memberi subsidi orang miskin. Toh, pendapatan desa selama ini sudah sangat banyak dan hampir tak pernah ditujukan untuk pembangunan desa sendiri. Entah kemana uang itu semua. Hal ini baru ketahuan dari informasi sebuah LSM yang menyelidiki korupsi para aparat desa.
“Lihatlah pajak tanah, pajak kendaraan, semua mahal tapi kita harus tetap bayar. Tapi semua uang pajak itu mereka tilap di kantong sendiri, mereka korupsi! Karena itu orang miskin harus dapat subsidi! Perjuangkan subsidi!”
Orang-orang ikut meneriakkan kata subsidi. Suara itu bergemuruh terdengar menyeramkan bagi yang kontra revolusi.
Dan memang ada beberapa orang yang tak suka Badrun bicara terlalu tajam seperti itu. Mereka buru-buru menghubungi polisi lewat sms, karena itu yang paling aman dan lebih mudah. Membubarkan kerumunan Badrun tanpa mereka harus turun tangan sendiri. Mereka memang tidak akan berani terang-terangan menentang Badrun. Masih ingat dalam ingatan ketika itu seorang mata-mata mengendap-endap di rumah Badrun, menguping pembicaraan beberapa pemuda yang berkumpul di rumah Badrun. Konon, Badrun ingin menggerakkan warga untuk menuntut lurah yang kedapatan korupsi itu memperlihatkan anggaran belanja desa dengan transparan. Walaupun sebelumnya jelas terbukti salah dengan adanya beberapa transaksi fiktif yang ujungnya masuk ke kantong lurah sendiri. Badrun mengumpulkan teman-temannya, pemuda-pemuda militan, untuk berdemo. Namun, urung hal itu terjadi. Tiba-tiba karena takut, si calon lurah mengundurkan diri. Entah karena apa, tak ada yang tahu. Sementara orang yang ketahuan itu dipukuli Badrun hingga babak belur dan masuk rumah sakit.
Sekarang, ketika si lurah itu mundur, akan diadakan pilkades baru. Ada tiga orang calon. Seorang wanita dan dua orang laki-laki. Semua asli penduduk daerah. Semua terlihat sehat secara fisik. Yang perempuan cantik dan duanya adalah laki-laki yang berwibawa, dalam arti, badan tampak subur, wajah halus seperti seorang priyayi, pokoknya pantas kalau difoto menjadi seorang lurah desa, walaupun itu semua belum tentu pilihan rakyat dari orang-orang yang berkualitas bagus. Lanjutkan membaca

Catatan Kronis Pilkades Karanganyar

calon pilkades

Jika engkau ingin menjadi pemimpin, jangan pernah mengabaikan keharusanmu untuk melayani bagi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan mereka yang kau pimpin. (Mario Teguh)

Rupanya semangat pragmatisme dan materialisme telah menjadi penyakit kronis dalam pelaksanaan pilkades di kabupaten Karanganyar. Praktek money politik terjadi nyaris melanda semua pilkades yang serentak dilaksanakan pada tanggal 20 Februari itu. Dari jor-joran bantuan agar mendapat simpati masyarakat, perjudian para botoh yang merusak citra pilkades untuk memilih pemimpin yang amanah, hingga ‘serangan fajar’ tim sukses yang ditujukan untuk mengubah suara pemilih. Apa yang sebagian disebutkan itu telah mengindikasikan bahwa pilkades yang jujur dan memakai hati nurani itu nyaris tidak ada. Dan pernyataan ini tentu saja bukan tuduhan tanpa bukti. Kalau mau, silakan cek pada setiap pilkades yang telah berlangsung itu. Bahkan di beberapa tempat, terjadi perkelahian antar pendukung, yang semuanya itu adalah sikap kebodohohan yang dibungkus fanatisme, yang harus kita enyahkan dari jiwa bangsa Indonesia ini. (Kisruh Pasca Pemilihan kepala desa, Kades Wukirsari Karanganyar Dilaporkan ke Polres, Joglosemar 24/2)
Janji-Janji Kampanye Hingga Serangan Fajar
Seorang pemimpin dipilih karena sikap amanah dan integritas. Sikap amanah bisa berarti seorang yang jujur dan bisa dipercaya untuk mengemban aspirasi rakyat. Sedangkan integritas adalah sikap seorang pemimpin yang bisa mengakomodir keragaman masyarakat sebagai modal pembangunan. Ketika kampanye berlangsung, nyaris tak ada kandidat yang mencoba memperlihatkan itikad baik tersebut. Sepintas hanya mengoarkan janji-janji belaka, yang konon akan dipenuhi ketika sudah terpilih. Artinya, sengaja atau tidak sengaja, si kandidat tersebut sudah mempunyai iktikad tidak baik menggantung janji-janjinya, lain tidak. Kita bisa menilai sendiri tipe kandidat semacam ini. Malah, beberapa kandidat membuat ‘serangan fajar’ yang licik untuk merubah opini publik. Namun ironisnya, banyak masyarakat bersikap oportunis dan aji mumpung, bersedia merubah suara dan pilihan mereka sekedar mendapatkan sejumlah rupiah. Lanjutkan membaca