Arsip Bulanan: April 2013

KISAH SEPENGGAL TANAH SURGA; Menyelamatkan Lahan Kritis

gundul

Kata, Anis Matta, dalam orasinya tidak lama ini dalam milad organisasi partai politiknya, Indonesia adalah sepenggal tanah surga. Ya, kenyataan ini memang tidak bisa dinafikan. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu ditegasi lagi, memang Indonesia dulu adalah sepenggal tanah surga. Tapi itu dahulu. Sekarang, Indonesia adalah biografi luka hingga kiamat tiba, kata seorang penyair Hamid Jabar.
Wah, ini tentu saja bukan sebuah ejekan atau sikap pesimistis semata. Kenyataan ini sebaliknya hendak mengajak kita untuk bersikap positif dan arif. Tidak hanya kepada diri saya pribadi tetapi juga orang lain, yang masih mengaku cinta Indonesia, untuk mengembalikan kisah sepenggal tanah surga ini.
Indonesia bukanlah lantunan lagu-lagu Koes Plus jaman dulu, yang mengatakan tongkat dan batu jadi tanaman. Tapi, Indonesia sekarang yang makin gersang dan banyak luka menganga ini yang harus kita benahi.
Saya yakin Tuhan memberikan bumi dan isinya ini untuk kita olah dan kita ambil manfaatnya. Tidak hanya menikmati saja, tetapi mempunyai peran mengolah dengan baik.
Seperti diberitaan Republika Online, Eksploitasi hutan dan lahan secara masif pada satu dekade terakhir ini menyisakan kerusakan lingkungan yang tidak dapat dianggap remeh. Sekitar 33 juta lahan di seluruh Indonesia dinyatakan dalam kondisi kritis.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Hadi Daryanto, mengatakan sebagian besar titik-titik lahan kritis tersebut terletak di Pulau Jawa dan Sumatra. Di Pulau Jawa sendiri, Provinsi Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah lahan kritis terbanyak. “Di Jawa dan Sumatra banyak, terutama di Jawa Barat,” kata dia, Ahad (11/3).
Tingginya angka lahan kritis ini, menurut Hadi, disebabkan karena budaya masyarakat yang lebih menyukai menanam tanaman yang cepat menghasilkan. Akibatnya, banyak lahan yang semestinya menjadi resapan air beralih fungsi menjadi area pertanian. “Budaya bertani itu bagus, tapi harus dibarengi dengan menanam pohon,” ujarnya.
Lanjutkan membaca

Ruqyah Syar’i Secara Mandiri

dimuat di solo pos 7/4
522429_4597721152224_1080760604_n

Harta yang paling mahal adalah kesehatan. Namun justru kita tak banyak menyadari hal ini. Seringkali kita diingatkan justru saat kita mengalami sakit. Namun, siapapun orangnya tentu tak ingin mengalami sakit. Pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati.

Kesehatan dalam keluarga juga menjadi prioritas di jaman modern ini. Walaupun karir sukses dan cita-cita berhasil namun jika tubuh suloyo (sakit-sakitan) maka itupun percuma. Semua kelebihan itu hanya lekat di depan mata tanpa bisa kita nikmati.

Rasulullah bersabda, Allah tidak pernah menurunkan penyakit yang tidak ada obatnya. (HR. Abu Daud dan Ahmad) Dengan inilah menjadi dasar pijakan bagaimana seorang muslim mengelola kesehatan baik jasmani dan rohani. Dan ruqyah syar’i adalah salah satu alternatif pengobatan yang sebenarnya sangat utama dan bermanfaat, karena ia berasal dari warisan Nabi Saw yang jelas-jelas mempunyai testimoni tepercaya. Tersembunyinya ilmu ini mungkin karena pesatnya ilmu medis yang sering diklaim mengatasi segala macam penyakit.

Namun, benarkah begitu? Femonena di jaman sekarang memperlihatkan kecendrungan sebenarnya. Pengobatan herbal yang relatif aman dan murah mulai digandrungi masyarakat Indonesia. Dokter dan rumah sakit ternyata masih dianggap sebagai momok menakutkan dalam pengobatan masyarakat.

Buku Ruqyah Syar’i yang disusun Ahmad bin Abdul Aziz Al-Khudhairi ini hadir memberikan solusi untuk Anda dan keluarga yang ingin mencoba mengobati secara mandiri. Artinya, pembaca bisa mengamalkan laku dan doa tertentu yang menunjang kesembuhan dengan metode ruqyah. Satu hal juga yang perlu diluruskan adalah pemahaman yang salah tentang ruqyah. Orang masih membatasi ruqyah itu hanya untuk terapi mengusir jin atau orang kesurupan atau terkena santet jamak ditampilkan di media televisi. Hal itu senyatanya tidak benar. Bahkan ada dalil yang shahih dari Al Qur’an maupun As Sunnah jika ruqyah bisa menyembuhkan segala penyakit. Pembaca bisa merujuk pada QS. Surah Fushshilat: 44, dan HR. Muslim, No. 2200). Lanjutkan membaca