Arsip Bulanan: Mei 2013

LELAKONE PAIJO

163801_demo-buruh-pertamina_663_382
disiarake dening harian solo pos jagad jawa

Tanggal enom, tanggalane wong buruh pabrik blanjan kudune Paijo bungah atine. Nanging kasunyatan dudu kuwi sing rasakne Paijo sing kedurung-durung malah susah. Kanggo buruh pabrik sing sarwa kurang kaya dheweke, kahanan iki sing adat kalakon.
“Wingi Pak Marno sampun nagih duwit kontrakane Mas?” semaure bojone karo nduduhke memo saka Pak Marno ana kertas sesuwek. Isine tulisan : Sampun nunggak rong wulan mas duwit kontrakan. Yen taksih nunggak maleh, kontrakan bakal kula wenehake tiyang sanes!
Liyane kuwi ana tagihan warung sing kudu dibayar.
“Warunge Bu Surti sampun rong sasi dereng disaur mas. Kula mboten wani utang maneh yen dereng dilunasi dhisik.”
Paijo judeg mikir mecahne masalahe kuwi. Intine gajine dheweke ora nyukupi kanggo nyaur utang kabeh. Keporo tambah nggrantes maneh dheweke dirumahke saka pabrik triplek, papan panggonane nyambut gawe lima welas tahun kuwi.
“Niki samun kebijaksanaan pabrik mas. Pabrik kapeksa ngelongi pegawenipun. Panjenengan punika satunggalipun pegawe ingkang dipun lereni rumiyin. Menawi mangke wonten tambahan pegawe panjenengan badhe ditimbali maleh. Kula namung ngaturaken punapa ngendikane Pak Direktur. Lan niki gaji pungkasan panjenengan kaleh sekedhik arto saking pabrik kangge tali asih.”
Paijo metu kluntrang-kluntrung saka jero kantor direksi. Nasibe ora bedha karo kanca-kancane liyane. Dheweke ngerti cara licik direksi kanggo ngurangi para pegawe lawas. Wiwit mulane para pegawe lawas dirumahke nganti suwe babar blas ora ana panggilan. Mesthi wae kahanan sing ora kepenak kuwi marakne wong terus bingung. Akhire para pegawe sing dirumahke pilih metu dhewe saka pabrik golek gaweyan liya. Saka kahanan iki pabrik genah entuk keuntungan ora kudu nyangoni pegawe minangka mbayar duwit PHK.
Dheweke uga ngerti yen pabrik sakjane isih terus nambah pegawe kontrakan anyar. Rencanane kabeh pegawe lawas mau diucali siji-siji saka pabrik diganti pegawe kontrakan anyar. Pegawe kontrakan luwih gampang disetir pabrik amarga pegawe kontrakan ora duwe hak apa-apa neng pabrik umpama metu utawa dipecat saka pabrik.
Paijo bingung mikirke nasibe sak banjure saka pabrik. Duwit ora akeh kuwi mesthi wae entek yen kanggo nyaur utang kabeh. Blanja mung sakjuta ditambah duwit tali asih mung rong atus ewu wae bisa tekan ngendi?
Nanging Paijo wis pasrah. Duwit saka blanja pabrik kabeh diwenehke bojone. Lanjutkan membaca

Gupala Buntung

dimuat di joglosemar 2/5

1514221_gupala200cm
Kehidupannya terlampau sederhana. Sebagai seorang pemahat yang ingin terus berkarya ia memutuskan untuk menyepi dengan tinggal di puncak Lawu, di antara bedeng rumah seng yang dibangun untuk para peziarah di Argo Dumilah . Untuk hidup ia mencari kayu bakar yang dijual ke warung Mbok Yem. Sebagai gantinya ia mendapatkan makanan, beras serta mie instan. Kadang kala ada pengunjung yang datang membeli sebuah patungnya, yang rata-rata ornamen dan abstrak saja. Ia tak pernah memasang harga pada patung-patungnya itu.
“Itu hanya untuk keindahan saja. Silakan dibayar seikhlasnya.”
Pernah seorang pejabat tinggi datang ke puncak Lawu ini membeli sebuah patung dengan harga sepuluh juta. Padahal itu hanya patung biasa. Si pemahat tentu tidak menolak. Tetapi ketika mendengar patung itu ditaruh di ruang kerja si pejabat, dan setiap malam tertentu diberi bunga tujuh rupa serta dibacakan mantra-mantra, si pemahat marah-marah dan membakar beberapa patungnya yang lain.
Si pemahat tak menginginkan karyanya disembah dan diperlakukan begitu. Hal itu membuatnya tersinggung.
Maka sejak itu ia memutuskan tidak menjual lagi patungnya. Namun karena itulah para pembeli makin berdatangan. Hingga ia terpaksa turun gunung dan menyepi di komplek pemandian di Matesih ini. Di komplek pemandian ini tempatnya sepi dari pengunjung dan nyaman untuk bekerja.
Karena turun tak membawa apa-apa, ia mulai kesulitan mencari makan. Pekerjaannya banyak menumpuk tak selesai. Sudah seharian ia belum makan. Kemarin saja ia hanya makan sebuah durian pemberian dari seorang pedagang di depan komplek pemandian ini. Tetapi perutnya masih berkukuruyuk kalau belum kemasukan nasi. Ia ingin makan nasi.
Ia terpaksa berhutang ke sebuah warung makan yang dekat tempat kerjanya. Ia akan membayarnya dengan salah satu patungnya yang sudah jadi itu, yang paling bagus.
Pemilik warung yang jatuh kasihan, membolehkan.
“Ibu boleh pilih salah satu patung-patung itu. Harganya cukup mahal kalau dijual untuk souvenir lagi,” kata si pemahat.
“Tidak usah Pak. Kalau sampeyan lapar, silakan ke sini. Makan di sini. Soal bayaran besok kalau sudah ada uang.”
Si pemahat berterima kasih pada si pemilik warung. Bahkan si pemilik warung itu berbaik hati ikut mempromosikan patung-patung karyanya.
“Apa dia membuat patung Gupala seperti yang di taman depan itu? Kalau ada aku mau beli. Banyak sih yang terbuat dari batu, tapi saya ingin yang terbuat dari kayu,” tanya seorang pengunjung. Sepertinya pengunjung ini orang berduit atau seorang pejabat. Mobilnya di depan bagus. Jika dilihat dari nomer plat mereka mereka adalah pejabat nomer satu di kota Solo ini. Dan dari lagaknya yang misterius, tampaknya ia tak jauh beda dengan beberapa pejabat yang senang melakukan ritual-ritual mistis di lereng Lawu ini. Lanjutkan membaca

Perayaan Kesepian Perpustakaan Daerah Karanganyar

Perpustakaan-Daerah-Karanganyar
Road show perpustakaan nasional berjalan dengan setengah hati. Acara yang berlangsung ahad, (23/12), yang dihadiri berbagai eleman masyarakat, pelajar, mahasiswa, komunitas sastra, masyarakat umum, di pendopo Bupati Karanganyar berlangsung semacam seremonial belaka atau membenarkan tuduhan sebagian peserta, acara itu hanya untuk ‘menghabiskan anggaran akhir tahun’. Apa pasal? Acara yang seharusnya digadang menjadi jembatan antara masyarakat buku di karanganyar dan perpustakaan nasional itu, yang dalam undangannya akan menghadirkan narasumber yang kompeten dan lengkap, ternyata sangat bertolak belakang. Bupati yang dijadwalkan hadir juga tidak hadir dan hanya lewat sambutan wakilnya saja. Kepala perpustakaan nasional juga tidak hadir juga diwakilkan. Setda Karanganyar, juga tidak bisa hadir. Anggota DPR Komisi X yang terhormat yang menjadi wakil rakyat, yang seharusnya selalu turut serta berada di depan untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, seperti yang selama ini mereka citrakan, ternyata juga mangkir! Hingga akhirnya dalam keadaan yang tertatih-tatih acara itu tetap berlangsung dengan dua narasumber, yaitu kepala perpustakaan karanganyar sendiri dan perwakilan dari perpustakaan nasional Jakarta.

Nasib Masyarakat Buku di Karanganyar
Seakan sudah menjadi aib bagi Karanganyar, bahwasanya keberadaan buku dan perpustakaan bukan sebagai variabel yang seksi dalam konstelasi politik praktis apalagi ketika sudah merambah pada kekuasaan. Inilah yang terjadi pada nasib perpustakaan daerah karanganyar. Rencana perpusda karanganyar akan digusur untuk perluasan open space alun-alun karanganyar, setelah dulu sempat pindah dari gedung olahraga ki ageng serang beberapa tahun silam, dan sekarang akan dipindahkan ke bekas RS Kartini, timur radio Swiba. Kondisi yang selama ini tidak lebih baik dengan nebeng di gedung milik KODIM itu, sekarang nampaknya akan menjadi lebih buruk dengan ‘dimasukkan ke bekas rumah sakit Kartini itu’. Menjadi pertanyaan, apakah sudah sangat sakit kondisi masyarakat buku dan perpustakaan di Karanganyar?
Lanjutkan membaca