Arsip Bulanan: Agustus 2013

Promo Novel Anak : Laskar Anak Pintar

1234814_1402584506635211_1356398086_n

Sholeh, Maman, Lukman, Daud, dan Iqbal, adalah lima sekawan. Mereka berlima hidup di sebuah daerah pedesaan yang cukup jauh dari perkotaan. Mereka berlima adalah anak dari orang-orang miskin dan sederhana. Sholeh adalah anak lelaki penjaja pisang goreng keliling kampung dengan berjalan kaki. Namun demikian, Sholeh adalah anak yang berprestasi dan selalu mendapat beasiswa.

Maman adalah satu di antara lima sekawan yang tidak sekolah karena bapaknya yang hanya buruh serabutan, tak mampu menyekolahkan. Padahal, Maman sebenarnya sangat ingin sekolah, memakai baju merah putih.

Biarpun mereka berlima miskin dan sederhana, bahkan ada Maman yang tidak sekolah, namun mereka mampu memikirkan jalan keluar masalah bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka adalah anak-anak yang kritis dan cerdas. Lalu, pada suatu hari ada kejutan buat Sholeh dan Maman yang membuat keduanya sangat bahagia. Kejutan apakah itu? Ikuti perjalanan seru lima anak desa ini hingga selesai, ya!

Penulis Andri Saptono,
Penerbit : Indiva Kreasi (Lintang)
ISBN : 9786021614006
Tebal : 124 hal
harga 18.500,-

kalau mau beli online di sini
http://indivamediakreasi.com/new/index.php?route=product/product&path=59&product_id=166

Memanusiakan Kaum Marginal Kota

13023504532082239972
dimuat di UNSA27

Jalanan jelas bukan tempat yang tepat bagi pengemis, pengamen, gelandangan dan kaum marginal lainnya. Selain mengganggu kelancaran lalu lintas dan merusak pemandangan di perjalanan, lalu lalang kaum marginal di jalanan bisa menimbulkan terjadinya kecelakaan lalu lintas, yang tidak hanya kerugian bagi mereka tapi juga pemakai jalan yang lain. Di Solo sendiri walaupun sudah ditetapkan dalam Perda No. 6 tahun 2005 tentang larangan berjualan, mengemis dan mengamen di jalan Slamet Riyadi, hal ini masih saja kerap terlihat dalam keseharian para pengemis atau pengamen yang sengaja memasang diri di kawasan-kawasan larangan mengemis dan mengamen ini.
Dari sudut pandang pemakai jalan, jelas mereka merugikan dan mengganggu pemakai jalan. Mereka tidak boleh berkeliaran sambil mengetuk tiap jendela mobil atau menadahkan tangan kepada setiap orang yang lewat. Namun untuk mengusir mereka pergi dari jalan raya itu saja niscaya hal itu juga bukan hal mudah. Para pengemis dan pengamen itu menganggap jalanan adalah tempat yang paling mudah untuk mencari uang, mencari sesuap nasi agar mereka bisa makan. Sementara itu jalan diperlukan untuk mobilitas setiap pemakai jalan yang memerlukan ketertiban, kelancaran, dan kemudahan dalam mencapai tujuan. Dari kontradiksi inilah hal ihwal kemacetan salah satunya terjadi walaupun tentu juga banyak variabel lainnya yang mempengaruhi.
Pilih Pembinaan atau Pergi
Di beberapa titik di kota Solo, kaum marginal yang memilih mencari maisyah (penghidupan) di jalanan ini sangat beragam. Dari pengamen berbekal ecek-ecek, pengemis anak-anak yang harusnya saat itu bersekolah, hingga perempuan tua yang seharusnya berada di tempat yang nyaman bukan di jalanan yang panas dan keras, atau gerombolan punk yang ingin menunjukkan eksistensi mereka, yang kadang berumah di trotoar, hingga menjadi keluhan bagi pemakai jalan yang lewat. Lanjutkan membaca

Pemimpin Peduli Pendidikan

opini dimuat di joglosemar 21/8

images
Perpustakaan seakan tidak lagi kompeten untuk jaman edan (Kalatida) sekarang ini. Seperti yang dinujumkan Ranggawarsita, yen ora ngedan ora keduman. Ilmu pengetahuan di bumi pertiwi ini kalah pamornya dengan kekuasaan uang. Ada ungkapan bahwa di jaman ini tidak diperlukan lagi orang cerdas, namun cukup orang bejo saja. Wong pinter kalah karo wong bejo. Hal ini didistorsi lebih parah lagi terutama dalam memilih seorang pemimpin. Contoh praktisnya, ketika pesta demokrasi berlangsung untuk memilih pemimpin, entah itu Pilgub, Pilbup, Pilkades, suara masyarakat masih tetap sama memihak pemimpin yang royal membagikan uangnya. Hal ini senyatanya memang hampir rata terjadi dan menjadi penyakit kronis bangsa ini.
Perpustakaan di Kota Intanpari
Setelah beberapa kali nomaden dari GOR Ki Ageng Serang dan gedung pinjaman Kodim Karanganyar, Perpustakaan Daerah itu menduduki gedung bekas RS lawas. Tempat ini nyaris tak terlihat sebagai perpustakaan. Pengunjung mulai menurun drastis apalagi jam kunjungan yang dulu sampai jam delapan malam, kini terbatas sampai jam enam. Sangat kontras sekali dengan pembangunan ruang publik lain yang kini sedang digalakkan Karanganyar. Demi membuat ruang terbuka di alun-alun Karanganyar, gedung perpustakaan dan gedung informasi kota itu sekarang dirobohkan. Sementara perpustakaan harus menghuni bekas gedung rumah sakit lama, yang konon berhantu.
Namun sebenarnya bukan tentang gedung berhantu itu yang harus kita khawatir dari masyarakat buku Karanganyar. Apa yang menjadi lebih mendesak adalah membuat sebuah gedung perpustakaan mandiri. Dengan sistem otonomi daerah seharusnya Kepala Daerah atau Bupati bisa menghidupkan perpustakaan sebagai wahana pendidikan bagi publik. Hal ini sudah terjadi di Wonosobo. Di sana, perpustakaan dijadikan sarana umum yang nyaman, dirawat, dan disesuaikan dengan keadaan jaman yang modern. Bukan terbatas perbaikan gedung perpustakaan saja, tetapi juga mendudukan peran perpustakaan terdepan sebagai agen pencerdasan bangsa. Lanjutkan membaca

Hujan Bulan Juni

dimuat di majalah Respon

hd-wallpaper-otife-rose-and-rain-wallpapers
Hujan tiris bagai tirai dari langit menjatuhi bumi. Dedaunan basah begitu segar dipandang mata. Anak-anak kecil berlarian di jalanan, menggiring bola menuju ke lapangan. Sorak sorai mereka tak pernah bosan menyambut hujan yang datang di awal tahun baru ini.

Barangkali hanya Laksmi dan si penjual martabak yang berteduh di emper toko yang tutup itu, yang bosan dan benci kepada hujan. Pedagang martabak itu tentu karena hujan menghalangi dirinya menawarkan martabaknya berkeliling ke gang-gang perumahan. Dagangan masih utuh tak berkurang, alamat api dapur tak bisa mengepul. Namun apa yang Laksmi benci dari hujan? Bukankah hujan turun membawa kesegaran. Hujan membasahi setiap tanaman di taman rumahnya hingga bersemi indah. Di kota ini hujan turun tidak terlalu deras, malah cenderung teratur sepanjang tahun yaitu pada bulan tertentu saja. Beberapa orang mengatakan karena masih banyak agamawan yang tinggal dan setiap hari berdoa kepada Sang Maha Pencipta. Sedangkan para akademisi menyimpulkan karena masih banyak hutan dan danau di sekitar kota ini yang menyebabkan siklus alam berlangsung dengan teratur. Adalah pula hal terakhir ini yang sebenarnya membuat Laksmi dan suaminya memilih membeli rumah di pinggir kota ini -karena keindahan danau-danau kecil dimana angsa dan bebek liar masih berkeliaran.

Ya, entah mengapa Laksmi enggan bersahabat dengan hujan. Pandangan matanya menentang dari daun jendela kepada halaman yang basah. Terkadang matanya meluapkan air mata seakan tak dapat membendung lagi kebenciannya kepada hujan itu. Lanjutkan membaca