Arsip Bulanan: Oktober 2013

Peneguhan Kota Inklusi

36693133506-41842432506-sekolah_ingklusi
dimuat di Suara Merdeka cetak/ 21 Oktober 2013

Pencanangan Solo sebagai Kota Inklusi oleh Wali Kota Solo pada akhir September lalu adalah ’’proyek besar’’. Mewujudkan cita-cita luhur seperti itu tak semudah membalikkan telapak tangan karena harus berlandaskan kesadaran komprehensif dan intensif. Dimulai dari tiap pribadi dan ditularkan ke tiap hati untuk menjadi semangat berbagi yang universal.
Salah satu kisah masyhur Ummi Maktum, tunanetra yang meminta pengajaran kepada Rasulullah mendapat tempat di Alquran, bisa menjadi sebuah upaya memunculkan kesadaran komprehensif sekaligus intensif. Saat itu Allah Swt menegur Rasulullah karena bermuka masam dan berpaling dari Ummi Maktum yang buta itu.
Padahal Nabi saw baru saja menyeru pembesar Qurays untuk masuk Islam. Walaupun Allah akhirnya memberitahu bahwa mereka, para pembesar Qurays itu, sebenarnya enggan diberi petunjuk. Adapun Ummi Maktum benar-benar berniat ingin diberitahu tentang kebenaran. Kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran penting dari kisah itu, berkaitan dengan penanganan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK).
Salah satunya adalah mengakomodasi rasa keingintahuan mereka dan mendukung keinginan untuk tumbuh dan berkembang. Dalam Wikipedia, anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus, berbeda dari anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.
Mereka antara lain tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, dan anak dengan gangguan kesehatan.
Pasal 15 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas menyebutkan jenis pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus adalah pendidikan khusus. Pasal 32 (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 memberikan batasan tentang peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/ atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Lanjutkan membaca

Berkompetisi Tanpa (Menjadi) Kompetitor

Business Executives Running in a Race

Persaingan dan Studi Kasus
Persaingan dalam usaha selalu tak terelakkan. Beragam cara ditempuh agar tidak hancur dalam pertempuran. Bahkan laku menghalalkan segala cara tak segan akan dilakukan untuk menjadi pemenang. Dari pelanggaran terkecil hingga pelanggaran kehormatan pihak lain yang mengundang jeratan pidana.

Sebenarnya ada satu kaidah indah yang bisa dipahami untuk memenangi persaingan itu atau minimal tidak kesingsal dalam kompetisi. Ya, dengan memahami bahwa kompetitor itu sebenarnya bukanlah kompetitor. Artinya adanya kompetitor tidak perlu harus kita takuti apalagi dimusuhi. Dengan memakai laku seperti ini kita akan lebih mudah mengelola perasaan saat menghadapi persaingan. Dengan cara begini pula jika tekanan persaingan menggencet kita, tak perlu kita merasa stress dan depresi.

Ada landasan besar yang dipakai untuk bisa sampai pada kepahaman di atas. Hal ini tidak bisa tidak harus diyakini. Kepahaman itu adalah pengertian bahwa sebenarnya rejeki manusia sudah diatur oleh Tuhan Yang Mahaadil. Tugas kita hanya menjemput rejeki kita sendiri yang sudah ada, dan syaratnnya adalah tawakal. Pengertian tawakal sendiri hakikatnya memadukan antara laku kerja dan doa.

Ada sebuah kisah menarik dari sebuah usaha bimbel (bimbingan belajar) di Solo. Sebut saja bimbel ini bernama Smart Learning. Ketika akan memulai usaha bimbel tersebut, sang pemilik dan sekaligus pengajar ini sempat merasa galau dan bingung. Ia melihat banyak bimbel besar di sekitarnya. Jika ia membuka bimbel apakah tidak akan gulung tikar karena persaingan. Jangan-jangan bimbelnya nanti malah tidak laku?
Lanjutkan membaca

Karanganyar Bukan Impian Semusim

pemim
dimuat Joglosemar, dengan judul Menanti Gebrakan Yu-Ro Jumat, 11/10/2013

Pemimpin baru Karanganyar Juliyatmono dan Rohadi Widodo (Yu-Ro) ditetapkan sebagai pemenang Pilkada akhir September lalu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Wahyu pulung konon telah memilih dan manjing pada Sang satria piningit. Namun satria piningit sekalipun tidak begitu saja kalis nirsambikala, terhindarkan dari marabahaya, dan tidak tersentuh godaan berbuat kesalahan selama memimpin pemerintahan. Atau bahkan menganggap remeh persoalan dan masalah yang diwariskan dari pemimpin sebelumnya. Sebaliknya pemimpin terpilih harus tetap berbenah, harus tetap belajar, membangun dan mewujudkan cita-cita menuju Karanganyar menuju kota modern yang dinamis dan mempunyai integritas, yang memayu hayuning bawono.
Ada kaidah untuk mengedepankan menerima kritik daripada pujian. Hal ini dilakukan agar pemimpin tahu dan bisa menyelesaikan agar tiap masalah tidak menjadi api yang lebih besar dan bisa menghapuskan semuanya. Sebagai contoh pemimpin yang mau membuka telinga kepada rakyatnya adalah ketika Umar bin Khathab terpilih menjadi seorang amirul mukminin (orang yang dapat dipercaya), maka dia berpesan kepada rakyatnya, agar jika dia buat kesalahan segera diluruskan dan jika dia berbuat yang menyalahi peraturan untuk diingatkan. Hal ini pun terjadi ketika dia berkhotbah, maka saat itu ada seorang perempuan yang berani menyela. Umar meradang. Lanjutkan membaca