Arsip Bulanan: November 2013

Solo, Bukan Impian Semusim

kota-solo

Pasca Jokowi naik kelas menjadi gubernur DKI, kota Solo tidak boleh seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Solo belum selesai. Sebaliknya Solo harus tetap berbenah, bersemangat belajar demi mewujudkan cita-cita menuju kota modern yang dinamis dan mempunyai integritas.

Solo harus selalu berbenah wajah dan penampilan untuk menjadi kota metropolitan yang peka jaman. Pelayanan publik harus ditingkatkan dan makin profesional. Peran kota sebagai pelindung dan maesenas cagar budaya jangan kalah dan teriming-imingi oleh dolar kapitalisme. Apalagi sekarang saat animo masyarakat dalam meramaikan kota Solo dengan pagelaran serta festival budaya selaras dengan cita-cita Solo memayu hayuning bawana.

Solo yang sarat aura kreativitas akhir-akhir ini tak pernah tidur dengan pagelaran dan festival budaya semisal Solo Batik Carnival (SBC), SIEM, SIPA. Pelayanan publik kian modern dan berkualitas, seperti Solo Batik Trans, dan rencana ke depan Railbus Batara Kresna yang akan memudahkan transportasi di Solo. Birokrasi juga sudah mulai terbuka, isyarat akan kemajuan yang lebih siginifkan sebagai kota metropolitan. Meskipun masih ada beberapa masalah kecil di lapangan, namun dengan tekad kuat untuk membangun, seluruh jajaran aparat pemerintahan di Solo dan seluruh rakyatnya pasti bisa melalui semua itu dengan sukses.

Lantas, apa yang hendak ditawarkan Solo untuk warganya dan untuk yang di luar Solo? Apakah Solo sekedar sebuah tempat pariwisata yang bebal mengais kejayaan masa lalu lewat keraton dan peninggalan purbakala lainnya demi sekedar eksotisme berdebu. Atau terus bernafsu menawarkan inovasi karya baru yang gagap belaka namun kosong isi?
304

Kita ketahui berbagai pagelaran dan festival budaya digelar, memenuhi jalan dan memacetkan lalu lintas, atau even car freeday yang disadari ternyata menimbulkan ekses kemalasan komunal dan menghambat mobilitas modernisasi.

Kita pasti sepakat ternyata tidak semua pagelaran dan festival budaya itu memberikan semangat dan ghirah kepada Solo yang mempunyai misi memayu hayuning bawono. Justru semakin banyak karya digelar, kita harus selektif karena tidak semua karya sesuai wajah dan semangat Solo yang adiluhung. Diakui beberapa karya dan festival budaya yang kerap terjadi hanya bentuk kelatahan belaka, epigonisme dan sikap oportunis warga. Pun bila hendak jujur, kita akan banyak melihat pameran, eksibisi di jalanan atau pasar malam yang rutin diadakan dan berbagai pemborosan lainnya yang mengatasnamakan tradisi, bila kita lihat lebih detail dan hitung lagi dengan cermat, akan banyak menimbulkan kesangsian bahwa semua itu sesuai dengan modernitas kota. Jika sebuah jiwa masyarakat pada sebuah kota lebih banyak digencar dengan even seperti itu, nyaris kota Solo akan tertidur dalam pesta pora belaka, jauh tertinggal dalam kemajuan jaman yang kini lebih banyak dipimpin daerah-daerah lain.

imagesSS

Dalam hal ini nun kita bisa berkaca kepada China atau Jepang dalam penataan kota yang mampu menyeimbangkan antara semangat modernitas dan spiritualitas. Contoh sederhana adalah masalah sampah. Kita tahu masalah kebersihan tak pernah terlepas dari faktor iman dan spiritualitas. Orang Jepang, bisa bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri, tidak menyusahkan orang lain bahkan ketika membuangnya. Sikap dan etos kerja mereka telah terdidik dengan disiplin yang tinggi. Dan semua itu tak akan kita dapatkan dari sebuah keramaian dan intensitas pagelaran, yang cenderung meninggalkan sampah di mana-mana. Selain itu jika kita menatap wajah pengendara jalanan di Solo yang cenderung masih arogan, baik itu angkutan umum maupun pribadi, hal ini tak akan sekejap terselesaikan dengan sebuah event car freeday saja. Harus ada ‘pembelajaran’ tentang peraturan atau undang-undang yang mengatur masyarakat berkaitan penggunaan jalan raya sebagai ruang bersama untuk saling memberi manfaat. Tentu semua itu tak akan terjadi jika tak dibarengi dengan percepatan ke arah peningkatkan intelektual masyarakat. Ya, Solo jangan hanya menjadi kota pagelaran atau tempat hiburan belaka. Jadikan Solo sebagai kota pembelajaran. Jadikan Solo sebagai tempat kita menjadi lebih beriman kepada nilai-nilai kebajikan yang universal.

800px-Seafront_in_Kobe_City_Aut09_03

Para pemimpin Solo (pasca Jokowi) harus makin diingatkan menjadi tugas kita bersama -selain menuntut rakyat untuk kerjasamanya- untuk memberikan contoh dan tauladan di depan (ing ngarso sung tuladha tut wuri handayani). Supremasi hukum harus ditegakkan. Jangan menjadi pemimpin yang kerdil. Dan tidak lupa pembangunan kota Solo di segala aspek harus di tangan orang yang ahli karena Solo bukanlah impian fiksi yang tak nyata. Tapi nyatakan ia sebagai sebuah kota yang terbuka bagi kemajuan jaman dan peningkatan intelektualitas warganya. Saya yakin Solo yang hari ini kerap diguncang isu sebagai sarang teroris, penulis yakin akan menjadi kota dengan peningkatan spiritualitas yang menakjubkan karena Solo membuktikan dengan pelayanan publik yang indah dan simpatik. Dan cita-cita luhur itu tentu saja bukan sekedar impian semusim.

*Aktif di Komunitas Pakagula Sastra Karanganyar.
Kontes Tulisan Tentang Solo

Ibu Vs Nenek Jahat

dimuat di joglosemar 10/11

Nenek Jahat
Kematian Nenek jahat di subuh itu memang tak mengejutkan siapa-siapa. Kami yang merupakan keluarga Nenek selalu menganggap bahwa hanya kematian yang membuat jiwa Nenek yang gelisah dan tiba-tiba menjadi jahat pasca sakit stroke yang menimpanya itu adalah pintu gerbang ketenangan untuknya di alam akhirat. Namun, ada yang membuat kami heran, hampir mendekati sebuah rasa ketertakjubkan sebenarnya saat mendapati Nenek memejamkan mata selamanya itu. Ya, kami tak habis pikir akan bisa mendapati sebuah senyuman di wajahnya, senyum lebar dan ikhlas, seolah-olah Nenek jahat tengah merasa bahagia menyambut dunianya yang baru. Hal ini jelas tak sama dengan bayangan kami yang mengira kematian Nenek akan menjadi sebuah melodrama yang memilukan. Dipanggang rasa sekarat dan kebencian yang merasuki umur-umur tuanya itu, yang membuat ia tersengal-sengal ketika sakaratul maut.

Ah, kehidupan Nenek selalu menjadi misteri bagi kami. Nenek mempunyai perangai yang sulit kami mengerti dan sulit kami pahami. Sejak sembuh dari sakit stroke perilakunya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bisa sangat kejam kepada siapapun, termasuk kepada anak-anaknya. Nenek juga memilih hidup sendiri dan menolak tinggal dengan anak-anaknya. Ia mengerjakan semua sendiri di rumahnya di desa; mencari kayu bakar di kebun dan menjemur kayu-kayu itu di halaman untuk kemudian dipakai memasak di pawon . Anak-anaknya yang sudah putus asa menyuruh Nenek ikut tinggal bersama mereka hanya diperbolehkan membawakan beras dan sayur setiap bulan.

Aku pernah diajak Ibuku mengantarkan catu saat Ayah sedang dinas keluar kota. Ibu satu-satunya menantu yang mau pergi ke rumah Nenek. Semua menantu yang lain tak berani atau pura-pura sibuk, karena enggan berhadapan dengan Nenek yang mereka sebut sudah maleh –untuk tidak mengatakan bahwa Nenek sudah hilang kewarasannya.

Saat kami datang itu Nenek sedang tak di rumah. Mungkin sedang mencari kayu bakar di kebun seperti biasa. Kami bisa masuk ke dalam rumah karena pintu tak terkunci. Menurut cerita Ibu, nyaris tak ada tetangga yang mau bergaul dengan Nenek karena mereka menganggap Nenek sudah tidak waras dan berbahaya.
Ibu menyuruhku membuka semua pintu dan jendela untuk membersihkan rumah tua ini, agar ‘hantu-hantu’ dari kegelapan rumah ini pergi. Sungguh sulit membayangkan ada orang tinggal dalam kamar yang serba berantakan dan pengap seperti kuburan ini. Di meja tergeletak segelas teh sisa yang sudah dingin. Mungkin teh kemarin sore yang belum dibawa ke tempat cuci. Sarang laba-laba menghiasi di sudut-sudut ruangan menjadi hiasan abadi interior rumah tua ini.

Iseng kunyalakan radio transistor tua di atas lemari yang sudah diselimuti debu. Suaranya kemrosok. Kucari chanel musik pop kesukaanku.

“Kita bawa ke loundry saja Bu? Nggak usah repot-repot mencuci,” kataku saat Ibu keluar dari kamar sambil membawa kain pesing milik Nenek. Lanjutkan membaca

Love Bird

Love-Birds
dimuat di majalah Respon bulan Oktober

Sepasang burung love bird cantik hadiah dari saudara sepupu Luna yang tinggal di Papua. Berbulu hijau mangga dan paruh warna semangka. Sebuah kado pernikahan yang lucu. Mereka tak pernah mengira akan mendapatkan sepasang burung cantik itu, alih-alih tak tahu bagaimana memelihara sepasang love bird. Konon dengan memelihara burung love bird akan membuat ikatan cinta pasangan menjadi langgeng.

“Burung itu mahal lho Mbak, jual aja. Harganya bisa sampai 6 juta seekor. Kalau sepasang begini, wah, itu bakalan lebih mahal,” pendapat adik perempuan Luna, yang tampaknya hanya tertarik dengan uang.

Luna tak akan menjualnya, hal itu menjadi keputusan. Adam, suaminya sendiri hanya mengangkat bahu. Terserah kau, katanya. Ia memang sedang sibuk untuk menyelesiakan tesis yang ia targetkan selesai di tahun ini.

Luna menjadi sibuk sendiri dengan burung love bird. Ia mulai gemar browsing love bird di jejaring sosial Kaskus atau facebook. Bagaimana pola makan mereka. Bagaimana cara memandikan mereka. Ia juga berencana pergi ke pet shop di kotanya agar bisa mendapat informasi yang jelas.

“Ayolah temani aku ke sana,” pinta Luna pada suaminya.

“Kenapa tidak cari di internet saja. Tinggal browsing ke Mbah Google, pasti ketemu.”

“Ah, itu tidak akan membuatku lebih paham. Kita lihat saja langsung mereka yang punya.”

Adam terpaksa manut diajak pergi ke pasar burung. Sesampai di sana, Luna langsung mencari penjual tempat burung love bird. Lanjutkan membaca