Arsip Bulanan: Desember 2013

NEGARA DAN MORALITAS KONDOM

dimuat di joglosemar 6/12
pekan-kondom
Kondom bagi pemerintah adalah alat pencegah penularan HIV/AIDS, penyakit menular (PMS), dan kehamilan beresiko yang tidak dikehendaki, yang bisa diedarkan secara masal. Dengan ini pula pemerintah menggandeng pihak produsen kondom untuk mengkampanyekan Pekan Kondom Nasional 2013 pada 1-7 Desember.
Menurut Ibu Menkes (Menteri Kesehatan) Nafsiah Mboi, kampanye kondom tidak akan dibagikan ke masyarakat umum. Atribut kampanye berupa penggunaan bus yang berwarna merah dengan gambar artis seksi yang mengundang mata jelalatan itu, konon hanya ditujukan pada daerah hilir, seperti tempat lokalisasi atau kolong jembatan, yang menurut mereka sangat rentan dengan penularan PMS. Memang fakta di lapangan jumlah kasus HIV di Indonesia secara kumulatif dari tahun 1987 hingga Maret 2012 sebesar 82.870 kasus dan AIDS sebesar 30.430 kasus. Kasus paling banyak pada usia produktif 20-29 tahun. Perlu dilakukan upaya pencegahan komprehensif dalam penanggulangannya.

Namun kedua point mulia itu ternyata mempunyai lobang besar. Terlihat betapa kampanye kondom untuk memerangi HIV/AIDS sangat prematur, apalagi diharapkan dapat mengharamkan penyakit perzinaan yang kini meruyak di masyarakat.

Kronik Kondom
Dari sisi medis terbukti kondom bukanlah alat yang tepat untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Kondom hanya dapat mencegah penetrasi sperma bukan mencegah penetrasi virus HIV/AIDS. Alasannya karena proses pembuatan pabrik kondom memiliki lubang cacat mikroskopis atau “pinholes”. Dalam konferensi AIDS Asia Pasifik di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa pengguna kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikro dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaaan meregang pori-pori tersebut mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom. Bahan latek ini tidak bisa diandalkan untuk mencegah kehamilan. Jika Menkes mengatakan bahwa kondom dari latex ini aman dari penyegahan HIV/AIDS hal itu jelas membohongi publik.

Kemudian jika dikatakan bahwa kampanye dengan bus merah bergambar artis seksi itu hanya ditujukan pada hilir, atau tempat-tempat dengan tanda merah saja, hal itu sama sekali bohong. Fakta di lapangan, kampanye kondom dilakukan di depan kampus UGM secara random. Para mahasiswa selain dibagikan buku tentang HIV/AIDS tetapi di dalamnya diselipi 3 kondom gratis. Pesan ‘perempuan seksi pada bus merah’ dan 3 kondom gratis mengatakan ‘silakan kalian boleh berzina dan akan kami beri kondom gratis’.
Materi iklan pekan kondom nasional yang diinisiasikan oleh KeMenkes ini jelas telah mengkhianati UU Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Khususnya Pasal 4 yang menyebut setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit.
Lantas, apakah ini kesengajaan? Atau sebuah proyek bodoh yang dikerjakan oleh orang bodoh dari jajaran bidang kesehatan?

Kontroversi
Kampanye kondom di berbagai belahan negara lain juga menuai kontroversi tidak hanya di Indonesia. Di Inggris, di Kenya, di Malaysia, Philipina, sebagian tokoh masyarakat terdiri dari ulama, pendeta, dan para orang tua menolak kampanye kondom gratis secara umum. Mereka melihat hal itu hanya mendorong pergaulan bebas dan tidak dapat mencegah virus HIV/AIDS.

Kalau menurut Raihan Iskandar yang merupakan Anggota Komisi VIII DPR, “pesan tersembunyi dari program kondomisasi adalah melegalkan free sex. Lebih jelasnya, jika tidak mau hamil karena berhubungan seks, maka kondom adalah solusinya. Akhirnya, dengan kondom maka anak bangsa bisa leluasa berhubungan seks bebas. Lanjutkan membaca

Gawat! Indonesia Siaga Korupsi

oleh Andri Saptono*

seragam-koruptor-_120709164037-914
Prolog
Tidak bisa menutup mata keadaan negara kita dalam kondisi siaga korupsi. Berita tertangkapnya ketua MK, Akil Muktar, karena dugaan korupsi makin membuat Indonesia menjadi legam oleh korupsi. Artinya korupsi telah menjadi budaya dan gaya hidup orang Indonesia dari tingkat tinggi hingga lapisan paling bawah. Dan ini sebagaimana dirilis Organisasi Fund for Peace, kegagalan negara Indonesia menjamin kesejahteraan rakyatnya mendapat peringkat ke-63 seluruh dunia. Mereka merilis indeks terbaru tersebut menggunakan indikator dan subindikator, salah satunya indeks persepsi korupsi. Viva News

Bila dikaji lebih jauh mengapa kian hari korupsi makin subur di Indonesia. Tentu jawabannya bukan sekedar karena presidennya bodoh atau tidak pandai. Tentu saja tuduhan ini pasti akan menuai banyak bantahan. Namun fakta yang menyebutkan korupsi sudah menjangkiti hampir semua lini lapisan masyarakat sudah mengisyaratkan status Indonesia yang “siaga korupsi”. Dan bukan ini saja, lebih gawatnya lagi budaya negatif ini menjangkiti tidak hanya oknum pejabat atau okunum aparat pemerintahan yang seharusnya menjadi teladan dalam memerangi korupsi di Indonesia, namun akan lebih mengerikan kalau virus korupsi sudah menyebar ke instansi dan perusahaan negara di negara muslim terbesar di dunia ini.

Bahkan yang cukup menyedihkan adalah kecendrungan sebagian kalangan untuk mereduksi tindak korupsi. Misalnya bagi kalangan atas, korupsi adalah ungkapan untuk pejabat yang menggelapkan dana perusahaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sedangkan ungkapan bagi rakyat kecil yang mencuri ayam karena kelaparan, mencuri kayu hutan karena tak bisa beli gas elpiji, mengutil pakaian di supermarket karena tak punya uang untuk memberi sandang anaknya adalah status maling yang amat menghinakan. Pun hukuman untuk para maling pun senantiasa lebih sadis daripada koruptor yang menggelapkan trilyunan uang rakyat. Sudah biasa tercetak di koran, diberitakan maling ayam dihakimi massa, mencuri kayu hutan di hukum penjara selama satu tahun, atau yang mengutil pakaian di supermarket akan dipermalukan dengan diarak di jalan. Semua itu berbeda dengan koruptor yang menggelapkan trilyunan uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan segelintir kroco-kroconya, melulu diganjar tahanan kota, dikerubuti wartawan seperti layaknya artis sambil memberi statement pada microphone wartawan, maaf, no coment! Lanjutkan membaca