Arsip Bulanan: Februari 2014

Membeli Kebebasan Ibu

dimuat di majalah Basis, 01-02,2014
Edisi_22012014222233_2014,_BASIS_0102_cover

Seharusnya peristiwa itu tak perlu terjadi jika aku mampu mencegahnya. Maaf, bukannya aku ingin bermaksud membagi cerita sedih ini dengan kalian. Aku sendiri berharap seandainya dapat kembali ke masa lalu. Seandainya aku dapat mencegah peristiwa celaka itu terjadi. Ibu pasti tidak akan masuk penjara dan istriku tidak akan menjadikan Nadya sebagai anak piatu. Pembunuhan itu kutahu tak pernah disengaja Ibu karena akupun berada di sana ketika istriku terbunuh pada malam celaka itu.

Malam itu aku dan istriku bertengkar. Dewi menuduhku terlalu bergantung Ibu dan mengusulkan agar kami berumah sendiri, sedangkan Ibu tinggal dengan Bi Asih. Tapi aku bersikeras semua itu tak bisa kulakukan. Ibu tak mungkin kutinggal sendiri karena Ibu sudah tua dan kewajibanku sebagai anak satu-satunya untuk merawat dia.

“Aku tak bisa melakukan itu. Selama ini waktumu selalu habis di kampus. Bahkan untuk mandi Nadya saja ia harus berbagi dengan tugas mengajarmu.”
“Aku bekerja itu semua demi kebaikan kita juga. Aku tak mungkin hanya diam di rumah menjaga Nadya. Aku bisa gila jika tidak beraktivitas!”
“Ah, terserahlah… aku tetap tak mau meninggalkan Ibu.”
Istriku membanting pintu kamar karena aku bersikeras. Ibu muncul dan menghampiriku. Kutahu Ibuku prihatin dengan pertengkaran kami.
“Aku khawatir rumah ini akan meledak karena pertengkaran kalian. Makin lama kalian seperti air dan api, tidak bisa disatukan. Ibu tidak akan terlalu sedih kalau kalian bercerai. Kau pun tak perlu harus beristri seorang dosen. Seperti Bi Asih tak apa-apa, asal selalu di rumah merawat Nadya.”
“Ini tidak sesederhana itu, Bu.”
Tak dinyana istriku ternyata mendengar percakapan kami. Ia langsung menyerang Ibu.
“Kau perempuan tua tidak tahu malu! Kau mau menyingkirkanku?!”
Ibuku langsung menampar istriku. Istriku tak terima. Mereka bergelut dan saling dorong. Lanjutkan membaca

Resensi Buku Laskar Anak Pintar

oleh Agus Yulianto, S.Pdi
1234814_1402584506635211_1356398086_n
Novel anak yang berjudul Laskar Anak Pintar merupakan gambaran kisah petualangan seorang bocah yang bernama Maman, Lukman, Daud, Iqbal dan Sholeh.Mereka berlima hidup disuatu daerah pedesaan yang jauh dari keramaian kota.

Mereka berlima merupakan anak dari keluarga sederhana.Maman anak seorang buruh serabutan yang meninggalkan bangku sekolahan dikarenakan ayahnya tidak sanggup untuk membiayai sekolah, Sholeh merupakan anak dari seorangl elaki yang berjualan pisang goreng keliling kampung, Sholeh merupakan anak yang cerdas, pandai dan selalu mendapatkan beasiswa.Tak ketinggalan Daud, Iqbal dan Lukman mereka semua sama berasal dari keluarga yang sederhana. Mereka merupakan sahabat yang sejati, meskipun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Dalam hal ini Maman dikisahkan sebagai seorang anak yang tidak menempuh pendidikan Sekolah dan Sholeh merupakan seorang anak yang menempuh pendidikan atau anak sekolahan. Hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk mereka berdua. Biarpun berbeda status sosial ekonomi mereka, rasa kepedulian tetap ada didalam diri mereka. Sikap saling tolong menolong, menghormati sesamanya, serta rasa ingin menegakkan agama dengan cara yang mereka lakukan sungguh sangat mengesankan dan bisa dapat di jadikan contoh untuk anak-anak di era sekarang yang sudah mulai terkikis dengan budaya cyber.

Didalam buku ini kita dapat belajar dari seorang anak kecil yang memiliki kepedulian yang baik untuk lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka anak yang berasal dari keluarga miskin dan sederhana, namun dibalik itu semua mereka mampu menjadi pahlawan kecil di daerah tempat tinggal mereka.Berbagai permasalahan di kampungnya mampu mereka hadapi dan selesaikan bahkan solusipun mereka berikan kepada orang dewasa. Hal ini mengingatkan bahwa anak kecil saja bisa berbuat kebaikan, apalagi kita sebagai orang dewasa selayaknyalah harus bisa lebih baik.

Sumber http://yuliagusyulianto.blogspot.com/2014/02/review-buku-irc.htm