Arsip Bulanan: Mei 2014

Misteri Gedung Berhantu

dimuat di hikayat solo pos

gedung hantuPintu tiba-tiba menutup dengan keras. Tapi tak seorang pun berada di tempat itu. Intan memegang erat tangan Lusia. Merinding bulu kuduknya.
“Ah, itu hanya angin lewat,” ujar Lusia enteng.
“Aku tak percaya lagi kamu! Katamu tadi mau ngajak makan di Cafe Cha. Lalu sekarang kita ini di mana!” protes Intan.
“He he… Iya, itu nanti. Ini tempat sudah lama kuincar.”
Tapi Intan berang. Ia tak peduli dengan soal hobi Lusia yang aneh. Masak anak gadis hobi mendatangi tempat-tempat angker bin keramat. Katanya, hobi ini membuat ketagihan. Tapi pertanyaannya, dari sisi mana hobi ini yang bisa membuat jantung orang putus ini bisa bikin ketagihan? Padahal semua yang ia datangi adalah tempat-tempat angker bin keramat. Selain itu banyak pantangan yang kalau dilanggar akan membuat celaka. Eh, Lusia tetap nekat datang ke sana. Misalnya, makam Ratu Kalinyamat. Tengah malam sendirian masuk ke Lawang Sewu di Semarang. Menurutmu apakah ini sebenarnya bibit penyakit gila Lusia?
Intan yang kali ini merasa sial jadi sasaran Lusia. Habisnya Intan dibohongi kalau ia akan diajak makan-makan ke Cafe Cha.
“Satu jam saja di sini. Entar habis itu makan-makan. Aku tidak akan bohong sama kamu kok.”
Intan masih terus memegangi tangan Lusia dengan erat. Di selasar bekas gedung lawas ini mulai tambah menyeramkan. Tiba-tiba Intan menjerit. Kakinya seperti menginjak lengan orang mati.
“Ssttt. Jangan teriak,” perintah Lusia.
Intan gemetaran. “Ayo kita keluar saja Lus. Aku takut nih…”
“Lihat ini bukan lengan orang seperti sangkamu. Ini sebuah botol cola. Tuh lihat!”
“Apanya yang menarik. Ini jantungku mau copot, tahu!”
Lusia buru-buru memberikan temuannya. “Ada bungkus rokok baru juga. Kamu tahu artinya? Tempat ini juga sering didatangi orang.”
Lusia makin penasaran dengan tempat ini. Jika ada orang tempat ini pasti digunakan untuk sesuatu hal. Apakah uji nyali? Kalau uji nyali sih, ia berani. Apalagi kalau ada hadiahnya. Siapa takut?
Mereka makin masuk ke dalam. lagi-lagi Intan menjerit. Lanjutkan membaca