Arsip Bulanan: Oktober 2015

Resensi buku Tolak Bala, Menepis Bencana dengan Lantunan Doa

Foto0666

Judul Arab          : Raddul Bala’ Biddu’a
Penulis               : Musthofa Syaikh Ibrahim Haqqi
Penerbit              : Darul Hadhoroh Lin Nasyr Wat Tauzi Riyadh
Penerjemah         : Ibnu Abdil Jamil, Arif Munandar
Cetakan Indonesia : September 2006
Penerbit                 : Wip (Wacana Ilmiah Press)

Manusia dan ujian (bala) adalah saling beriringan. Darul dunia (negeri dunia) ini sejatinya adalah tempat ujian bagi manusia. Sedangkan jannah adalah tempat tak ada lagi ujian, namun merupakan kampung pembalasan bagi orang beriman. Sebaliknya, neraka adalah tempat kesudahan bagi manusia-manusia yang tidak beriman.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa : amat baik perkara seorang muslim itu. Apabila dia diberi kesusahan dan ia bersabar, maka ia mendapatkan pahala atasnya. Dan apabila dia diberikan kemudahan kemudian dia bersyukur, maka pahalanya atas hal tersebut.
Dari hal di atas, kita bisa melihat pula pola yang terjadi pada orang-orang shalih, nabi dan para syuhada lainnya yang merupakan kekasih Allah, orang yang sangat dicintai Allah. Mereka juga tak lepas dari yang namanya ujian dan bala. Namun yang membedakan merkea dengan manusia biasa adalah bahwa mereka mampu menyikapi adanya bala dan ujian itu dengan tindakan yang proporsional (baca: sesuai syariat Allah). Artinya, tindakan tersebut mampu mengembalikan ridha Allah kepada merka atau bahkan bisa meningkatkan derajat keimanan mereka menjadi lebih baik lagi. Dan hakikatnya Allah sendiri memberikan ujian kepada manusia adalah untuk mereka menjadi lebih baik tingkatannya.

Disebutkan dalam hadits, bahwa seorang yang tidak bisa beramal kebaikan. Melainkan ia diberikan cobaan hingga ia bersabar dan ia mencapai derajat yang tinggi karena rahmat Allah taala. Jadi ia menjadi hambanya yang mulia justru karena ujian yang diberikannnya itu.

Buku terbitan WIP (Wacana Ilmiah Press) ini memberikan poin-poin penting kepada kita bagaimana kita bersikap menghadapi ujian dan bala yang terjadi pada diri kita. Ketika saya membuka buku ini saya langsung mendapatkan jawaban dari kerumpegan yang terjadi pada hidup saya. Kemudian saya mengambil sikap untuk beristigfar dan berdoa memohon diberikan kemudahan dan kelapangan akan persoalan pada hidup saya.

Jadi artinya ketika membuka buku ini pertama kali, kita pun akan mendapatkan solusi dari Syaikh Ibrahim Haqqi.
Ada beberapa bab penting di dalam buku ini. Dimulai dari pengertian bala secara bahasa dan secara syarak. Kemudian aplikasi dalam al quran dan assunah, tentang solusi mengatasi bala dan doa-doa yang dianjurkan. Lebih meruncing lagi, tentang bagaimana cara memanjatkan doa yang sesuai sunnah, apa faedah doa, implementasi doa berkeanaan dengan cobaan, beberapa persoalan terkait dengan cobaan.

Kemudian diberikan ilustrasi bagaimana para nabi adalah kekasih Allah sedangkan mereka juga tidak semata hidup lempeng-lempeng saja. Mereka juga diberikan ujian dan cobaan. Sekaligus diberikan pemaparan bagaimana mereka berdoa dan membuat ridha Allah dengan keteguhan iman mereka.

Pada bab akhir, kita diberikan tuntunan beberapa doa yang dilantunkan oleh rasulullah saw, seperti doa tertimpa bencana dan kesusahan, doa untuk meraih khusnul khatimah, doa saat melihat orang lain tertimpa doa, dan potret doa para salaf. Sekaligus juga diberikan tentang buah dari doa tersebut.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca indonesia ini. Pelbagai ujian dan kesusahan silih berganti mendatangi negeri ini. Sudah saatnya kita menggerakan diri untuk kembali mencari ridha Allah taala. Marilah kita beristigfar atas segala kesalahan yang kita perbuat. Istigfar ini juga menjadi jalan kemudahan bagi kita agar doa kita diterima. Kemudian juga berdoa sungguh-sungguh, terutama di waktu yang mustajab, insya Allah segala hajat dan kesusahan kita akan diberikan jalan oleh Allah yang maha penyayang. Bahkan Allah mencela orang yang enggan berdoa sebagai orang yang sombong. Dan sebaliknya Allah mencintai hambaNya yang menadahkan dua tangan kemudian melantunkan doa dengan lirih serta berharap serta yakin doanya akan terkabul.

Saya cuplikan beberapa doa untuk mendatangkan rejeki dan harta serta melunasi hutang.

اللّهُمَّ اجْعَلْ أَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ عِنْدِ كِبَرِ سِنيِّ وَانْقِطَاعِ عُمْرِي
“Ya Allah, jadikanlah anugerah rezeki-Mu yang paling lapang untukku saat usiaku tua dan menjelang penghabisan umurku.” (HR. Hakim)

اللّهُمَّ فَارِجُ الهَمِّ, وَكَاشِفُ الغَّمِّ, وَمُجِيْبُ دَعْوَةِ المُضْطَرِّيْنَ, رَحْمَانُ الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ وَرَحِيْمُهُمَا أَنْتَ تَرْحَمُنَا فَارْحَمْنِي بِرَحْمَةِ تَغْنِينِي بِِهَا عَنْ رَحْمَةِ مِنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, Dzat yang melapangkan kesedihan, Penghilang kesusahan dan yang mengabulkan doa orang-orang yang terdesak. Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang di dunia dan akhirat, Engkau yang mengasihi kami, maka kasihanilah diriku dengan kasih sayang yang membuatku tidak membutuhkan lagi kasih sayang selain Engkau.” (HR. Hakim)

Mengapa Air Mancur Laser di Karanganyar?

dimuat di joglosemar

Karanganyar berbenah, mematutkan diri sebagai kota kabupaten yang moncer dan modern. Segala upaya pembangunan dipusatkan di tengah kota agar bisa ada center area yang modern dan menarik. Kini pembangunan air mancur modern model Wing of Times mulai diagendakan. Pembangunan itu memerlukan dana besar, 2,5 milyar. Sungguh, ini adalah sebuah angka yang besar untuk pembangunan sebuah air mancur yang konon terinspirasi dari air mancur di Singapura. Masyarakat diharapkan akan datang ke tempat ini dan menonton air mancur ini. Karep besar ini ingin membuktikan bahwa Karanganyar lebih modernis dan maju, tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya, dan air mancur ini tentu lebih hebat dari sekedar air mancur di Gladak itu.

Sebagai masyarakat yang tinggal di kota ini, memang selama ini pembangunan alun-alun sebagai public space terus digalakkan. Dari mulai perobohan kantor perpustakaan Karanganyar dan gedung informasi yang keduanya dipindahkan dari tempat tersebut. Yang agak memprihatinkan adalah nasib Perpustakaan Daerah Karanganyar yang masih nebeng di aula kelurahan Cangakan. Setelah sebelumnya perpustakaan ini sempat nebeng juga di bangunan bekas Rumah Sakit Kartini Lawas.

Bagi masyarakat pecinta buku dan ikut tergabung dalam komunitas Pakagula Sastra di Karanganyar, saya masih merasa belum paham mengapa keberadaan perpustakaan di Karanganyar masih sulit untuk diterima. Dalam artian, tidak mempunyai gedung sendiri, padahal pustakawannya juga ada, kemudian pegawainya juga ada beberapa. Namun mengapa pusat informasi dan pengetahuan tersebut selalu harus bernasib memprihatikan. Sejak saya ikut pertama kali menjadi anggota perpustakaan Karanganyar ketika masih di alun-alun Karanganyar yang menginduk gedung Kodim, saya terbiasa dengan keluhan bahwasanya banyak buku baru tidak bisa terdisplay karena tidak muat atau karena tempatnya kurang representatif. Tapi, inipun terus berlanjut, selepas dari bupati Rina Iriani yang terjerat korupsi, nampaknya perpustakaan daerah masih belum bisa diwujudkan dengan baik di Karanganyar. Dengan ini pula indikator kemodernan dan kemajuan suatu kota sebenarnya bisa dipertanyakan. Atau memang pemerintah sekadar mengejar keindahan artifisial yang tidak substansial dan emoh dengan perpustakaan yang kisut dan berdebu itu. Lanjutkan membaca