Arsip Bulanan: November 2015

Rhapsody Petang Hari

Tetiba petang merambat malam tanpa terasa. Hendramasih berada di kantor. Ia yang terakhir. Semua pekerja lainnya sudah bergegas pulang. Takut kedahuluan hujan yang mulai sering turun di awal November ini.
“Krinnnnngg….. kring……kringg..!!”
Handphonenya berdering. Nadya, istrinya, yang menelpon. Pasti segera menyuruhnya pulang.
“Halo! Mas, cepat pulang ya. Jangan nglembur lagi. Aku takut di rumah sendirian nih.”
“Iya, ini aku hampir selesai. Tidak ada lemburan kok.”
“Jangan mampir-mampir lagi.”
“Iya!”
Telepon ditutup Hendra. Agak kesal juga. Istrinya mulai sering baper di awal kehamilannya. Ditambahi pula omongan tetangga bahwa rumah kontrakan mereka berhantu.Tapi, mau gimana lagi. Ia tak bisa pulang sekarang. Kantor menjelang akhir tahun selalu repot.Pekerjaanyang diamanahkan kepada dirinya makin menumpuk.
Ah, rasanya ia pun mulai ikut-ikutan baper.
Diliriknya jam di dinding. Sudah setengah enam. Magrib sudah menjelang. Hendra menghela napas. Pekerjaan belum terlihat berkurang.

***
Nadya berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga itu. Tangannya mengipas-ngipassobekan kardus untuk mengusir peluh yang meleler di dahi dan lehernya. Maklum rumah kontrakan baru sempit. Udara gerah.Suaminya yang belum pulangmenambah kesal.
“Pasti nglembur lagi. Apa tidak pekerja lain sih selain mas Hendra!” gerutunya.
Dijangkaunya jus dingin di atas meja. Sengaja ia nekad minum es saat hamil 3 bulan pertama ini walaupun dilarang oleh dokter. Taktahan dengan udara gerah.
Diteguknya es jus itu hingga tandas.
“Aduh,kenapa lama sih. Sabar ya adek. Ayah, sebentar lagi pulang kok,” katanya kepada perutnya sendiri yang membuncit.
Lanjutkan membaca