Arsip Bulanan: April 2016

RESENSI BUKU #‎LaridariPesantren‬, Sebuah Pelajaran Tentang Kebijaksanaan

Oleh yuditeha

Andri Saptono

sebuah novel anak terbaru dari Andri Saptono

Judul : Lari dari Pesantren
Penulis : Andri Saptono
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan/tahun : Pertama/Akhir 2015
Halaman : 115

Menurut ilmu filsaat, kebijaksanaan adalah kemampuan memilih dan memutuskan cara yang tepat untuk mendapatkan hasil akhir yang terbaik sesuai tujuannya. Dengan merunut pengertian di atas, novel anak berjudul Lari dari Pesantren ini secara implisit telah mengajarkan bagaimana sebuah kebijaksanaan sangat diperlukan dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

Tersebutlah dalam cerita, Albar dan Ilyas, memutuskan lari dalam satu hari dari pesantren Al-Ikhlas untuk memenuhi tantangan dari Bashir bin Lukman, salah satu temannya di pondok yang biasa dipanggil dengan Ucil. Dalam pelarian itu banyak kejadian yang menimpa mereka, yang tentu saja tak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya, dari usahanya mencari kerja yang tidak pernah diperoleh, mengemis bahkan mencuri. Semua itu berawal dari keinginannya untuk mendapatkan makanan dan usaha usaha mereka untuk bertahan hidup di tengah kehidupan kota yang digambarkan sangat keras itu. Karena situasi dalam pelarian yang begitu berat mereka rasakan akhirnya berbagai dosa terpaksa mereka lakukan. Mereka lupa akan ajaran-ajaran luhur di pondok, termasuk sesekali meninggalkan salat.

Cerita menjadi pelik saat mereka ikut terjaring razia petugal satpol PP bersama yang lain. Semua orang yang terjaring razia itu akhirnya dibawa ke hutan buangan, di lepas di sana. Selain mereka, salah satu yang juga ikut terjaring adalah seorang pelacur bernama Warti. Tokoh pelacur inilah yang nantinya justru dipilih berperan peduli kepada Albar dan Ilyas. Hal itu menjadi titik awal penulis merangkai kisah hingga hadirlah sebuah pelajaran tentang kebijaksanaan.

Inilah kecerdasan penulis, ketika pelacur yang identik dengan perempuan kotor dijadikan peran untuk peduli dengan mereka. Perempuan itu yang akhirnya membantu Albar dan Ilyas keluar dari hutan buangan. Dan tak disadari, jalinan persahabatan itu menciptakan kisah saling berbagi kebaikan. Kisah inilah yang akan membentuk peristiwa haru, seiring kesadaran kedua anak itu tumbuh di dada mereka.

Sebuah kesadaran bisa saja tereja karena paksaan keadaan tetapi kesadaran seperti itu, yang tanpa dibarengi dengan ketulusan diri, seringkali akan percuma. Dan untuk kesadaran kedua anak itu lahir dari dalam lubuk hati mereka. Mereka rindu akan ajaran luhur ketika di pondok.

Demikian juga dengan diri Warti, bagaimana terharunya dia ketika melihat kedua anak itu menegakkan salat di tengah jeda perjalanan pergi dari hutan buangan. Meski peristiwa itu bukan sebagai pemicu utama kesadaran Warti untuk bertobat, tetapi kisah-kisah yang dialami bersama Albar dan Ilyas semakin menguatkan tekatnya untuk kembali ke jalan yang benar. Dia ingin benar-benar bertobat. Lanjutkan membaca