Arsip Bulanan: November 2017

Anomali Monti

dimuat di Solo Pos

Sebuah anomali barangkali terjadi pada Monti. Monti, adalah anak pertama Mama yang mempunyai tubuh paling besar di antara kami. Jika dilihat dari foto keluarga, siapapun tahu ia sangat mirip Papa. Tetapi karena mentalnya yang terbelakang membuat ia terlihat sangat kontras dari semua anak Mama yang rata-rata berprestasi. Mbak Ira, terutama yang paling keras kepada Monti –untuk tidak aku katakan membencinya bahkan menuduh Monti hasil hubungan gelap Mama.

“Ia tidak mungkin mirip Papa. Sama sekali tidak! Monti adalah seorang idiot dan itu tak mungkin menurun dari Papa,” pendapat Mbak Ira dengan ketus.

Sejatinya aku tahu Mbak Ira hanya kecewa dengan Mama. Seperti yang berulang kali ia katakan, Mama selalu menekannya karena ia adalah satu-satunya anak perempuan di antara kami. Anak perempuan mempunyai kewajiban yang besar menurut Mama. Dan anehnya karena terlalu sering ditekan seperti itu alih-alih Mbak Ira membenci Monti satu-satunya anak “yang tak berguna” bagi keluarga.

Mamaku sendiri, di usianya yang senja tinggal bersama Monti di Jakarta. Aku tinggal di semarang, di studio sekaligus galeri kecilku. Ira tinggal di Jogjakarta dengan keluarganya karena dekat dengan rumah sakit ia berpraktek sebagai dokter. Kakakku, Agus, tinggal di istana negara, tempat ia bekerja. Edi, sedang menyelesaikan S3 nya di Australia. Ed, begitu biasa kami memanggilnya, pergi dari rumah melanjutkan studi setelah perkawinannya gagal. Ia mengatakan satu hal padaku sebelum ia berangkat.
Lanjutkan membaca

Guru Menulis sebagai Agen Masyarakat Adiluhung untuk Mengcounter Berita Hoax di Lini Massa

Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, masyarakat dijejali informasi yang begitu deras mengalir sampai ke pojok-pojok kamar tidur melalui berbagai media massa. Informasi, menurut Peter F Drucker, sudah bersifat transnasional yang tak ada lagi batas-batas nasional. Dengan sifat transnasional tersebut, informasi global, melemahkan dan menghancurkan identitas nasional kemudian menggantikannya dengan identitas kebudayaan baru. Artinya juga, informasi (pengetahuan) yang menjadi faktor penentu bagi eksistensi masyarakat baru yang disebutkan sebagai masyarakat pascakapitalis. Dalam masyarakat baru tersebut sumber sumber ekonomi dasar bukan lagi modal, (kapital) sumber daya alami bukan pula tenaga kerja, tetapi pengetahuan. Kekuatan informasi itu pula yang juga diyakini oleh Alvin Toffler sebagai The Highest Quality Power, lebih tinggi daripada Money Power dan Muscle Power.

Nah dalam kondisi milineal seperti inilah membanjirnya informasi dalam banyak hal membuat masyarakat tidak berdaya. Apalagi informasi dan berita hoax merupakan salah satu ekses negatif yang tumbuh subur di generasi milenial jaman ini mengalahkan variabel-variabel komunikasi lainnya.

Secara definitif, hoax adalah pemberitaan palsu untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya agar mereka mempercayai dan meyakini sesuatu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. (wikipedia).

Masyarakat Indonesia pun gemar merayakan hoax. Seperti pernah terjadi pada kasus meninggalnya Uje. Adanya penampakan foto awan yang berbentuk sosok orang berdoa di atas tempat kecelakaan sang ustadz gaul itu. Akibatnya, tanah dan tempat kematian Uje dikeramatkan, diambil, dan dibawa pulang sebagai jimat dan media kesyirikan. Bahkan hal itu berlanjut kepada sengketa permasalahan kubur Uje karena banyaknya peziarah yang ingin ngalap berkah kepada almarhum.

Contoh lainnya adalah berita hoax pengungsi Rohingnya diduplikasi hampir sebagian besar oleh muslimin Indonesia dan menjadi trending topic di lini massa. Dari istri presiden Turki yang datang ke Aceh. Tapi beberapa dari berita tersebut adalah berita hoax semata.

Sebenarnya tidak hanya Indonesia saja, dari luar negeri juga sering terjadi dan parahnya langsung diimpor oleh media Indonesia. Misalnya kejadian yang belum lama terjadi, media Arab dan Israel digemparkan dengan berita seorang biarawati El Savador yang melahirkan Isa Al Masih. Beberapa koran dan media digital Indonesia ikut melansir berita tersebut dengan tajuk Isa Al Masih telah lahir. Diberitakan sebelumnya biarawati asal El Salvador berusia 31 tahun tidak tahu bahwa dirinya sedang hamil dan tiba-tiba melahirkan seorang bayi laki-laki seberat 3,5 kilogram. Pun hal ini berkaitan dengan kematian Ariel Sharon, fenomena Arab Spring (peperangan besar yang sekarang melanda sebagian negara di Timur Tengah dan perang besar di Suriah). Diramalkan anak biarawati itu adalah Isa Al Masih yang akan memimpin dunia untuk membunuh Dajal. Menurut Rabi Yahudi, yang bernama Yatsahaq Kaduri, dengan hadirnya Dajjal akan terjadi perang sengit antara para pengikutnya dan penentangnya. Sepertiga penghuni bumi akan terlibat dalam perang yang berlangsung selama tujuh tahun ini. Kaduri percaya semua penentang Dajjal akan tewas dan akan muncul kekacauan hebat.

Namun sehari kemudian dilansir klarifikasi kelahiran “Bayi Imam Mahdi” itu adalah hoax semata. Setelah mendapat pelbagai respon luar biasa dari masyarakat Arab, biarawati yang bernama Roxana Rodriguez itu akhirnya mengaku bahwa ia telah melanggar sumpahnya untuk hidup selibat. Ia mengaku melakukan hubungan seksual dengan seorang lelaki ketika ia tidak tinggal di biara. Selama ini ia menutupi aib itu di gereja hingga aibnya terbongkar ketika anaknya lahir. Akibatnya masyarakat balik mencaci maki perempuan yang ‘tidak jadi melahirkan Imam Mahdi’ itu. Lanjutkan membaca