Arsip Bulanan: Februari 2018

Elegi Martha

dimuat di Magelang Express
Untitled
Martha mengalami mimpi terburuk dalam hidupnya. Mimpi yang berakhir di alam nyata. Sebuah kenyataan yang tak pernah ia harapkan terjadi pada dirinya, pada pernikahannya.

Dini hari kerap ia terbangun dalam gelisah. Ketika dekap suaminya terasa tak nyata lagi. Siapakah ia yang berbaring di sampingnya? Wajah tampan lugu yang dikenalnya kini berbau perempuan sundal.

Oh, ia benci sekali kota penjajahan yang mengubah para perwira muda seperti suaminya. Kegelapan kota ini membinasakan cahaya terang suaminya hingga membuatnya lari ke gedung opera Marabunta hingga jatuh ke pelukan Mata Hari .

Martha tidak tahu apakah dia harus senang atau benci dengan mengetahui perselingkuhan suaminya yang terlalu dini ini. Bersyukur yang terasa absurd karena Tuhan karena telah menyelamatkan dari kebohongan palsu suaminya.

Pun tak pernah Martha membayangkan mengapa Tuhan membuatnya merasakan kepedihan kepadanya. Mencicipkan ujian dahsyat ini. Padahal tangannya tak pernah lelah mendoa. Seandainya Tuhan tidak memberinya hari celaka itu.
Ya, saat itu candik ayu terlihat memerah di atas gereja Kerk . Malam berangkat seakan lebih cepat. Sebuah simphoni Mozart mengalun dari rumah seberang amat menentramkan ketika ia berjalan bergegas itu. Entah rumah siapa. Sebuah rumah yang elok dengan halaman luas dan berumput jepang yang asri. Pastilah rumah seorang pejabat tinggi di Semarang ini.

Tatkala saat hendak berbelok ke arah kanal, tiba-tiba sebuah kereta hampir menabraknya. Martha bersyukur bisa menghindar lebih cepat jadi ia tidak tertabrak. Tetapi yang lebih membuatnya terkejut adalah ia melihat siapa penumpang yang turun. Dan dua orang penumpang yang itu turun itu adalah sang penari erotis Mata Hari bersama Ludwig, suaminya.

Benarkah yang ia lihat? Suaminya bersama dalam satu kereta dengan penari perut itu?

Marah dan berang hati Martha. Urusannya yang mahapenting untuk ke gereja Kerk terlupa seketika.
***
Sungguh di Semarang ini tak ada yang tidak mengenal Mata Hari! Martha juga tahu saat Mata Hari bersama suaminya pastilah ada yang tak beres. Di kota ini tak ada yang bisa menutupi bangkai perselingkuhan. Semua bau busuk akan tersebar dengan mudah. Dan benar saja lambat-laun teman-temannya di gereja mengatakan dengan terang-terangan maupun malu-malu.

Tetapi Martha sangat mencintai suaminya. Ia tak ingin berpisah dengan suaminya. Ia ingin melakukan sesuatu agar suaminya kembali kepadanya. Akhirnya Martha makin sering datang ke gereja. Memasuki bilik pengakuan dosa lebih sering dari biasanya. Dan hari pertama itu saat menceritakan semuanya, ia mendapat nasihat dari sang pendeta, bahwa apa yang ia terima ini adalah buah dari dosa lahir yang belum ditahirkan. Sang Pendeta menyuruh untuk memohon ampun kepada Tuhan. Lanjutkan membaca

Kesalihan Berkendara di Jalan Sebagian dari Iman

dimuat di Solo Pos

 thumbnail

Penulis                                  : M Faizi

Judul Buku                          : Celoteh Jalanan (Lucu, Segar dan Inspiratif)

Cetakan pertama             : Maret 2017

Penerbit                              : BasaBasi

Tebal                                     : 180 hlm; 14×20

 

Kita sering mendengar analogi seperti ini: hukuman neraka itu dianalogikan seperti seorang oknum yang mengendari kendaraan kemudian ia melanggar peraturan lalu lintas, misalnya tak bawa SIM. Karena tidak punya atau lupa membawa surat sakti tersebut, oknum itu tetap akan ditilang oleh polisi. Polisi dianalogikan sebagai hukuman akhirat, sedangkan pelanggaran bisa dianalogikan sebagai perbuatan dosa. Sadar atau tidak sadar, lupa atau tidak lupa, jikalau melanggar peraturan lalu lintas atau melakukan perbuatan dosa, dua-duanya akan mendapatkan hukuman.

Di dalam hadits banyak disinggung tentang adab-adab di jalanan, semisal menyingkirkan aral di jalanan atau tidak memakir kendaraan yang memakan bahu jalan, dan mengucapkan salam kepada orang yang berpapasan di jalan. Semua kesadaran ini jika dilakukan dengan niatan mengamalkan sunnah, insya Alloh, dia akan mendapatkan pahala atau ganjaran. Artinya pula, salah satu cara menakar iman dan pengamalan sunah tidak bisa dilepaskan dari variabel bagaimana dia bermuamalah di jalan.

Sejatinya buku Celoteh Jalanan, M Faizi ini bukan sekadar celoteh jalanan yang bising, memekakkan telinga, atau komentar tetnang kesemrawutan lalu lintas di Indonesia ini, sebaliknya buku ini merupakan refleksi seorang pengendara yang notabene adalah seorang kyai, seniman, penyair dan seorang pengamat yang mempunyai cara yang pandang linuwih dalam menyikapi keadaan. Lanjutkan membaca

Ramalan Ibu tentang Keperawanan Seorang Pelacur yang Akhirnya Menjadi Istriku.

dimuat di joglosemarnews.com

Ramalan-Ibu-tentang-Keperawanan-Seorang-Pelacur-yang-Akhirnya-Menjadi-Istriku
Hari lahir ibuku istimewa. Ia lahir satu menit setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan Soekarno. Tentang keistimewaan Ibuku itu, selain hari ulang tahunnya yang selalu ia rayakan bersamaan dengan hari kemerdekaan negrinya ini, sejak kecil Ibu mempunyai bakat yang bisa dikatakan luar biasa bagi warga desa kami. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa warga yang telah beberapa kali menggunakan jasa ibu.
Ya, Ibuku seorang peramal. Keahlian Ibu adalah meramal nasib orang. Beberapa orang yang pernah datang – dan sering sekali kembali lagi tentu- akan bertanya pada Ibu, hari baik apa yang akan digunakan untuk anaknya menikah, atau arah dan tempat mana yang baik untuk mendirikan toko? Lain kali mereka akan bertanya, bagaimanakah cara agar bisa membuat suami tetap lengket dan tidak akan jajan di Warung Bulak Adem yang ada di ujung desa –sebuah komplek pelacuran yang sengaja dilegalkan oleh pemerintah daerah kami. Tentu ramalan Ibuku memang tidak selalu tepat atau betul menjadi kenyataan.
“Aku hanya melihat apa yang bisa kulihat,” katanya menjawab para pelanggannya. “Takdir orang itu tak bisa dirubah. Aku tak bisa mendahului takdir Tuhan.”
Suatu kali ada seorang pelacur yang datang ke rumah. Seperti kuketahui, mereka biasa datang menggunakan jasa Ibuku agar pemasukan mereka lancar. Atau agar mereka tetap menjadi sang bunga mawar lokalisasi. Namun kali ini, Ibu tidak biasanya menyuruhku menyuguhkan air minum buat seorang perempuan lokalisasi. Ya, hal ini agak janggal. Sebelumnya Ibu tidak pernah menyuruhku berurusan dengan para pelanggannya. Tapi, aku hanya manut. Lagi pula aku sedang tak ada kesibukan. Pekerjaanku sendiri di ladang sebagai petani lombok sudah dapat sering kutinggal dan hanya menunggu panen.
“Lilik, kuperkenalkan pada tamu istimewa Ibu.”
Aku merasa heran, maksudku, tidak biasa sekali Ibu mengenalkanku pada pelanggannya. Dan sementara itu perempuan itu tersenyum simpul. Pupil matanya melebar. Mungkin ia agak terkejut juga dengan tajamnya pujian dari Ibuku. Ya, aku tak heran dengan kepandaian Ibuku yang satu ini. Ibuku tak hanya pandai memuji tapi juga pandai mensugesti para pelanggannya –yang karena dari hal itulah kami bisa makan setiap harinya.
“Lilik,” kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan perempuan itu.
“Maharani.”
Ia tersenyum manis. Ada lesung pipinya yang menarik.
Aku sejujurnya tak tahu maksud Ibu dengan memperkenalkan dengan salah satu pelanggannya. Sampai ketika perempuan itu pergi, Ibu mengajakku bicara. Dan Ibuku nyata berbinar ketika berbicara padaku kali ini.
“Ia akan menjadi istrimu kelak, Lik. Gadis itulah yang akan membuatmu bahagia.” Lanjutkan membaca