Arsip Bulanan: Maret 2018

Tawaran Pekerjaan

Dimuat di Tanjung Pinang Pos

Tawaran pekerjaan baru ini sungguh menarik bagi Parjo. Lebih mudah dan gampang dari pekerjaannya yang ia lakukan sekarang ini: menjadi kuli barang alias manol di pasar Klewer. Walaupun bisa mendapat banyak uang kalau sedang banyak langganan. Namun, tubuhnya yang mulai ringkih sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maklum saja, usianya sudah hampir 60 tahun.

Hingga datanglah seorang perempuan setengah tua. Berpenampilan orang kaya. Mas-giwang gemerlapan di badannya. Pendeknya, perempuan yang tidak tidak cantik namun tidak juga jelek itu menyuruh Parjo mengusung barang-barang ke dalam mobil. Barang-barang itu berupa kain mori dan handuk kecil dalam jumlah banyak. Baru kali ini Parjo melihat perempuan itu. Parjo berharap perempuan itu jadi pelanggan tetapnya kelak.

Lanjutkan membaca

Ziarah Seekor Semut dan Kisah Seorang Pengarang

dimuat di Solo Pos (18/3)*

29313205_10211402378594658_3060407211944574976_n

Tuanku adalah seorang pengarang cerita. Dia duduk di meja komputernya tiga sampai empat jam sehari. Tetapi, tuanku tidak selalu mengarang atau membaca buku. Acapkali ia hanya memelototi layar monitor itu selama berjam-jam sedangkan pandangannya kosong menerawang entah kemana.

 

Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku sendiri tidak tertarik dengan tulisannya selain ketertarikanku dan kaumku pada kopi yang biasa ia taruh di samping layar monitor. Kopi arabica adalah jenis kopi kesukaannya. Tetapi, aku dan kaumku menyukai kopi tuanku ini karena adanya gula yang dominan pada kopinya. Ya, agaknya tuanku ini penyuka kopi yang kental tapi manis.

 

Karena hal itulah kami berombongan datang ke gelas cangkirnya setelah kopinya agak dingin. Kami berlomba minum di telaga kopi dan baru pergi setelah kenyang. Tetapi sebagian teman kami tak bisa menahan diri. Mereka mati tenggelam dengan apa yang mereka inginkan.

 

Saat kembali pulang dari telaga kopi itu sesekali aku menyempatkan diri melihat ekspresi tuanku. Tuanku bernama Denipram. Dia sebenarnya tampan walaupun kantong di bawah matanya semakin menjadi gelap. Terkadang aku melihat berkas-berkas ketakutan di sana. Tetapi, kau tahu, para pengarang cerita adalah makhluk istimewa. Mereka biasa menghadapi kesunyian yang dalam. Tahan menghadapi kenyataan dan ketakutan yang tak mengenakkan. Wajarlah hingga wajah tuanku ini tampak lebih tua dari umur sejatinya.

 

Oh, hidup macam pengarang memang tak ideal. Tak sehat. Apa yang mereka pikirkan jauh lebih mendalam dari apa yang bisa mereka lakukan.

Lanjutkan membaca