Elegi Cinta Aku, Kau, dan Dia

dimuat di Antologi Cerpen Guru Balai Bahasa Jawa Tengah

Aroma parfummu masih tertinggal di bantal ini. Mengekal di ruang kamar yang tak sepenuhnya engkau tinggalkan benar. Hanya terdengar tik tok jam dalam keheningan tunggal tatkala kumembuka mata pagi ini. Rasa kopi yang masih pula tertinggal di bibirku dari tiga gelas cangkir kopi yang kau seduhkan semalam, yang kutandaskan dalam perbincangan kita tentang novel Sandra Cisneros itu.

Sedetik ini aku ingin menelponmu. Mengatakan sebuah lintasan pikiran tentang novelis kenamaan Amerika latin itu. Tapi tatkala kuraih handphone di tempat ia seharusnya berada, ternyata tempat itu kosong.

“Aku mau membelikan sandal yang baru buat Kasyfa besok,” ujarmu semalam. “Aku ingin mengajaknya ke pasar Beringharjo. Mengajaknya melihat-lihat suasana pasar tradisional.”

“Menurutku itu ide menarik. Pasar tradisional harganya murah dan kualitasnya tak kalah.”

“Tidak, sebenarnya bukan soal itu. Aku ingin mengajaknya melihat kerumunan orang biasa. Biar ia merasakan kebersamaan dengan mereka. Aku ingin Kasyfa kelak selalu hadir bersama orang-orang kecil.”

Aku selalu terpukau dengan perkataanmu. Sesuatu yang unik dan tulus selalu muncul dari dalam hatimu.

Aku akhirnya memilih bangun. Suara berisik mesin air tetangga sebelah yang bermasalah cukup mengganggu. Aku tidak tahu mengapa mereka tidak segera membeli mesin baru. Senang sekali lelaki tetanggaku itu membongkar-pasang sendiri. Bersikeras ia perbaiki sendiri walau tak terhitung berapa kali gagal. Dan aku juga tidak tahu mengapa isterinya begitu sabar melihat suaminya dengan cara seperti itu.

Selesai mandi aku kembali ke kamar. Dari jendela, berkas cahaya berpendar indah berwarna kuning cerah. Aku jadi teringat dengan kulitmu. Aku menjadi merindukanmu lagi pagi ini. Tapi, sesuatu yang tak mungkin untuk diulang setelah kau pergi dari kamarku semalam karena sebulan lagi kau baru bisa ketemu aku. Seperti biasa berbicara panjang lebar, tentang kota, tentang waktu, tentang seni, dan kabar anakmu, Kasyfa.

Aku hanya rindu berkas cahaya yang jatuh pada kulitmu yang sehalus beludru itu. Menciuminya bertubi-tubi dan menandaskan kerinduanku.

Ah, pagi ini aku harus memukul kepalaku lagi dengan kemoceng, mengingatkan bahwa aku tak pantas berkhayal apapun tentang dirimu sepagi ini. Kau adalah cinta yang melintas dalam mimpi hidupku.

Damn! Tahukah rencanamu untuk menikah lagi itu sebenarnya akan menghancurkanku.

“Aku berencana ingin menikah lagi, Sam.”

Tiba-tiba kau membuatku tersedak dengan kopiku waktu itu.

“Bagus…”

Kau tersenyum. Mengetahui perkataanku bertolak belakang dengan hatiku.

“Ya, aku serius. Menurutku itu ide bagus. Tentu aku mendukungmu.”

Aku menatap wajahnya benar-benar agar ia percaya. Kulihat ada sebuah garis luka pada keningmu. Yang kau katakan itu merupakan sebuah celengan kecil dalam kepalamu. Celengan tempat menabung rahasia-rahasia. Tapi, luka kecil itu tak mengurangi kecantikanmu. Hanya menambah kehadiranmu menjadi nyata di hadapanku. Cantik dan terluka.

“Kau tahu, ada yang salah pada hubungan kita. Kita berdosa.”

Aku menghela napas.

“Aku tidak mau kita membicarakan soal itu lagi. Aku mencintaimu dan tidak akan meningggalkanmu.”

“Kau tak bisa egois. Aku ingin kau setia kepada istrimu.”

“Tapi aku ingin bahagia denganmu.”

Percakapan semacam inilah yang menghancurkan diskusi seru kita tentang novel Amerika latin, tentang Borges, Shakspeare dan tentang budaya lokalitas. Dan aku tak tahu mengapa kau selalu yang memulainya. Apakah kau sudah bosan padaku?

“Lalu mengapa kau selalu menghubungiku?” tanyaku balik terdengar selfish.

“Entahlah, aku terjebak dalam situasi yang sama denganmu. Ketidakbahagiaan dengan pasangan, tapi merasa bahagia dengan orang lain.”

“Jadi, aku bagimu orang lain?”

“Bukan seperti itu. Maaf. Aku hanya mau mengatakan …”

“Aku mencintaimu Marita. Hanya itu yang harus kau tahu.”

Lalu kau membenamkan bibirmu dalam leherku. Mendekapku. Aku memeluk tubuhmu. Bau melati menguar seiring dekapanmu yang mulai menghangatkan tubuhku. Kau tahu, surga itu dimulai dari bau tubuhmu yang menyerbu hasratku?

***

Pasar Beringharjo.

Kasyfa menarik tubuhmu menuju barisan pedagang buah-buahan Pasar Beringharjo. Dia menginginkan anggur itu. Dan kau membelikannya. Kau menggendongnya sambil berjalan di kerumunan para pembeli. Berjalan di lorong pasar Beringharjo itu. Orang-orang berteriak. Ramai. Bau keringat. Warna-warni sandal murahan.

“Kasyfa ingin warna apa?”

“Coklat saja. Itu yang lucu. Ada Micky Mousenya.”

Kau mengambilnya, membelinya tanpa menawar. Dan ibu penjual itu senang sekali merasa mendapatkan keuntungan yang berlimpah. Padahal bagimu, uang 50 ribu itu nyaris tak pernah berarti apa-apa. Sebaliknya, bagi mereka uang 50 ribu barangkali adalah nyawa yang mereka harus dapatkan dengan mengais rejeki di pasar ini.

“Hei, kamu wanita jalang!”

Kau berbalik.

“Apa kamu bilang! Beraninya..!! Kamu sendiri yang lonte!”

Teriakan dua orang perempuan pasar yang bertengkar segera saja menjadi tontonan sekitarnya. Anehnya, tak ada orang yang segera ingin melerai.

“Kamu asu! Pengganggu rumah tangga orang!”

“Suamimu sendiri yang asu! Dia yang mau padaku!”

“Dasar lonte!”

“Emang kenapa kalau lonte, daripada kamu yang gembrot jelek.”

Kau mundur ketika pertengkaran itu menjadi ganas. Dua perempuan itu saling jambak menjambak. Kamu khawatir Kasyfa akan merekam adegan itu dalam kepalanya dan akan mengotori jiwanya. Kamu berhasil menyeretnya pergi. Tapi, tak urung Kasyfa bertanya juga.

“Mereka bertengkar kenapa, Ma?”

“Mama tidak tahu. Itu bukan urusan kita Nak.”

Kau bergegas pergi dengan taksi ke sebuah kafe. Mencari ketenangan. Duduk di dekat taman dan sebuah kolam ikan yang asri. Kau memesan kopi dan surat kabar baru. Tapi Kasyfa terus mengulang tentang kejadian itu.

“Pertengkaran tadi menakutkan ya, Ma? Kasyfa tidak mau melihat Mama bertengkar seperti wanita di pasar tadi.”

Glek, kopimu hampir tersembur tiba-tiba. Kasyfa masih teringat soal itu rupanya. Tapi, esensi dari pernyataan polos anak kecil itu yang menghujammu.

“Apa Mama pernah bertengkar seperti itu?”

“Tidak sayang. Tidak akan. Mama tidak pernah mau bertengkar.”

Kau lantas memeluk anak itu. Dalam benakmu, kau tak tahu apakah harus menyesal telah mengajaknya pergi ke tempat-tempat eksotis seperti katamu itu.

***

Istrimu datang dari perjalanan luar kota. Perjalanan yang membuatnya tiga hari berada di Medan untuk menjadi pembicara dalam seminar pendidikan internasional. Wajahnya terlihat capek, tapi ia tetap meladeni keperluanmu pagi ini dengan binar senyum bahagia. Segelas kopi di meja kerja dan oleh-oleh gethuk durian dari Medan.

“Untunglah cuacanya bagus selama di sana. Di sini bagaimana?”

“Sama saja,” katamu sambil pura-pura mengedit tulisan yang belum selesai. Dalam hati kau berharap istrimu segera beranjak pergi. Entah mengapa, bayangan Marita masih terlintas lagi. Nyaris meledak dalam waktu pagi ini. Dan kau tak tahan ingin mendengar suaranya di telepon segera.

“Kau sudah sarapan?” tanya istrimu.

“Nanti siang saja.”

“Baiklah, kita nanti makan di luar saja. Aku ingin makan di restoran favoritmu itu.”

Istrimu beranjak ke sampingmu dan mencium rambutmu. Lalu beranjak pergi. Melangkah gontai ke tempat tidur dan merebahkan diri.

Kau menghentikan jemarimu dari tuts keyboard. Mengambil handphone. Dan memanggil nama itu.

“Ayo jawab,” katamu tak sabar ketika tak ada jawaban dari seberang.

Panggilan terputus. Kau ulangi lagi makin tak sabar.

***

Sebuah email dari Marita kau terima saat makan siang dengan istrimu. Kau membacanya di androidmu ketika istrimu sedang di toilet restoran.

Sayangku Sam,

Aku menyadari satu hal dalam perjalanan kecilku dengan Kasyfa ketika membelikan sandal barunya pagi ini di pasar Beringharjo. suatu peristiwa kecil yang menamparku betul.. ya, aku tak ingin menjadi orang ketiga selamanya … Yang akan melukai hati istrimu

Maaf, aku harus berlalu dari hidupmu selamanya … Ya, kutahu aku memang mencintamu. tetapi dialah, istrimu, yang akan selalu menjadi milikmu selamanya.. walaupun saat ini kau belum bahagia bersamanya

salam,

Marita

 

Kau tak tahu bagaimana perasaanmu sendiri. Kau tak mungkin berteriak muak di dalam restoran ini. Tanganmu gemetar karena marah. Tak terima dengan keputusan Marita.

Kau coba menghela napas. Memejamkan mata. Rasa sakit itu nyata. Kau coba menelan kopi pahitmu sekali lagi. Lagi, dan lagi hingga tandas. Di akhir itu ada sedikit manis gula tersisa.

Kau menghela napas. Menyadari bahwa hidup adalah rangkaian peristiwa bahagia dan tak bahagia. Kau mencoba mengafirmasi hal itu. Lalu sekali lagi menghela napas panjang.

Sejurus istrimu datang dengan binar wajahnya yang bagai berkas cahaya surga itu. Dan seperti yang dikatakan Marita dalam email singkatnya, ya benar, istrimu akan selalu menjadi milikmu walaupun saat ini kau belum bahagia bersamanya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *