Boneka Bobby 13

Aku masih sering mengingat adegan itu sambil tertawa: sebuah sepeda motor vario 125 cc yang ditumpangi Bobby B13 berwajah Chuck Norris, Pakdhe Thayib dan anaknya yang sekolah di Madrasah Ibtidaiyah terbang ke blumbang lele yang ada di depan rumah mereka. Sialnya, Chuck Norris yang duduk di depan memang tidak bisa melihat dan tidak bisa menyetir yang menjadi pangkal persoalan itu. Sebabnya Chuck Norris hanya sebuah boneka karet sintetis yang mirip manusia dengan tulisan “Made In China” tepat di atas di pantatnya.

Aku melihat dari teras rumahku saat adegan kecelakaan itu berlangsung sukses. Jelas aku ingin menolong mereka. Saat aku tiba di sana, pakdhe kulihat berdiri di tengah blumbang yang airnya sedengkul berwarna coklat kotor karena itu memang kolam lele. Anaknya, si Rudi, malah tertawa dan bercerita kalau dia baru saja terbang bersama Chuck Norris. Emaknya, berteriak-teriak tidak karuan dan hampir menangis. Segera emaknya ikut nyemplung ke kolam, meraba-raba anaknya. Setelah yakin anaknya aman, tidak kurang suatu apapun, ia langsung menyemprot suaminya,

“Bapak ini gimana, masak jalan selebar itu bisa nyemplung ke blumbang? Naik motornya apa sambil merem sih?”

“Ndak, Bu. Yang di depan bukan Bapak tetapi Chuck Norris,” Rudi yang belepotan lumpur menjelaskan.

“Ah, bapakmu itu sudah sinting. Sejak dia ikut-ikutan beli boneka itu, dia makin tambah aneh-aneh. Masak boneka diajak naik motor. Malah ditaruh di depan. Untung saja tadi tidak nggambul gapura di jalan.”

Dan istrinya masih nyemprot macam-macam. Aku perhatikan drama keluarga itu sambil mesam-mesem. Kulihat Pakdhe hanya diam melihat keadaan Chuck Norris yang tenggelam dengan wajah di dasar lumpur dan kaki yang terangkat ke atas. Pakdhe lantas mengangkat kaki Chuck yang nyembul itu lalu ia seret ke daratan. Tetangga yang ternyata banyak berdatangan malah ikut tertawa.

MUI sebenarnya sudah melarang peredaran boneka Bobby 13 Made In China ini. Fatwa MUI patung ini meniru bentuk manusia sama persis meskipun patung ini bantat, alias tak ada lubangnya. Kalau ada yang berlubang pada bagian tertentu (misal bagian kelamin bagi yang perempuan) itu pasti ulah nakal si pembeli. Desain asli, patung ini hanya memiripkan wajah saja, yaitu bahan kulit dan rambutnya dan tetap tak ada lubang meskipun pada bagian wajah. Jadi jangan bayangkan ini bisa tersenyum atau kamu sikat giginya biar tidak kuning. Selebihnya ke bawah, tubuh boneka raksasa yang dibuat setinggi ukuran manusia biasa ini, hanyalah replika yang mirip manusia saja.

Gerakan pada Bobby 13 ini hanya 4 macam saja. Ia bisa duduk seperti manusia, berdiri sendiri, menengok ke kanan dan menengok ke kiri. Kelihatannya soal gerakan ini memang trik marketing mereka. Mungkin produk pertama ini sebagai tes pasar saja, setelahnya jika pro dan kontra sudah reda, mereka akan menggelontorkan produk vol. 2 yang mungkin bisa lebih dari 4 gerakan, atau mungkin ditambah dengan lubang yang lain untuk mengapresiasi permintaan. Memang setelah boneka ini beredar luas dan tak bisa dibendung peredaraannya banyak bertebaran di dunia maya photo selfi dengan Bobby B13 yang rata-rata mengambil replika bintang Hollywood. Entah mengapa, China yang membuat tapi mengambil desain aktris dari Amerika. Mungkin ini semacam pengalihan kesalahan, atau istilah jawanya, nabok nyilih tangan. Biar menjadi pemahaman umum, kalau ini ulah orang Amerika. Padahal aslinya adalah produk China.

Ya, banyak sekali yang photo selfi dengan bintang pujaan mereka. Seorang anak SD berswa-photo dengan Jack Sparrow di kamar tidurnya. Atau yang cukup nekat, teman saya sesama penulis, salah satu bintang Natalie Portman ia dandani seperti Nella Kharisma penyanyi dangdut asal Nganjuk itu. Dia taruh sebagai penjaga di tempat usaha pengiriman paketnya. Usahanya ternyata cespleng, orang makin lebih banyak yang mampir dengan adanya Nella KW itu.

Oh, soal harga boneka ini dijual murah. Kau tahulah, bagaimana China membuat produk yang se-ekslusif apapun menjadi murah. Boneka ini dibandrol di pasaran dengan harga 1 juta. Ya, inilah pula yang membuat pakdhe Thayib juga ikut membeli.

Aku pun menanyakan setelah kejadian kecemplung di blumbang lele bersama aktor pujaannya itu. Ya, soal Pakdhe memilih Chuck Norris ini juga harus diperjelas. Pakdhe memang tak banyak mengenal aktris-aktris jaman sekarang. Pakdhe lebih familier dengan Arnold, Van Dame, Chuck Norris, atau tokoh-tokoh protagonis tahun 90-an itu. Selebihnya tidak. Dan anehnya, memang China juga punya insting marketing yang bagus. Banyak orang yang membeli bintang-bintang macho macam begitu, daripada aktor jaman sekarang yang agak melambai.

“Pakdhe, mengapa ikut-ikutan membeli boneka itu. Apa nggak dapat selebaran dari MUI. Masak takmir masjid, ikutan kayak begitu?” tanyaku sebagai ponakan agak heran.

“Aku itu sebenarnya kesal. Makanya aku beli boneka itu. Celenganku dari blumbang lele itu aku belikan semua. Ya, sebenarnya sudah ditegur sama Budhemu. Tapi aku nekat.”

“Lha, itu malah Budhe sudah mengingatkan.”

“Kamu dengar dulu alasanku. Walaupun alasanku tidak masuk akal, tapi dengarkan ini.”

“Gimana pakdhe?”

“Aku itu kesal dengan jamaah di masjid. Mereka semua sekarang pindah ke masjid baru itu. Mereka tidak mau sholat di  mushala karena yang mengimami Mbah Dullah yang sudah renta, dan kadang bacaannya sering salah itu. Mereka pindah ke masjid baru wakafan dari Timur Tengah yang megah itu. Yang katanya imamnya bergelar LC semua itu. Itu lho alasanku, makanya aku beli si Chuck Norris itu.”

“Kan sudah ada fatwa MUI nggak boleh. Terus apa hubungannya sama si Chuck Norris?” kejarku.

“Terpaksa aku kesampingkan fatwa MUI, karena soal begini mereka juga tidak ngurus kok. Aku inisiatif sendiri. Aku mau taruh si Chuck Norris itu di dalam masjid, ikut sholat jamaah dengan kita. Ini sindiran kalau mereka paham!”

“Astaghfirullah. Wah, apa kata orang nanti pakdhe.”

nDilalah, siang ini aku punya ide ngajak si Chuck jemput anakku sekolah. Tapi, pulangnya malah si Chuck ngajak nyemplung ke blumbang.”

Aku tertawa.

“Ya, ini mungkin ada hikmahnya, Le,” katanya padaku seakan menyadari benar kesalahannya. “Mungkin Pakdhemu ini memang nggak boleh naruh boneka itu di masjid. Karena rencananya nanti sore aku mau ajak sholat jamaah Magrib. Soalnya sekarang kalau magrib itu, kalau kamu nggak ada, paling satu shof hanya empat-lima orang saja dengan imam Mbah Dullah. Dulunya banyak sekarang pindah ke masjid baru yang megah itu.”

Aku juga diam. Tidak bisa komentar dan ngomong apa. Mushola kecil itu memang telah menemani kami lama. Bangunannya juga masih bagus. Dulu, biasanya mushola itu selalu penuh. Tapi sekarang banyak yang pindah ke masjid baru. Alasannya, ya seperti yang pakdhe Thayib katakan tadi.

“Terus, Chuck mau pakdhe apain ini?”

“Aku mau membersihkan Vario dulu. Nanti sore mau dipakai pengajian Budhemu. Kalau tidak dipersiapkan, tambah runyam urusannya nanti.”

Aku tertawa. “Iya, bener. Urusannya lebih gawat daripada fatwa MUI, Pakdhe.”

“Huss. Kuwalat kamu nanti.”

“Becanda pakdhe. Hehe.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *