Hujan Bulan Desember

Hujan tak berhenti turun sejak semalam. Genangan air di halaman makin meninggi. Alamat mungkin selokan di depan rumah meluap. Namun yang merisaukanku bukan tentang kemungkinan banjir di komplek perumahan jika hujan deras di bulan-bulan Desember seperti ini. Adalah rasa dingin dan senyap yang dikirimkan oleh hujan. Perasaan tidak nyaman. Kesendirian yang berat. Harapan-harapan yang tersangkut dalam jaring laba-laba besar karena kepala memikirkan banyak hal sekaligus.

Aku tak berencana untuk mengakhiri kenestapaan ini. Sebagai penulis kurasa memang aku telah terbiasa menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan. Ini berlangsung lebih dari lima belas tahun. Karya tulisan lebih banyak yang tersimpan di komputer daripada dimuat di media massa. Alih-alih beberapa hal yang menyenangkan bukan datang dari riwayat penulisan itu sendiri. Tetapi, aku tak hendak menceritakan bagaimana detail soal itu. Kau akan memahami hal ini jika melakukan seperti aku lakukan. Seperti orang tuaku yang tak paham dengan hidupku yang lebih memilih sebagai penulis.

Mereka mengeluh tentang hidupku yang tak keruan. Mereka meminta aku agar memilih pekerjaan yang bagus. Sebuah pekerjaan yang benar-benar bisa membuatku hidup mapan. Mereka akan melakukan apa saja untuk itu. Siap membantu koneksi dan tetek bengek lainnya.

Namun, sebenarnya mereka sedang membuat tembok yang tinggi denganku. Sebuah hal kesia-siaan yang tak menyenangkan. Jadi inilah kesepian yang bertambah dibawa oleh hujan. Membasahi hatiku. Menenggelamkanku dalam kerisauan yang kejam. Terkadang rokok dan minuman yang masuk ke dalam lambungku seakan hanya sebuah pelarian sekilas. Hampa dan tak bermakna. Toh, ia tak akan bisa mengubah apapun. Atau taruhlah orang tak seharusnya bergantung pada dua hal ini: rokok dan minuman.

Baiklah sambil berdiri di depan jendela ini, aku mulai merangkai anganku. Apa yang akan aku lakukan untuk kepulanganku besok pada hari Minggu nanti. Seperti yang mereka inginkan saat telepon Mama tadi pagi. Akan ada pembicaraan serius karena Tuan dan Nyonya Suryo akan memanggil semua anaknya. Sebagai anak yang ragil kurasa akan sangat membosankan, karena pandangan itu selalu tertuju padaku. Bahkan, Mama yang kurasa selama ini dekat denganku, sepertinya kali ini karena saking kuwatirnya padaku, dia begitu berpihak pada Papa: mendorongku segera bekerja selain menulis atau menikah dengan pilihan mereka. Keduanya bukan pilihan yang menyenangkan bagiku.

Kedua saudaraku yang lain, kakak dan mbakyuku, mereka adalah para pegawai negeri sipil. Kemapanan telah mereka raih. Gaya hidup kelas menengah, walaupun sebenarnya hidup mereka tak bermakna selain menjadi alat birokrat yang tengik di negeri ini. Dalam pusaran politik mereka adalah underbow yang sebenarnya. Sehingga ketika ada kebijakan yang buruk, mereka begitu diam seperti seekor kerbau dungu.

Kini, sebagai penulis, memang aku ingin sekali berlidah tajam pada mereka. Tapi, mengingat mereka adalah keluargaku, entah mengapa aku tak bisa berbuat seperti itu pada mereka. Bukan karena sayang, tapi lebih karena kasihan. Akan hancur hati mereka. Lantas, mereka akan murka padaku. Murka karena tidak mengertinya mereka padaku.

Aku berharap hujan seharian ini membuat banjir di beberapa tempat. Jalanan macet. Lalu lintas kacau. Sehingga aku bisa beralasan untuk tidak hadir pada pertemuan besok itu. Begitupun, aku masih sangsi apakah aku akan bisa tidur nyenyak malam ini?

Pikiranku masih bergumul dengan harapan orang tuaku, kehendak yang mereka klain karena amat menyayangiku. Lantas, di manakah pribadiku yang sebenarnya berada? Seakan aku harus menjalani hal-hal kepura-puraan di depan mereka untuk menyenangkan mereka begitu saja.

Aku pun sebenarnya tak tertarik untuk menceritakan novel terbaruku. Meskipun itu terbit di sebuah penerbit mayor ternama di negeri ini. Meskipun baru saja memenangi lomba sastra bergengsi dan meraih satu dua penghargaaan sastra. Rasanya amat kecil kemungkinan jika itu bisa membungkam mereka. Ya, karena aku kenal siapa mereka. Ukuran mereka adalah seberapa kapital yang aku telah dapat dari menulis.

Tetapi tak ada pilihan lain. Aku akan pulang besok. Aku telah mempersiapkan semuanya. Dengan membawa novelku ini semoga saja mata jiwa mereka akan terbuka sebenar-benarnya. Dan, akan kukatakan dengan sebenar-benarnya. Agar mereka berhenti mengejar-ngejarku mengenai hidupku sendiri.

***

“Hendri tidak mungkin datang, Ma. Ini akan menyakitkan baginya,” ujar Leo sambil menyesap tehnya kepada Mamanya, Nyonya Suryo.

Di sebelah Leo, Ani, istri Leo ikut menimpali. “Ya, memang benar. Hanya dia di keluarga ini yang kurang beruntung. Semoga Alloh memaafkan dia.”

Nyonya Suryo mendengarkan mereka semua. Anak-anak pilihan Tuhan ini yang dijadikan PNS di negeri yang sedang bersemangat membangun infrastruktur di segala bidang ini. Mereka berbeda dengan Hendri yang memilih jalan menjadi penulis. Hingga selama kariernya 15 tahun ini, belum juga ia pulang dengan mengendarai mobil. Nasib malang penulis yang lebih giat mengkritisi pembusukan di negerinya ini karena korupsi.

“Mama dan Papa juga tak kurang upaya. Papamu sudah mendesak Hendri berkali-kali untuk ikut dalam proyek. Tetapi anak itu bersikeras tidak ikut,” Nyonya Surya berkata.

“Hendri melihat kebaikan Papa dengan mata berkabut, Ma. Anak itu harus diruwat agar kabut yang menghalangi keberutungannya hilang. Ani juga punya teman yang bisa meruwatnya, Ma. Biayanya tidak mahal, sekali ruwat hanya 15 juta, include dengan nanggap wayang. Ya, uang 15 juta apa artinya jika kemudian Hendri akan bernasib lebih bahagia. Tuhan pasti akan melihat usaha kita ini dan menggantinya yang lebih banyak.”

Perempuan itu menghela napas. Ingatannya kepada Hendri, anaknya yang ragil, yang suka menghabiskan uang jajannya untuk buku.

Sementara itu di selasar, pinggir kolam renang. Tuan Suryo dan anak perempuannya dan menantu lelakinya sedang mengobrolkan politik. Tetapi, kemudian mereka bosan dan menggantinya dengan obrolan piknik. Nyonya Suryo amat bersemangat ingin ikut tayangan My Trip My Adventure.

“Apa kalian tahu caranya agar bisa ikut ke sana? Berapa Papa harus membayar?”

“Kurang tahu soal itu Pa,” kata menantu lelakinya. “Tapi kalau mau menarik, Aldo ada koneksi travel umrah. Biayanya cuman 22 juta. Tapi, Papa nanti akan bisa wisata religi di Arab Saudi. Papa, belum pernah ke sana kan. Yah, lumayan nyicipi dulu ke Tanah Suci sebelum nanti pergi haji tahun depan.”

“Ide menarik tuh. Ok. Tolong nanti kamu uruskan ya. Papa sudah ada paspor juga.”

“Siap.”

“Kalau kamu Tantri, mau wisata ke mana? Ini kan lagi musim update ittenari wisata. Postingan kamu di medsos jualan gamis melulu sih,” Tuan Suryo tertawa.

“Hehe… Iya, Pap. Tantri memang jarang piknik. Soalnya, nggak mau melewatkan kemarin harbolnas (hari belanja online nasional) itu. Nah, untuk sekarang, Tantri harus menggenjot penjualan di toko Tantri. Habis 500 juta kemarin loh.”

“Oh, gitu. Iya bener. Sense dagang kamu memang mengejutkan daripada anak-anak Papa yang lain. Tapi, itu sangat cerdas sekali di jaman ini.”

“Istri siapa dulu dong, Pap.” Aldo tertawa.

“Tentu, tentu. Kalian memang pasangan serasi.”

“Eh, Pap, bener ini Hendri mau datang ke acara ini?” Tantri bertanya.

“Kalau dia masih merasa bagian dari keluarga ini, dia pasti datang. Kasihan dia. Sejak kecil dia memang senang menyibukkan diri dengan perkara-perkara tidak penting. Amat berlainan dengan Aldo.”

“Kemarin sih, Tantri lihat Hendri posting novel terbarunya.”

“Novel apa ?” Aldo bertanya.

“Kurang tahu juga. Judulnya agak asing begitu. Judulnya “Mandala” kalau tidak salah.”

“Ah, Hendri sulit sekali diajak terjun ke bisnis. Anak itu memang tidak paham bagaimana dia harus hidup. Dikasih uang tidak mau artinya dia sudah tidak tertarik lagi dengan namanya hidup bahagia,” Tuan Suryo mengeluh.

“Ya, semoga saja dia dapat jodoh kaya raya, Pap,” ujar Aldo tertawa. “Dengan begitu persoalan akan terselesaikan. Haha…”

“Apa ada yang mau nikah sama kere di jaman sekarang. Hanya orang ngigau saja yang mau melakukannya.”

Kemudian mereka masuk ke dalam ruangan, bergabung dengan yang lain. Mereka menunggu Hendri untuk acara gathering keluarga ini. Makanan telah disajikan pembantu. Musik diputar dari sebuah piringan hitam. Tertawa-tertawa amat bahagia keluarga besar Suryo Supeno itu. Namun Hendri masih saja belum muncul batang hidungnya.

***

Hendri sebenarnya telah merencanakan datang. Ia juga telah membawa novel terbarunya yang berjudul Mandala yang akan ia berikan kepada saudara-saudaranya, dan terutama Mamanya.

Hendri memasang senyum cerah pagi ini. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Ia akan membawa kejutan untuk mereka.

Namun, segala sesuatu telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Hendri hendak diangkat lagi ke tempat terhormat di negeri ini, sebagai seorang penulis sastra yang hebat dan profetik di novel terbarunya ini. Karena itulah, ketika taksi yang ditumpangi Hendri melewati arah jembatan Bengkong –Yah, memang dia tak punya mobil. Hanya sepeda motor yang nampaknya menjadi cibiran bagi keluarga Suryo Supeno- sebuah truk tronton yang remnya blong, menghantam taksi online itu hingga remuk. Keadaan mobil sudah sangat parah. Sopir dan penumpang di dalamnya tak terselamatkan. Keduanya meninggal di tempat. Soal, siapa yang salah, polisi masih menyelidiki kasus tersebut.

Namun, berita duka itu telah muncul di media online dengan sangat cepat. Hanya sekian menit kecelakaan itu, media online secara beruntun telah membuat percepatan yang luar biasa. Macam-macam headline mereka.

“Novelis Mandala yang luar biasa meninggal dalam kecelakaan di jalan raya.”

“Penulis hebat abad ini telah berpulang. Telah dinubuatkan di dalam novelnya sendiri”

“Kematian misterius novelis muda di bulan Juni ini.”

“Kematian yang telah menghentikan jalan kepengarangan novelis terkenal di Indonesia.”

Dan berbagai macam judul yang membuat semua penggemar novel Hendri makin terisak-isak dengan berita duka itu. Sedikit berbeda keluarga Suryo Supeno yang mendapat broadcast dari whatsapp. Nampaknya keluarga Suryo Supeno itu tidak sempat menangis dengan berita kematian Hendri. Lebih terkejut karena begitu banyak media yang memberitakannya. Mereka kini sibuk dengan gadget dan menimpali berbagai cuitan di medsos atau pemberitaan di media massa. Bahkan, seakan mereka lupa kalau seharusnya mereka segera menjemput jasad Hendri yang membeku di ruang jenasah.

“Di Detikcom juga ada beritanya. Di CNN Indonesia. Ini juga ada di berita daring luar negeri,” ujar Tantri yang memang sangat melek gadget.

“Hendri memang sudah terkenal Pap,” kata Aldo.

“Tapi, sayang sekali. Kariernya harus berhenti di saat puncak seperti ini.”

Kecuali Nyonya Suryo, semua tak ada yang menangis. Hanya perempuan itu yang tidak memegang gadget, tiba-tiba menggenang air matanya. Perutnya terasa nyeri dengan kesedihan itu. Hendri anaknya yang sebenarnya amat disayang dan dirindunya daripada anak yang lainnya. Anak yang selalu terbayang di pelupuk matanya.

Nyonya Suryo kemudian keluar dari ruangan itu meninggalkan yang lain.

“Mau kemana Ma?”

“Mama mau ke belakang sebentar.”

Nyonya Suryo berhenti di pinggir kolam renang. Seketika air matanya bercucuran tak tertahankan. Bahunya berguncang. Ia menangis untuk anaknya.

“Maafkan Mama, tidak banyak menemanimu Hendri. Maafkan Mama, tidak berusaha memahamimu…. Maafkan kami semua…”

Bersamaan itu hujan menjatuhi bumi. Rentapnya sumbang mengenai kolam renang. Air hujan itu turun perlahan dan hangat seperti air mata.

 

gambar hujan dari pixabay

2 thoughts on “Hujan Bulan Desember

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *