Arsip Bulanan: Januari 2021

Wabah

“Anak turun iblis…..! Pembawa bencana!!

“Minggat dari desa ini. Jangan kotori desa ini!!!” teriak warga menyakitkan dan membakar hati Atmo Kanjeng. Sekitar duapuluhan warga berada di halaman semua membawa berbagai macam senjata – pentungan, linggis, parang, hendak mengusir keluarga Atmo Kanjeng yang mereka anggap menularkan wabah baru yang melanda desa Kebonagung itu.

* * *

“Tenang, pak.. Sareh…

“Bagaimana bisa sabar, lihat saja kerumunan manusia yang membawa parang, linggis, pentungan yang mau menistakan kita itu, bu!”

Atmo Kanjeng meraih parangnya yang diselempitkan di dinding. Ia tak akan gentar menghadapi mereka. Masa lalunya sudah kenyang dengan pengalaman berdarah di masa revolusi dulu.

“Mau kemana pak? Jangan nekat dulu. Semuanya tak akan selesai dengan kekerasan!.” Istri Atmo Kanjeng mengganduli lengan suaminya. Ia tak berharap suaminya mati konyol diamuk warga.

“Mereka akan mengira aku takut! Tidak bisa dibiarkan lagi!”

“….ingat anak kita yang sakit pak!” Lanjutkan membaca

Elegi Seorang Pecandu Buku

Aisyah adalah seorang pecandu buku. Seisi rumahnya penuh dengan buku. Pernah tetangganya bilang, rumahnya adalah yang paling rentan kebakaran satu komplek ini. Pasalnya, semua dinding dari ruang tamu hingga kamar mandi tak luput dari rak buku.

Aisyah terkekeh. Ia menganggap itu sebagian pujian.

Ya, semua buku itu adalah koleksinya dari sejak ia SD. Sampai usianya yang 29 akhir tahun ini, nyaris setiap bulan tak pernah absen belanja buku. Baginya belanja buku adalah kehormatan[1]. Bahkan ia berharap keluarganya akan menjadi keluarga percontohan pecinta buku di perumahan ini. Begitu harapannya sering ia katakan kepada Zain, sang suami. Aisyah ingin Bilqis kecil yang baru berumur 8 bulan itu sudah mewarisi ilmu mengarsip Dewey[2] sejak dini.

Zain tertawa saja dengan bualan Aisyah. Tapi, memang saat ini impian Aisyah itu tampaknya harus bersabar dulu. Pasalnya Zain belum mencintai buku seperti dirinya. Ya, Zain lebih senang dengan hal-hal yang praktis, semisal mesin dan komputer. Dan memang suaminya adalah orang bengkel. Pun bengkelnya yang berada di jalan Purwosari ini sangat sukses karena kerja keras dan keuletan Zain.

Tetapi, terkadang Zain suka mengkritik Aisyah yang suka menghabiskan waktu seharian dengan buku dan ‘sedikit melupakan’ si Bilqis. Jika hal ini terjadi sindiran tajam dari Zain akan beruntun menyerangnya tanpa ampun.

Aisyah terkekeh saja menimpali kekesalan suaminya. Menurut Aisyah, Bilqis itu juga menyukai buku seperti dirinya. Buktinya ia sering melihat Bilqis yang baru berumur beberapa bulan itu suka menggigit-gigit buku atau kertas brosur di meja. Ah, kecilnya suka menggigiti buku, kalau besar jadi seorang kurator atau kritikus buku, pikir Aisyah.

“Aku ingin punya juga anak lelaki yang menuruni bakatku. Aku ingin mewariskan bengkelku itu nanti pada anak-anakku.” Lanjutkan membaca