Wabah

“Anak turun iblis…..! Pembawa bencana!!

“Minggat dari desa ini. Jangan kotori desa ini!!!” teriak warga menyakitkan dan membakar hati Atmo Kanjeng. Sekitar duapuluhan warga berada di halaman semua membawa berbagai macam senjata – pentungan, linggis, parang, hendak mengusir keluarga Atmo Kanjeng yang mereka anggap menularkan wabah baru yang melanda desa Kebonagung itu.

* * *

“Tenang, pak.. Sareh…

“Bagaimana bisa sabar, lihat saja kerumunan manusia yang membawa parang, linggis, pentungan yang mau menistakan kita itu, bu!”

Atmo Kanjeng meraih parangnya yang diselempitkan di dinding. Ia tak akan gentar menghadapi mereka. Masa lalunya sudah kenyang dengan pengalaman berdarah di masa revolusi dulu.

“Mau kemana pak? Jangan nekat dulu. Semuanya tak akan selesai dengan kekerasan!.” Istri Atmo Kanjeng mengganduli lengan suaminya. Ia tak berharap suaminya mati konyol diamuk warga.

“Mereka akan mengira aku takut! Tidak bisa dibiarkan lagi!”

“….ingat anak kita yang sakit pak!”

Atmo Kanjeng urung melangkah. Dalam hati membenarkan perkataan istrinya. Tapi, ia tak ingin menjadi seorang pengecut. Ia memutuskan keluar. Anehnya saat pintu tersibak teriakan warga tiba-tiba melenyap.

Dari arah warga sang ketua rt menghampiri Atmo Kanjeng.

Sampeyan harus menjelaskan semua ini. Apa maksud mereka nggrudug ke rumah saya dengan pentungan, seperti mau menangkap maling,” sambut Atmo Kanjeng kemarahannya betul-betul memuncak.

“Sabar dulu pak…”

“Apa sampeyan bercanda? Sampeyan membawa puluhan warga dan menghujat keluarga saya dan menyuruh saya sabar…!!” Semprot Atmo Kanjeng.

“Akan saya jelaskan maksud mereka. Sebelumnya, bila mereka kasar, mohon dimaafkan.”

“Ya, sebaiknya sampeyan sebagai ketua rt bisa segera meluruskan ini.”

“Begini, pak Atmo. Saya hanya mewakili warga dan terus terang saja ini bukan semata keinginan saya, para wargalah yang menginginkan saudara pindah dari desa ini. Mereka mengatakan kalau saudara membawa bala atau wabah penyakit ke desa ini.”

“Apa?!” tersentak Atmo Kanjeng.

“Tenang dulu pak. Sabar. Jangan emosi. Tak ada yang selesai dengan kemarahan. Tunggu, jangan kebakar emosi dulu pak Atmo.

“Baik. Saya akan coba bicara lagi pada warga.”

* * *

Ternyata tak ada kata lunak dari warga. Kemarahan telah menyumpal ruang kesadaran dalam otak mereka. Atmo Kanjeng juga tetap bersikukuh untuk tinggal. Ia tidak takut pada ancaman warga.. Tak ada nada gentar pada intonasi suaranya yang lantang.

“Aku tak akan pergi dari rumahku. Aku tak merasa bersalah dan tak merasa membawa bala penyakit pada kalian. Sebaliknya, bila aku benar-benar bersalah dan bisa dibuktikan di depan mata hukum, aku akan menuruti apa mau kalian semua. Tapi, bila kalian yang salah, kalian seharusnya tahu apa yang harus kalian lakukan!

Pandangan Atmo Kanjeng mengedari warga yang terdiam beku. Tak ada suara yang menyahut dari warga. Tak ada suara yang berteriak keras seperti tadi.

Atmo Kanjeng kembali masuk ke dalam. Di dalam ruangan istrinya menyambutnya dengan pelukan dan isak tangis. Di dipan ruang tamu terbaring anaknya yang semata wayang. Napasnya tersengal kadang. Dahinya berkeringat dingin. Keadaannya kritis. Akhir-akhir ini beberapa anak warga juga ada yang terserang penyakit seperti itu. Dan itu adalah awal mula keluarga Atmo Kanjeng dituduh sebagai biang penyakit yang menularkan ke anak-anak warga lain karena anaknya yang pertama jatuh sakit seperti itu.

Sebenarnya bukan karena itu saja, masalah warga itu lebih dipicu karena masa lalu buruk dari Atmo Kanjeng yang dulu adalah preman yang kemudian menikahi Siti, seorang pelacur dari lokalisasi Bulak Adem. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang anak lelaki. Seolah hukum karma atau apa, sering sekali anak semata wayang Atmo Kanjeng itu sakit. Dan puncaknya adalah sekarang, ketika beberapa anak warga yang lain terserang penyakit yang sama. Para warga menuduh bahwa anak Atmo Kanjeng itu adalah pembawa wabah penyakit dan harus pergi dari desa.

Sementara itu sepeninggal Atmo Kanjeng masuk ke dalam rumah, para warga terdiam beberapa jenak. Namun ada suara yang memecah keheningan itu dengan suaranya yang tajam.

“Lihat kalian lagaknya itu. Ia sama sekali tak menggubris kita. Ia malah menantang warga! Kita bakar saja rumahnya!!!”

“Ya…kita bakar biar wabah itu musnah…….!!!”

Seperti api disirami oleh bensin. Kemarahan warga kembali berkobar. Mulai muncul suara-suara bersahutan yang bernada menghukum. Dan puncaknya, entah oleh siapa, dari tengah kerumunan warga tiba-tiba saja sudah dilemparkan bom molotov ke atap rumah Atmo Kanjeng. Ledakan terjadi. Atap berkobar merah. Ketika api mulai membesar dan menjarah apa-apa, warga baru tersadar dan mulai mundur teratur. Sekarang ganti mereka tersentak dengan apa yang telah mereka lakukan.

Tiba-tiba sebuah ledakan besar terjadi membuat silau semua mata warga.

* * *

Aneh dari rumah yang terbakar itu tak menyisakan arang mayat manusia. Malah ada tercium wangi yang tajam menusuk hidung selama tiga hari berturut-turut. Setiap warga mulai meyakini hal itu sebagai bukti bahwa keluarga itu tak bermasalah. Harum wangi bunga itu telah menunjukkannya sendiri. Dan kini beberapa warga malah membuat petilasan tempat berziarah dan juga sebagai tempat bermohon berkah. Sekarang warga malah mendapatkan berkah dari banyaknya peziarah yang datang. Pemerintah yang terlambat menangani wabah penyakit yang bernama Flu Babi itu juga tak bisa berbuat apa-apa ketika beberapa nyawa anak melayang. Para warga juga acuh dengan sosialisasi pemerintah, termasuk menentang usaha pemerintah yang ingin menutup beberapa peternakan babi di desa Kebonagung yang dianggap sebagai penyebab wabah itu.

Namun warga tak henti-hentinya mengeruk rezeki dari tempat petilasan yang baru di desa mereka itu. Setiap hari hingga 24 jam berduyun-duyun manusia memohon di petilasan Atmo Kanjeng itu demi memohon berkah. Mereka rela antri walaupun ada yang terinjak-injak sampai mati.

 

Mei 2009

 

gambar dari pixabay

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *