Arsip Kategori: cerpen

Wabah

“Anak turun iblis…..! Pembawa bencana!!

“Minggat dari desa ini. Jangan kotori desa ini!!!” teriak warga menyakitkan dan membakar hati Atmo Kanjeng. Sekitar duapuluhan warga berada di halaman semua membawa berbagai macam senjata – pentungan, linggis, parang, hendak mengusir keluarga Atmo Kanjeng yang mereka anggap menularkan wabah baru yang melanda desa Kebonagung itu.

* * *

“Tenang, pak.. Sareh…

“Bagaimana bisa sabar, lihat saja kerumunan manusia yang membawa parang, linggis, pentungan yang mau menistakan kita itu, bu!”

Atmo Kanjeng meraih parangnya yang diselempitkan di dinding. Ia tak akan gentar menghadapi mereka. Masa lalunya sudah kenyang dengan pengalaman berdarah di masa revolusi dulu.

“Mau kemana pak? Jangan nekat dulu. Semuanya tak akan selesai dengan kekerasan!.” Istri Atmo Kanjeng mengganduli lengan suaminya. Ia tak berharap suaminya mati konyol diamuk warga.

“Mereka akan mengira aku takut! Tidak bisa dibiarkan lagi!”

“….ingat anak kita yang sakit pak!” Lanjutkan membaca

Elegi Seorang Pecandu Buku

Aisyah adalah seorang pecandu buku. Seisi rumahnya penuh dengan buku. Pernah tetangganya bilang, rumahnya adalah yang paling rentan kebakaran satu komplek ini. Pasalnya, semua dinding dari ruang tamu hingga kamar mandi tak luput dari rak buku.

Aisyah terkekeh. Ia menganggap itu sebagian pujian.

Ya, semua buku itu adalah koleksinya dari sejak ia SD. Sampai usianya yang 29 akhir tahun ini, nyaris setiap bulan tak pernah absen belanja buku. Baginya belanja buku adalah kehormatan[1]. Bahkan ia berharap keluarganya akan menjadi keluarga percontohan pecinta buku di perumahan ini. Begitu harapannya sering ia katakan kepada Zain, sang suami. Aisyah ingin Bilqis kecil yang baru berumur 8 bulan itu sudah mewarisi ilmu mengarsip Dewey[2] sejak dini.

Zain tertawa saja dengan bualan Aisyah. Tapi, memang saat ini impian Aisyah itu tampaknya harus bersabar dulu. Pasalnya Zain belum mencintai buku seperti dirinya. Ya, Zain lebih senang dengan hal-hal yang praktis, semisal mesin dan komputer. Dan memang suaminya adalah orang bengkel. Pun bengkelnya yang berada di jalan Purwosari ini sangat sukses karena kerja keras dan keuletan Zain.

Tetapi, terkadang Zain suka mengkritik Aisyah yang suka menghabiskan waktu seharian dengan buku dan ‘sedikit melupakan’ si Bilqis. Jika hal ini terjadi sindiran tajam dari Zain akan beruntun menyerangnya tanpa ampun.

Aisyah terkekeh saja menimpali kekesalan suaminya. Menurut Aisyah, Bilqis itu juga menyukai buku seperti dirinya. Buktinya ia sering melihat Bilqis yang baru berumur beberapa bulan itu suka menggigit-gigit buku atau kertas brosur di meja. Ah, kecilnya suka menggigiti buku, kalau besar jadi seorang kurator atau kritikus buku, pikir Aisyah.

“Aku ingin punya juga anak lelaki yang menuruni bakatku. Aku ingin mewariskan bengkelku itu nanti pada anak-anakku.” Lanjutkan membaca

Hujan Bulan Desember

Hujan tak berhenti turun sejak semalam. Genangan air di halaman makin meninggi. Alamat mungkin selokan di depan rumah meluap. Namun yang merisaukanku bukan tentang kemungkinan banjir di komplek perumahan jika hujan deras di bulan-bulan Desember seperti ini. Adalah rasa dingin dan senyap yang dikirimkan oleh hujan. Perasaan tidak nyaman. Kesendirian yang berat. Harapan-harapan yang tersangkut dalam jaring laba-laba besar karena kepala memikirkan banyak hal sekaligus.

Aku tak berencana untuk mengakhiri kenestapaan ini. Sebagai penulis kurasa memang aku telah terbiasa menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan. Ini berlangsung lebih dari lima belas tahun. Karya tulisan lebih banyak yang tersimpan di komputer daripada dimuat di media massa. Alih-alih beberapa hal yang menyenangkan bukan datang dari riwayat penulisan itu sendiri. Tetapi, aku tak hendak menceritakan bagaimana detail soal itu. Kau akan memahami hal ini jika melakukan seperti aku lakukan. Seperti orang tuaku yang tak paham dengan hidupku yang lebih memilih sebagai penulis.

Mereka mengeluh tentang hidupku yang tak keruan. Mereka meminta aku agar memilih pekerjaan yang bagus. Sebuah pekerjaan yang benar-benar bisa membuatku hidup mapan. Mereka akan melakukan apa saja untuk itu. Siap membantu koneksi dan tetek bengek lainnya.

Namun, sebenarnya mereka sedang membuat tembok yang tinggi denganku. Sebuah hal kesia-siaan yang tak menyenangkan. Jadi inilah kesepian yang bertambah dibawa oleh hujan. Membasahi hatiku. Menenggelamkanku dalam kerisauan yang kejam. Terkadang rokok dan minuman yang masuk ke dalam lambungku seakan hanya sebuah pelarian sekilas. Hampa dan tak bermakna. Toh, ia tak akan bisa mengubah apapun. Atau taruhlah orang tak seharusnya bergantung pada dua hal ini: rokok dan minuman. Lanjutkan membaca

Boneka Bobby 13

Aku masih sering mengingat adegan itu sambil tertawa: sebuah sepeda motor vario 125 cc yang ditumpangi Bobby B13 berwajah Chuck Norris, Pakdhe Thayib dan anaknya yang sekolah di Madrasah Ibtidaiyah terbang ke blumbang lele yang ada di depan rumah mereka. Sialnya, Chuck Norris yang duduk di depan memang tidak bisa melihat dan tidak bisa menyetir yang menjadi pangkal persoalan itu. Sebabnya Chuck Norris hanya sebuah boneka karet sintetis yang mirip manusia dengan tulisan “Made In China” tepat di atas di pantatnya.

Aku melihat dari teras rumahku saat adegan kecelakaan itu berlangsung sukses. Jelas aku ingin menolong mereka. Saat aku tiba di sana, pakdhe kulihat berdiri di tengah blumbang yang airnya sedengkul berwarna coklat kotor karena itu memang kolam lele. Anaknya, si Rudi, malah tertawa dan bercerita kalau dia baru saja terbang bersama Chuck Norris. Emaknya, berteriak-teriak tidak karuan dan hampir menangis. Segera emaknya ikut nyemplung ke kolam, meraba-raba anaknya. Setelah yakin anaknya aman, tidak kurang suatu apapun, ia langsung menyemprot suaminya,

“Bapak ini gimana, masak jalan selebar itu bisa nyemplung ke blumbang? Naik motornya apa sambil merem sih?”

“Ndak, Bu. Yang di depan bukan Bapak tetapi Chuck Norris,” Rudi yang belepotan lumpur menjelaskan.

“Ah, bapakmu itu sudah sinting. Sejak dia ikut-ikutan beli boneka itu, dia makin tambah aneh-aneh. Masak boneka diajak naik motor. Malah ditaruh di depan. Untung saja tadi tidak nggambul gapura di jalan.”

Dan istrinya masih nyemprot macam-macam. Aku perhatikan drama keluarga itu sambil mesam-mesem. Kulihat Pakdhe hanya diam melihat keadaan Chuck Norris yang tenggelam dengan wajah di dasar lumpur dan kaki yang terangkat ke atas. Pakdhe lantas mengangkat kaki Chuck yang nyembul itu lalu ia seret ke daratan. Tetangga yang ternyata banyak berdatangan malah ikut tertawa. Lanjutkan membaca

Rahasia Ilmu Kentut Wangi

Rahasia ilmu kentut wangi konon adalah sebagian rahasia jalan suci. Tidak semua orang sakti bisa mendapatkan karomah ini, apalagi sekadar orang yang mengaku-ngaku suci.

Bambang Gentolet sebagai seorang calon bupati yang ingin menang di pilkada tahun ini ingin mencari lambaran bagi dirinya. sudah menjadi kali ini ingin ngangsu kawruh mendapatkan karomah kentut wangi. Gurunya, Syekh Kirdun, adalah seorang manusia yang mempunyai karomah kentut wangi ini. Bambang bertekad ia harus bisa mendapatkan karomah ini. Masalahnya juga adalah ia sering ngentutan ketika duduk lama atau ketika gugup. Dan ini semua tak bisa ia hindari kalau berniat untuk mencalonkan diri menjadi bupati kota Bulak Adem ini.

Bambang sendiri sebagai cabub sudah menguasai sebagian ilmu kanuragan. Dari ilmu kebal senjata tajam, ilmu lebu sekilan, dan dasar-dasar ilmu hipnotis, dan ilmu semar mesem. Tujuannya agar ia ketika bicara di depan orang banyak, atau ketika bicara dengan masyarakat, ia lebih percaya diri dan perkataannya bisa diterima oleh masyarakat. Singkatnya, semua ilmu untuk lambaran menjadi seorang calon bupati ia sudah miliki. Bahkan, ia yang getol belajar ilmu ini sejak ia remaja semua ini bisa ia ditempuh dengan mudah. Tetapi, ilmu kentut wangi adalah puncak dari ilmu segala ilmu. Di pulau jawa ini hanya Syekh Kirdun yang mendapatkannya. Jadi, bayangkan, satu pulau hanya satu manusia saja yang mempunyai karomah kentut wangi.

Syekh Kirdun sendiri, tentu juga bukan manusia biasa. Dari namanya saja, tidak semua orang biasa mampu menyandang nama seperti itu: Kirdun atau monyet. Kalau mau digamblangkan orang akan menyebutkan Syekh monyet. Tetapi, begitulah Syekh Kirdun tak pernah berkeberatan dipanggil Syekh Kirdun alias Syekh monyet. Lanjutkan membaca

Elegi Cinta Aku, Kau, dan Dia

dimuat di Antologi Cerpen Guru Balai Bahasa Jawa Tengah

Aroma parfummu masih tertinggal di bantal ini. Mengekal di ruang kamar yang tak sepenuhnya engkau tinggalkan benar. Hanya terdengar tik tok jam dalam keheningan tunggal tatkala kumembuka mata pagi ini. Rasa kopi yang masih pula tertinggal di bibirku dari tiga gelas cangkir kopi yang kau seduhkan semalam, yang kutandaskan dalam perbincangan kita tentang novel Sandra Cisneros itu.

Sedetik ini aku ingin menelponmu. Mengatakan sebuah lintasan pikiran tentang novelis kenamaan Amerika latin itu. Tapi tatkala kuraih handphone di tempat ia seharusnya berada, ternyata tempat itu kosong.

“Aku mau membelikan sandal yang baru buat Kasyfa besok,” ujarmu semalam. “Aku ingin mengajaknya ke pasar Beringharjo. Mengajaknya melihat-lihat suasana pasar tradisional.”

“Menurutku itu ide menarik. Pasar tradisional harganya murah dan kualitasnya tak kalah.”

“Tidak, sebenarnya bukan soal itu. Aku ingin mengajaknya melihat kerumunan orang biasa. Biar ia merasakan kebersamaan dengan mereka. Aku ingin Kasyfa kelak selalu hadir bersama orang-orang kecil.”

Aku selalu terpukau dengan perkataanmu. Sesuatu yang unik dan tulus selalu muncul dari dalam hatimu. Lanjutkan membaca

Pemimpi

dimuat di Solo Pos

Lagu “Patient” GNR mengalun dari speaker peron stasiun. Cukup aneh, lagu ini mengingatkan tentang tujuh tahun yang lalu, ketika kita berpisah. Di saat itu mengalun lagu “Patient” yang dilantunkan AXL seakan-akan menjadi penanda.

Aku ingat saat itu kau mengatakan bahwa semua harus berakhir. Harus berpisah. Tak ada yang boleh menangis. Sialnya, justru kau yang menangis.

“Aku bodoh, maafkan aku,” katamu, sembari mengais sengit air mata.

Kau harus pergi menempuh studi di Irlandia. Mengambil beasiswa yang menurutmu berharga untuk dilewatkan. Waktu itu aku ingin mengejarmu. Tinggal di Bracket Island. Kubaca di laman wisata di sana, wisatawan bisa tinggal gratis. Tetapi syaratnya aku harus kerja di kedai kopi selama 6 bulan. Selain itu aku bisa mendapatkan akomadasi, gaji dan tunjangan.

Akan tetapi, minusnya di sana semua serba minim. Penduduknya baru 160 orang. Tak ada listrik. Tak ada wifi. Benar-benar tempat yang terpencil.

Pun, tak ada yang betah dengan kesunyian.

Ya, saat itu kita tak punya pilihan. Kita punya kesibukan masing-masing. Aku sedang mengurusi bisnis penerbitan buku. Kau harus menyelesaikan S2 mu di sana.

“Kau tak pernah menanyakan mengapa aku memilih Irlandia?”

Aku mengedikkan bahu.

“Sempat terpikirkan. Tapi, barangkali itu pun tak berguna.”

Kurasa itu percapan terakhirku. Tepat ketika lagu “Patient” berakhir, kereta datang. Kau melambaikan tangan. Dan aku tetap memasukkan tangan di saku. Kulihat kau menangis. Tapi yakin kutahu, akulah yang terpuruk. Kau tahu aku sangat mencintaimu.

Aku memasang headset dan mendengarkan lagu “unforgiven” Metallica. Aku marah. Tapi semuanya tersimpan di dalam dada. Hingga sekarang. Lanjutkan membaca

Elegi Martha

dimuat di Magelang Express
Untitled
Martha mengalami mimpi terburuk dalam hidupnya. Mimpi yang berakhir di alam nyata. Sebuah kenyataan yang tak pernah ia harapkan terjadi pada dirinya, pada pernikahannya.

Dini hari kerap ia terbangun dalam gelisah. Ketika dekap suaminya terasa tak nyata lagi. Siapakah ia yang berbaring di sampingnya? Wajah tampan lugu yang dikenalnya kini berbau perempuan sundal.

Oh, ia benci sekali kota penjajahan yang mengubah para perwira muda seperti suaminya. Kegelapan kota ini membinasakan cahaya terang suaminya hingga membuatnya lari ke gedung opera Marabunta hingga jatuh ke pelukan Mata Hari .

Martha tidak tahu apakah dia harus senang atau benci dengan mengetahui perselingkuhan suaminya yang terlalu dini ini. Bersyukur yang terasa absurd karena Tuhan karena telah menyelamatkan dari kebohongan palsu suaminya.

Pun tak pernah Martha membayangkan mengapa Tuhan membuatnya merasakan kepedihan kepadanya. Mencicipkan ujian dahsyat ini. Padahal tangannya tak pernah lelah mendoa. Seandainya Tuhan tidak memberinya hari celaka itu.
Ya, saat itu candik ayu terlihat memerah di atas gereja Kerk . Malam berangkat seakan lebih cepat. Sebuah simphoni Mozart mengalun dari rumah seberang amat menentramkan ketika ia berjalan bergegas itu. Entah rumah siapa. Sebuah rumah yang elok dengan halaman luas dan berumput jepang yang asri. Pastilah rumah seorang pejabat tinggi di Semarang ini.

Tatkala saat hendak berbelok ke arah kanal, tiba-tiba sebuah kereta hampir menabraknya. Martha bersyukur bisa menghindar lebih cepat jadi ia tidak tertabrak. Tetapi yang lebih membuatnya terkejut adalah ia melihat siapa penumpang yang turun. Dan dua orang penumpang yang itu turun itu adalah sang penari erotis Mata Hari bersama Ludwig, suaminya.

Benarkah yang ia lihat? Suaminya bersama dalam satu kereta dengan penari perut itu?

Marah dan berang hati Martha. Urusannya yang mahapenting untuk ke gereja Kerk terlupa seketika.
***
Sungguh di Semarang ini tak ada yang tidak mengenal Mata Hari! Martha juga tahu saat Mata Hari bersama suaminya pastilah ada yang tak beres. Di kota ini tak ada yang bisa menutupi bangkai perselingkuhan. Semua bau busuk akan tersebar dengan mudah. Dan benar saja lambat-laun teman-temannya di gereja mengatakan dengan terang-terangan maupun malu-malu.

Tetapi Martha sangat mencintai suaminya. Ia tak ingin berpisah dengan suaminya. Ia ingin melakukan sesuatu agar suaminya kembali kepadanya. Akhirnya Martha makin sering datang ke gereja. Memasuki bilik pengakuan dosa lebih sering dari biasanya. Dan hari pertama itu saat menceritakan semuanya, ia mendapat nasihat dari sang pendeta, bahwa apa yang ia terima ini adalah buah dari dosa lahir yang belum ditahirkan. Sang Pendeta menyuruh untuk memohon ampun kepada Tuhan. Lanjutkan membaca

Ramalan Ibu tentang Keperawanan Seorang Pelacur yang Akhirnya Menjadi Istriku.

dimuat di joglosemarnews.com

Ramalan-Ibu-tentang-Keperawanan-Seorang-Pelacur-yang-Akhirnya-Menjadi-Istriku
Hari lahir ibuku istimewa. Ia lahir satu menit setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan Soekarno. Tentang keistimewaan Ibuku itu, selain hari ulang tahunnya yang selalu ia rayakan bersamaan dengan hari kemerdekaan negrinya ini, sejak kecil Ibu mempunyai bakat yang bisa dikatakan luar biasa bagi warga desa kami. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa warga yang telah beberapa kali menggunakan jasa ibu.
Ya, Ibuku seorang peramal. Keahlian Ibu adalah meramal nasib orang. Beberapa orang yang pernah datang – dan sering sekali kembali lagi tentu- akan bertanya pada Ibu, hari baik apa yang akan digunakan untuk anaknya menikah, atau arah dan tempat mana yang baik untuk mendirikan toko? Lain kali mereka akan bertanya, bagaimanakah cara agar bisa membuat suami tetap lengket dan tidak akan jajan di Warung Bulak Adem yang ada di ujung desa –sebuah komplek pelacuran yang sengaja dilegalkan oleh pemerintah daerah kami. Tentu ramalan Ibuku memang tidak selalu tepat atau betul menjadi kenyataan.
“Aku hanya melihat apa yang bisa kulihat,” katanya menjawab para pelanggannya. “Takdir orang itu tak bisa dirubah. Aku tak bisa mendahului takdir Tuhan.”
Suatu kali ada seorang pelacur yang datang ke rumah. Seperti kuketahui, mereka biasa datang menggunakan jasa Ibuku agar pemasukan mereka lancar. Atau agar mereka tetap menjadi sang bunga mawar lokalisasi. Namun kali ini, Ibu tidak biasanya menyuruhku menyuguhkan air minum buat seorang perempuan lokalisasi. Ya, hal ini agak janggal. Sebelumnya Ibu tidak pernah menyuruhku berurusan dengan para pelanggannya. Tapi, aku hanya manut. Lagi pula aku sedang tak ada kesibukan. Pekerjaanku sendiri di ladang sebagai petani lombok sudah dapat sering kutinggal dan hanya menunggu panen.
“Lilik, kuperkenalkan pada tamu istimewa Ibu.”
Aku merasa heran, maksudku, tidak biasa sekali Ibu mengenalkanku pada pelanggannya. Dan sementara itu perempuan itu tersenyum simpul. Pupil matanya melebar. Mungkin ia agak terkejut juga dengan tajamnya pujian dari Ibuku. Ya, aku tak heran dengan kepandaian Ibuku yang satu ini. Ibuku tak hanya pandai memuji tapi juga pandai mensugesti para pelanggannya –yang karena dari hal itulah kami bisa makan setiap harinya.
“Lilik,” kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan perempuan itu.
“Maharani.”
Ia tersenyum manis. Ada lesung pipinya yang menarik.
Aku sejujurnya tak tahu maksud Ibu dengan memperkenalkan dengan salah satu pelanggannya. Sampai ketika perempuan itu pergi, Ibu mengajakku bicara. Dan Ibuku nyata berbinar ketika berbicara padaku kali ini.
“Ia akan menjadi istrimu kelak, Lik. Gadis itulah yang akan membuatmu bahagia.” Lanjutkan membaca

Anomali Monti

dimuat di Solo Pos

Sebuah anomali barangkali terjadi pada Monti. Monti, adalah anak pertama Mama yang mempunyai tubuh paling besar di antara kami. Jika dilihat dari foto keluarga, siapapun tahu ia sangat mirip Papa. Tetapi karena mentalnya yang terbelakang membuat ia terlihat sangat kontras dari semua anak Mama yang rata-rata berprestasi. Mbak Ira, terutama yang paling keras kepada Monti –untuk tidak aku katakan membencinya bahkan menuduh Monti hasil hubungan gelap Mama.

“Ia tidak mungkin mirip Papa. Sama sekali tidak! Monti adalah seorang idiot dan itu tak mungkin menurun dari Papa,” pendapat Mbak Ira dengan ketus.

Sejatinya aku tahu Mbak Ira hanya kecewa dengan Mama. Seperti yang berulang kali ia katakan, Mama selalu menekannya karena ia adalah satu-satunya anak perempuan di antara kami. Anak perempuan mempunyai kewajiban yang besar menurut Mama. Dan anehnya karena terlalu sering ditekan seperti itu alih-alih Mbak Ira membenci Monti satu-satunya anak “yang tak berguna” bagi keluarga.

Mamaku sendiri, di usianya yang senja tinggal bersama Monti di Jakarta. Aku tinggal di semarang, di studio sekaligus galeri kecilku. Ira tinggal di Jogjakarta dengan keluarganya karena dekat dengan rumah sakit ia berpraktek sebagai dokter. Kakakku, Agus, tinggal di istana negara, tempat ia bekerja. Edi, sedang menyelesaikan S3 nya di Australia. Ed, begitu biasa kami memanggilnya, pergi dari rumah melanjutkan studi setelah perkawinannya gagal. Ia mengatakan satu hal padaku sebelum ia berangkat.
Lanjutkan membaca