Arsip Kategori: Uncategorized

Desember untuk Memulai

Saat sekarang, detik ini, adalah waktu tuk berpikir. Pada titik ini aku telah merasa inilah hidupku. Tidak dimiliki orang lain, dan aku tak hendak memiliki hidup orang lain. Kebahagiaanku adalah hidupku.

Aku sebenarnya di sini hanya ingin mengatakan, bahwa pada titik ini, aku harus merancang kebahagiaanku. Memulai pada Desember ini.

Mungkin orang lain juga merasa hal yang sama. Pada musim penghujan ini, sesuatu harus dimulai. Hidup harus terus bergerak.

Aku pun bersyukur, bahwa pada titik ini aku memperoleh berkat dari Allah SWT. Mendapatkan pekerjaan yang kuinginkan, memiliki keluarga yang kudambakan, dan menjadi diriku sendiri. Serta ada beberapa hal yang masih aku ingin dapatkan.

Semua orang tak ada yang sempurna. Justru karena itulah kita bisa terus memulai, mengharap, dan suatu saat merasa bersyukur dengan keadaan diri sendiri.

Desember ini adalah refleksi bagiku. Pada titik ini aku hanya ingin bersyukur.

Alhamdulillah.

 

Kebonagung, 6 Desember 2020

Cinta Akan Mendamaikan Segalanya

dimuat di berdikaribook.com

bannercintadamai

Oh, kalian mungkin menganggap aku sebagai anak durhaka. Tetapi, sebaliknyakah tidak bisa disebut seorang ibu durhaka kepada anaknya. Ya, Ibuku, memang perempuan biologis yang melahirkanku. Namun, aku lebih memiliki seribu alasan untuk membencinya. Dia tak lebih dari gambar seorang perempuan yang hanya pernah kulihat dari sebuah foto usang hitam putih, yang menggambarkan sedang meneteki aku ketika lahir. Tetapi sebutan macam apa yang pantas baginya, seorang ibu yang tega menelantarkan anaknya dan minggat bersama seorang wartawan dari Jerman, tak peduli nasib anaknya yang masih bayi. Lantas, apakah ibu semacam ini pantas menyandang sebutan mulia sebagai ibu?

Kalian dan aku adalah sama. Manusia yang ingin merayakan cinta dan menjauhi rasa sakit. Namun, kebencian di hatiku kadung menghitam pekat. Jika bukan karena perempuan tua yang merawatku itu yang membuatku mengenal kasih sayang manusia, aku akan menjelma iblis bertubuh manusia. Dengan senang hati akan kutahbiskan diriku sebagai Lucifer, raja iblis dan kegelapan untuk menghancurkan dunia ini ke dalam kerak api neraka.

Kawan, perasaan ini, kau akan memahaminya jika berada dalam posisiku. Kau tahu hasrat manusia menjadi iblis itu menjadi lebih besar ketika tak ada cinta dalam nadi hidupnya.

Ya, perempuan tua itulah yang membesarkan aku dengan cintanya. Berkat kasih sayangnya, kini aku mampu melakoni kehidupan sebagai manusia yang mengalir darah dan menetes air mata. Lanjutkan membaca

Tawaran Pekerjaan

Dimuat di Tanjung Pinang Pos

Tawaran pekerjaan baru ini sungguh menarik bagi Parjo. Lebih mudah dan gampang dari pekerjaannya yang ia lakukan sekarang ini: menjadi kuli barang alias manol di pasar Klewer. Walaupun bisa mendapat banyak uang kalau sedang banyak langganan. Namun, tubuhnya yang mulai ringkih sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maklum saja, usianya sudah hampir 60 tahun.

Hingga datanglah seorang perempuan setengah tua. Berpenampilan orang kaya. Mas-giwang gemerlapan di badannya. Pendeknya, perempuan yang tidak tidak cantik namun tidak juga jelek itu menyuruh Parjo mengusung barang-barang ke dalam mobil. Barang-barang itu berupa kain mori dan handuk kecil dalam jumlah banyak. Baru kali ini Parjo melihat perempuan itu. Parjo berharap perempuan itu jadi pelanggan tetapnya kelak.

Lanjutkan membaca

Ziarah Seekor Semut dan Kisah Seorang Pengarang

dimuat di Solo Pos (18/3)*

29313205_10211402378594658_3060407211944574976_n

Tuanku adalah seorang pengarang cerita. Dia duduk di meja komputernya tiga sampai empat jam sehari. Tetapi, tuanku tidak selalu mengarang atau membaca buku. Acapkali ia hanya memelototi layar monitor itu selama berjam-jam sedangkan pandangannya kosong menerawang entah kemana.

 

Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku sendiri tidak tertarik dengan tulisannya selain ketertarikanku dan kaumku pada kopi yang biasa ia taruh di samping layar monitor. Kopi arabica adalah jenis kopi kesukaannya. Tetapi, aku dan kaumku menyukai kopi tuanku ini karena adanya gula yang dominan pada kopinya. Ya, agaknya tuanku ini penyuka kopi yang kental tapi manis.

 

Karena hal itulah kami berombongan datang ke gelas cangkirnya setelah kopinya agak dingin. Kami berlomba minum di telaga kopi dan baru pergi setelah kenyang. Tetapi sebagian teman kami tak bisa menahan diri. Mereka mati tenggelam dengan apa yang mereka inginkan.

 

Saat kembali pulang dari telaga kopi itu sesekali aku menyempatkan diri melihat ekspresi tuanku. Tuanku bernama Denipram. Dia sebenarnya tampan walaupun kantong di bawah matanya semakin menjadi gelap. Terkadang aku melihat berkas-berkas ketakutan di sana. Tetapi, kau tahu, para pengarang cerita adalah makhluk istimewa. Mereka biasa menghadapi kesunyian yang dalam. Tahan menghadapi kenyataan dan ketakutan yang tak mengenakkan. Wajarlah hingga wajah tuanku ini tampak lebih tua dari umur sejatinya.

 

Oh, hidup macam pengarang memang tak ideal. Tak sehat. Apa yang mereka pikirkan jauh lebih mendalam dari apa yang bisa mereka lakukan.

Lanjutkan membaca

Kesalihan Berkendara di Jalan Sebagian dari Iman

dimuat di Solo Pos

 thumbnail

Penulis                                  : M Faizi

Judul Buku                          : Celoteh Jalanan (Lucu, Segar dan Inspiratif)

Cetakan pertama             : Maret 2017

Penerbit                              : BasaBasi

Tebal                                     : 180 hlm; 14×20

 

Kita sering mendengar analogi seperti ini: hukuman neraka itu dianalogikan seperti seorang oknum yang mengendari kendaraan kemudian ia melanggar peraturan lalu lintas, misalnya tak bawa SIM. Karena tidak punya atau lupa membawa surat sakti tersebut, oknum itu tetap akan ditilang oleh polisi. Polisi dianalogikan sebagai hukuman akhirat, sedangkan pelanggaran bisa dianalogikan sebagai perbuatan dosa. Sadar atau tidak sadar, lupa atau tidak lupa, jikalau melanggar peraturan lalu lintas atau melakukan perbuatan dosa, dua-duanya akan mendapatkan hukuman.

Di dalam hadits banyak disinggung tentang adab-adab di jalanan, semisal menyingkirkan aral di jalanan atau tidak memakir kendaraan yang memakan bahu jalan, dan mengucapkan salam kepada orang yang berpapasan di jalan. Semua kesadaran ini jika dilakukan dengan niatan mengamalkan sunnah, insya Alloh, dia akan mendapatkan pahala atau ganjaran. Artinya pula, salah satu cara menakar iman dan pengamalan sunah tidak bisa dilepaskan dari variabel bagaimana dia bermuamalah di jalan.

Sejatinya buku Celoteh Jalanan, M Faizi ini bukan sekadar celoteh jalanan yang bising, memekakkan telinga, atau komentar tetnang kesemrawutan lalu lintas di Indonesia ini, sebaliknya buku ini merupakan refleksi seorang pengendara yang notabene adalah seorang kyai, seniman, penyair dan seorang pengamat yang mempunyai cara yang pandang linuwih dalam menyikapi keadaan. Lanjutkan membaca

Balada Si Jantre Polan yang Dibakar Massa

Dimuat di koran Haluan

Jantung Sanyoto berdebar kencang melihat lelaki itu menginjakkan kaki di kios cukurnya. Sanyoto menelan ludah. Tenggorokannya kering tiba-tiba. Lelaki itu menatap gambar model potongan rambut di sebelah kaca besar seperti sedang memilih.
Ya, semua orang di pasar kenal dengan lelaki ini. Jantre Polan bromocorah pembantai berdarah dingin. Masih ingat Sanyoto saat lelaki itu menyilet telinga kacungnya sendiri. Dulu juga dia yang pertama kali menyiram bensin seorang pemabuk yang membuat onar. Padahal pemabuk itu seorang residivis yang disegani.

“Tidak ada yang mau dicukur, kan?”

Sanyoto mengangguk. Kata-kata sukar keluar dari lidahnya. “Ya, pak. Nggak ada sama sekali.”

Jantre Polan duduk akhirnya. Dan Sanyoto reflek menyelimutkan kain besar berbahan mori itu di pundak Jantre Polan.

“Mau potong gimana pak?” Sanyoto inisiatif bertanya.

Jantre diam. Sanyoto melirik ke mata tajam yang memandang dirinya di cermin itu. Diam tak ada jawaban.

“Kamu bisa adzan kan?”

“Apa pak?”

“Kamu bisa adzan?” ulang Jantre.

Sanyoto hampir tertawa. Ia tak paham pertanyaan itu. Tapi, ia takut untuk tertawa.

“Maksudnya pak?”

Lanjutkan membaca

Guru Menulis sebagai Agen Masyarakat Adiluhung untuk Mengcounter Berita Hoax di Lini Massa

Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, masyarakat dijejali informasi yang begitu deras mengalir sampai ke pojok-pojok kamar tidur melalui berbagai media massa. Informasi, menurut Peter F Drucker, sudah bersifat transnasional yang tak ada lagi batas-batas nasional. Dengan sifat transnasional tersebut, informasi global, melemahkan dan menghancurkan identitas nasional kemudian menggantikannya dengan identitas kebudayaan baru. Artinya juga, informasi (pengetahuan) yang menjadi faktor penentu bagi eksistensi masyarakat baru yang disebutkan sebagai masyarakat pascakapitalis. Dalam masyarakat baru tersebut sumber sumber ekonomi dasar bukan lagi modal, (kapital) sumber daya alami bukan pula tenaga kerja, tetapi pengetahuan. Kekuatan informasi itu pula yang juga diyakini oleh Alvin Toffler sebagai The Highest Quality Power, lebih tinggi daripada Money Power dan Muscle Power.

Nah dalam kondisi milineal seperti inilah membanjirnya informasi dalam banyak hal membuat masyarakat tidak berdaya. Apalagi informasi dan berita hoax merupakan salah satu ekses negatif yang tumbuh subur di generasi milenial jaman ini mengalahkan variabel-variabel komunikasi lainnya.

Secara definitif, hoax adalah pemberitaan palsu untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya agar mereka mempercayai dan meyakini sesuatu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. (wikipedia).

Masyarakat Indonesia pun gemar merayakan hoax. Seperti pernah terjadi pada kasus meninggalnya Uje. Adanya penampakan foto awan yang berbentuk sosok orang berdoa di atas tempat kecelakaan sang ustadz gaul itu. Akibatnya, tanah dan tempat kematian Uje dikeramatkan, diambil, dan dibawa pulang sebagai jimat dan media kesyirikan. Bahkan hal itu berlanjut kepada sengketa permasalahan kubur Uje karena banyaknya peziarah yang ingin ngalap berkah kepada almarhum.

Contoh lainnya adalah berita hoax pengungsi Rohingnya diduplikasi hampir sebagian besar oleh muslimin Indonesia dan menjadi trending topic di lini massa. Dari istri presiden Turki yang datang ke Aceh. Tapi beberapa dari berita tersebut adalah berita hoax semata.

Sebenarnya tidak hanya Indonesia saja, dari luar negeri juga sering terjadi dan parahnya langsung diimpor oleh media Indonesia. Misalnya kejadian yang belum lama terjadi, media Arab dan Israel digemparkan dengan berita seorang biarawati El Savador yang melahirkan Isa Al Masih. Beberapa koran dan media digital Indonesia ikut melansir berita tersebut dengan tajuk Isa Al Masih telah lahir. Diberitakan sebelumnya biarawati asal El Salvador berusia 31 tahun tidak tahu bahwa dirinya sedang hamil dan tiba-tiba melahirkan seorang bayi laki-laki seberat 3,5 kilogram. Pun hal ini berkaitan dengan kematian Ariel Sharon, fenomena Arab Spring (peperangan besar yang sekarang melanda sebagian negara di Timur Tengah dan perang besar di Suriah). Diramalkan anak biarawati itu adalah Isa Al Masih yang akan memimpin dunia untuk membunuh Dajal. Menurut Rabi Yahudi, yang bernama Yatsahaq Kaduri, dengan hadirnya Dajjal akan terjadi perang sengit antara para pengikutnya dan penentangnya. Sepertiga penghuni bumi akan terlibat dalam perang yang berlangsung selama tujuh tahun ini. Kaduri percaya semua penentang Dajjal akan tewas dan akan muncul kekacauan hebat.

Namun sehari kemudian dilansir klarifikasi kelahiran “Bayi Imam Mahdi” itu adalah hoax semata. Setelah mendapat pelbagai respon luar biasa dari masyarakat Arab, biarawati yang bernama Roxana Rodriguez itu akhirnya mengaku bahwa ia telah melanggar sumpahnya untuk hidup selibat. Ia mengaku melakukan hubungan seksual dengan seorang lelaki ketika ia tidak tinggal di biara. Selama ini ia menutupi aib itu di gereja hingga aibnya terbongkar ketika anaknya lahir. Akibatnya masyarakat balik mencaci maki perempuan yang ‘tidak jadi melahirkan Imam Mahdi’ itu. Lanjutkan membaca

Meruwat Kemerdekaan Indonesia: Sejahtera Tanpa Korupsi

Kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan
kemerdekaan indonesia
untuk kedua kalinya!

Hal-hal yang mengenai
hak asasi manusia
utang-piutang
dan lain-lain
yang tak habis-habisnya
INSYA ALLAH
akan habis
diselenggarakan
dengan cara saksama
dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya
Jakarta, 25 Maret 1992
Atas nama bangsa Indonesia
Boleh – siapa saja

Prolog
Sebuah sajak parodi berjudul Proklamasi, 2 yang digubah penyair Hamid Jabbar menjadi cerminan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Kita ternyata masih sering sarapan pagi bersama televisi yang menyiarkan berita korupsi yang makin menggurita. Korupsi yang sejatinya menggagalkan makna kemerdekaan yang selalu kita peringati setiap 17 Agustus ini.
Barangkali, kita memerlukan semacam seremonial yang besar. Yang lebih megah dari sekadar peringatan tujuh belasan dan upacara bendera. Kita memerlukan sebuah ritual luar biasa daripada gegap gempita dentuman meriam di istana negara. Kita memerlukan sebuah ruwatan massal, yaitu ruwatan kemerdekaan Indonesia dalam jiwa sanubari sendiri. Ruwatan sejatinya lebih dari merawat, tetapi mengembalikan hakikat dan martabat kemerdekaan Indonesia yang sejati.

Negara Siaga Korupsi
Di negeri yang konon terkenal subur serta gemah ripah loh jinawi ini, entah mengapa korupsi terjadi setiap hari. Kita lantas bertanya, apa yang salah dengan negeri ini?
Sungguh, Indonesia mendapat peringkat ketiga dalam kuantitas kejahatan korupsi yang menyaingi negara-negara lain di Asia Tenggara. Pada 8 Maret 2010 PERC (Political & Economic Risk Consultancy) menempatkan Indonesia pada ranking pertama dari 16 negara terkorup di Asia Pasifik. Pada periode tahun 2001-2009, jumlah uang yang dikorupsi mencapai Rp 73,07 triliun. Namun total nilai hukuman finansial yang dijatuhkan kepada pelaku hanya Rp 5,32 triliun atau 7,29 persen dari total dana yang dikorupsi. (infokorupsi.com). Selama kurun waktu 2016, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan 17 operasi tangkap tangan (OTT) tersangka kasus tindak pidana korupsi. Hingga yang paling menghebohkan di awal tahun 2017 ini kasus korupsi E-KTP, yang merugikan negara hampir 2,3 trilyun. Bahkan, di tingkat desa penulis sendiri ada indikasi penggunaan Dana Desa (DD) yang tidak tepat. Mulai dari potongan PPH, PPN, dan potongan administrasi lainnya sebesar 16,5 %, yang menyunat bantuan Dana Desa tersebut.
Sungguh mempertanyakan banalitas korupsi adalah seperti menuduh kepada diri sendiri bahwa korupsi telah menjadi milik kita semua. Seperti yang disampaikan oleh Cak Nun, barangkali karena kita terlalu sibuk membangun teknologi eksternal sehingga lupa membangun dengan arif bagian teknologi internal. Jelasnya lagi yang ia maksud dengan term eksternal dan internal dalam konteks korupsi sejalan dengan yang disampaikan oleh Tamrin Amal Tomagola. Dimulai dari hal kecil tatkala kita bekerja tidak sungguh-sungguh atau seorang anak yang khawatir mendapatkan nilai buruk saat ulangan di sekolah, memilih untuk menulis contekan daripada belajar giat. Waham korupsi sejak dini ini jika kemudian menjadi kaidah bersama di kalangan peserta didik, sejak di sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Pun korupsi menggagalkan makna kemerdekaan seperti pesan para founding father daripada bangsa ini. Sebagai rakyat kita hanya membayangkan jika uang yang dikorupsi tersebut digunakan untuk investasi, paling tidak hasilnya akan memberi peluang kerja bagi orang miskin dan hasil produksinya dapat mendorong angka pertumbuhan ekonomi.
Data yang diluncurkan oleh BPS BPS (Biro Pusat Statistik) mengenai angka kemiskinan maka kita akan memperoleh informasi bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 berjumlah 31,02 juta orang (13,33 persen). Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah dari Maret 2009 ke Maret 2010. Pada Maret 2009, sebagian besar (63,38 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan begitu juga pada Maret 2010, yaitu sebesar 64,23 persen. Arti dari semua ini adalah betapa uang yang sejatinya didistribusikan untuk rakyat telah dimakan habis para koruptor bangsat itu!
Ya, begitulah nasib kita. Bahkan ada sebuah anekdot lucu mengisahkan nasib generasi Indonesia di jaman sekarang. Konon, kekayaan kita sejatinya tak akan habis untuk tujuh turunan, namun sayang disayang, generasi kita adalah keturunan ke delapan. Begitulah, sungguh malang nasib kita, baik kekayaan atau kemerdekaan di atas kaki sendiri, itu pun sudah tak kita miliki.

Membangun Gerakan Sosial antikorupsi
Dalam rangka memberantas korupsi, dunia internasional telah menandatangani deklarasi pemberantasan korupsi di Lima, Peru pada tanggal 7-11 September 1997 dalam konferensi anti korupsi yang dihadiri oleh 93 negara. Deklarasi yang kemudian dikenal dengan Declaration Of 8th International Conference Against Corruption diyakini bahwa korupsi mengerosi tatanan moral masyarakat, mengingkari hak-hak sosial dan ekonomi dari kalangan kurang mampu dan lemah. Konferensi tersebut juga mempercayai bahwa memerangi korupsi adalah urusan setiap orang dari setiap masyarakat. Memerangi korupsi mencakup pula mempertahankan dan memperkuat nilai-nilai etika dalam semua masyarakat. Karena itu sangat penting untuk menumbuhkan kerjasama diantara pemerintah, masyarakat sipil, dan pihak usaha swasta.
Hal ini pulalah yang membuat Presiden Jokowi keroyo-royo mencanangkan revolusi mental kepada bangsa ini, yaitu revolusi yang bertumpu pada tiga nilai, yaitu integritas, etos kerja, gotong royong. Artinya pula, presiden sebenarnya ingin semua warga masyarakat republik indonesia ini harus direvolusi mentalnya. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mendukung program revolusi mental berkenaan dengan program antikorupsi adalah gerakan sosial antikorupsi. Gerakan sosial antikorupsi ini harusnya juga diinisiasi oleh semua institusi di negara ini. Entah itu pemerintahan, pendidikan, usaha dan bisnis, ataupun pariwisata misalnya. Pun seyogianya gerakan semacam ini tentu bisa menjadi pioner bagi gerakan-gerakan antikorupsi lainnya. Entah itu mungkin akan dilanjutkan mendirikan sekolah non-formal antikorupsi, membentuk paguyuban petani antikorupsi, mendirikan pengusaha antikorupsi, komunitas aparatnegara anti korupsi, dsb. Dan harapan kita semua kelak gerakan sosial antikorupsi di masyarakat ini bukan sekedar seremonial belaka atau ritual tahunan dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan bangsa Indonesia ini.
Masyarakat sebenarnya mengharapkan hukuman yang lebih keras dan tegas terhadap koruptor agar tercipta efek jera. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, yang diperbarui dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, mengatur hukuman mati bisa dijatuhkan kepada pelaku korupsi apabila tindak pidana itu dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan UU yang berlaku, pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai pengulangan, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. Namun, dalam Rancangan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diajukan tahun 2008, ketentuan hukuman mati bagi koruptor tak dikenal. Sejumlah ketentuan berkaitan dengan ancaman hukuman lebih ringan dari UU sebelumnya.
Mungkin agar wacana hukuman mati kembali mencuat, dukungan terhadap pelaksanaan hukuman mati hendaknya harus dilontarkan kembali seperti Majelis Ulama Indonesia, NU, Muhammadiyah, atau organisasi agama di Indonesia ini agar lebih berperan dalam pemberantasan korupsi. Kisah Nabi Muhammad SAW yang akan memotong tangan Fatimah binti Muhammad seandainya putrinya itu mencuri, bisa menjadi sebuah pembelajaran yang amat berharga bisa disampaikan lewat kultum (kuliah tujuah menit) di masjid atau di saat tabligh akbar agar wacana antikorupsi ini tidak mengendor. Selain juga bagaimana mengefektifkan kembali organisasi keagamaan ini mensosialisasikan pesan sosial antikorupsi dalam setiap kesempatan yang ada.

Epilog
Mungkin malam ini, di hampir di seluruh sudut desa dan kota di Indonesia, sebagian besar warga masyarakat Indonesia sedang menggelar tirakatan malam kemerdekaan. Mencoba menggali makna dan tujuan proklamasi kemerdekaan sekaligus berdoa untuk kemerdekaan yang sejati untuk negeri ini. Dan dalam hening dan khusuk doa, marilah kita sejenak menanamkan pada diri sanubari untuk mewaspadai penyakit korupsi dalam diri kita. Gerakan sosial antikorupsi harus diinisiasi di semua lini. Dimulai dari keluarga harus betul menanamkan sikap selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja agar tidak tercipta mental koruptor. Dan dalam ranah bernegara mari kita dukung bersama lembaga pengawas terhadap tindak pidana korupsi (KPK) dan mendukung ormas keagamaan untuk menjadi pelopor yang terus menghasung umatnya untuk memberantas tindak pidana korupsi.
Barangkali, itulah bentuk ruwatan massal yang diperlukan oleh jiwa bangsa kita yang sakit ini. Ruwatan hati sanubari kita sendiri yang akan memberikan dampak positif bagi lingkungan kita dan utamanya negara Indonesia tercinta ini. Walhasil, kelak kita bisa berharap negara Indonesia ini akan benar-benar menjadi negara gemah ripah, lohjinawi, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Semoga.