Tawaran Pekerjaan

Dimuat di Tanjung Pinang Pos

Tawaran pekerjaan baru ini sungguh menarik bagi Parjo. Lebih mudah dan gampang dari pekerjaannya yang ia lakukan sekarang ini: menjadi kuli barang alias manol di pasar Klewer. Walaupun bisa mendapat banyak uang kalau sedang banyak langganan. Namun, tubuhnya yang mulai ringkih sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maklum saja, usianya sudah hampir 60 tahun.

Hingga datanglah seorang perempuan setengah tua. Berpenampilan orang kaya. Mas-giwang gemerlapan di badannya. Pendeknya, perempuan yang tidak tidak cantik namun tidak juga jelek itu menyuruh Parjo mengusung barang-barang ke dalam mobil. Barang-barang itu berupa kain mori dan handuk kecil dalam jumlah banyak. Baru kali ini Parjo melihat perempuan itu. Parjo berharap perempuan itu jadi pelanggan tetapnya kelak.

Lanjutkan membaca

Ziarah Seekor Semut dan Kisah Seorang Pengarang

dimuat di Solo Pos (18/3)*

29313205_10211402378594658_3060407211944574976_n

Tuanku adalah seorang pengarang cerita. Dia duduk di meja komputernya tiga sampai empat jam sehari. Tetapi, tuanku tidak selalu mengarang atau membaca buku. Acapkali ia hanya memelototi layar monitor itu selama berjam-jam sedangkan pandangannya kosong menerawang entah kemana.

 

Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku sendiri tidak tertarik dengan tulisannya selain ketertarikanku dan kaumku pada kopi yang biasa ia taruh di samping layar monitor. Kopi arabica adalah jenis kopi kesukaannya. Tetapi, aku dan kaumku menyukai kopi tuanku ini karena adanya gula yang dominan pada kopinya. Ya, agaknya tuanku ini penyuka kopi yang kental tapi manis.

 

Karena hal itulah kami berombongan datang ke gelas cangkirnya setelah kopinya agak dingin. Kami berlomba minum di telaga kopi dan baru pergi setelah kenyang. Tetapi sebagian teman kami tak bisa menahan diri. Mereka mati tenggelam dengan apa yang mereka inginkan.

 

Saat kembali pulang dari telaga kopi itu sesekali aku menyempatkan diri melihat ekspresi tuanku. Tuanku bernama Denipram. Dia sebenarnya tampan walaupun kantong di bawah matanya semakin menjadi gelap. Terkadang aku melihat berkas-berkas ketakutan di sana. Tetapi, kau tahu, para pengarang cerita adalah makhluk istimewa. Mereka biasa menghadapi kesunyian yang dalam. Tahan menghadapi kenyataan dan ketakutan yang tak mengenakkan. Wajarlah hingga wajah tuanku ini tampak lebih tua dari umur sejatinya.

 

Oh, hidup macam pengarang memang tak ideal. Tak sehat. Apa yang mereka pikirkan jauh lebih mendalam dari apa yang bisa mereka lakukan.

Lanjutkan membaca

Elegi Martha

dimuat di Magelang Express
Untitled
Martha mengalami mimpi terburuk dalam hidupnya. Mimpi yang berakhir di alam nyata. Sebuah kenyataan yang tak pernah ia harapkan terjadi pada dirinya, pada pernikahannya.

Dini hari kerap ia terbangun dalam gelisah. Ketika dekap suaminya terasa tak nyata lagi. Siapakah ia yang berbaring di sampingnya? Wajah tampan lugu yang dikenalnya kini berbau perempuan sundal.

Oh, ia benci sekali kota penjajahan yang mengubah para perwira muda seperti suaminya. Kegelapan kota ini membinasakan cahaya terang suaminya hingga membuatnya lari ke gedung opera Marabunta hingga jatuh ke pelukan Mata Hari .

Martha tidak tahu apakah dia harus senang atau benci dengan mengetahui perselingkuhan suaminya yang terlalu dini ini. Bersyukur yang terasa absurd karena Tuhan karena telah menyelamatkan dari kebohongan palsu suaminya.

Pun tak pernah Martha membayangkan mengapa Tuhan membuatnya merasakan kepedihan kepadanya. Mencicipkan ujian dahsyat ini. Padahal tangannya tak pernah lelah mendoa. Seandainya Tuhan tidak memberinya hari celaka itu.
Ya, saat itu candik ayu terlihat memerah di atas gereja Kerk . Malam berangkat seakan lebih cepat. Sebuah simphoni Mozart mengalun dari rumah seberang amat menentramkan ketika ia berjalan bergegas itu. Entah rumah siapa. Sebuah rumah yang elok dengan halaman luas dan berumput jepang yang asri. Pastilah rumah seorang pejabat tinggi di Semarang ini.

Tatkala saat hendak berbelok ke arah kanal, tiba-tiba sebuah kereta hampir menabraknya. Martha bersyukur bisa menghindar lebih cepat jadi ia tidak tertabrak. Tetapi yang lebih membuatnya terkejut adalah ia melihat siapa penumpang yang turun. Dan dua orang penumpang yang itu turun itu adalah sang penari erotis Mata Hari bersama Ludwig, suaminya.

Benarkah yang ia lihat? Suaminya bersama dalam satu kereta dengan penari perut itu?

Marah dan berang hati Martha. Urusannya yang mahapenting untuk ke gereja Kerk terlupa seketika.
***
Sungguh di Semarang ini tak ada yang tidak mengenal Mata Hari! Martha juga tahu saat Mata Hari bersama suaminya pastilah ada yang tak beres. Di kota ini tak ada yang bisa menutupi bangkai perselingkuhan. Semua bau busuk akan tersebar dengan mudah. Dan benar saja lambat-laun teman-temannya di gereja mengatakan dengan terang-terangan maupun malu-malu.

Tetapi Martha sangat mencintai suaminya. Ia tak ingin berpisah dengan suaminya. Ia ingin melakukan sesuatu agar suaminya kembali kepadanya. Akhirnya Martha makin sering datang ke gereja. Memasuki bilik pengakuan dosa lebih sering dari biasanya. Dan hari pertama itu saat menceritakan semuanya, ia mendapat nasihat dari sang pendeta, bahwa apa yang ia terima ini adalah buah dari dosa lahir yang belum ditahirkan. Sang Pendeta menyuruh untuk memohon ampun kepada Tuhan. Lanjutkan membaca

Kesalihan Berkendara di Jalan Sebagian dari Iman

dimuat di Solo Pos

 thumbnail

Penulis                                  : M Faizi

Judul Buku                          : Celoteh Jalanan (Lucu, Segar dan Inspiratif)

Cetakan pertama             : Maret 2017

Penerbit                              : BasaBasi

Tebal                                     : 180 hlm; 14×20

 

Kita sering mendengar analogi seperti ini: hukuman neraka itu dianalogikan seperti seorang oknum yang mengendari kendaraan kemudian ia melanggar peraturan lalu lintas, misalnya tak bawa SIM. Karena tidak punya atau lupa membawa surat sakti tersebut, oknum itu tetap akan ditilang oleh polisi. Polisi dianalogikan sebagai hukuman akhirat, sedangkan pelanggaran bisa dianalogikan sebagai perbuatan dosa. Sadar atau tidak sadar, lupa atau tidak lupa, jikalau melanggar peraturan lalu lintas atau melakukan perbuatan dosa, dua-duanya akan mendapatkan hukuman.

Di dalam hadits banyak disinggung tentang adab-adab di jalanan, semisal menyingkirkan aral di jalanan atau tidak memakir kendaraan yang memakan bahu jalan, dan mengucapkan salam kepada orang yang berpapasan di jalan. Semua kesadaran ini jika dilakukan dengan niatan mengamalkan sunnah, insya Alloh, dia akan mendapatkan pahala atau ganjaran. Artinya pula, salah satu cara menakar iman dan pengamalan sunah tidak bisa dilepaskan dari variabel bagaimana dia bermuamalah di jalan.

Sejatinya buku Celoteh Jalanan, M Faizi ini bukan sekadar celoteh jalanan yang bising, memekakkan telinga, atau komentar tetnang kesemrawutan lalu lintas di Indonesia ini, sebaliknya buku ini merupakan refleksi seorang pengendara yang notabene adalah seorang kyai, seniman, penyair dan seorang pengamat yang mempunyai cara yang pandang linuwih dalam menyikapi keadaan. Lanjutkan membaca

Ramalan Ibu tentang Keperawanan Seorang Pelacur yang Akhirnya Menjadi Istriku.

dimuat di joglosemarnews.com

Ramalan-Ibu-tentang-Keperawanan-Seorang-Pelacur-yang-Akhirnya-Menjadi-Istriku
Hari lahir ibuku istimewa. Ia lahir satu menit setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan Soekarno. Tentang keistimewaan Ibuku itu, selain hari ulang tahunnya yang selalu ia rayakan bersamaan dengan hari kemerdekaan negrinya ini, sejak kecil Ibu mempunyai bakat yang bisa dikatakan luar biasa bagi warga desa kami. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa warga yang telah beberapa kali menggunakan jasa ibu.
Ya, Ibuku seorang peramal. Keahlian Ibu adalah meramal nasib orang. Beberapa orang yang pernah datang – dan sering sekali kembali lagi tentu- akan bertanya pada Ibu, hari baik apa yang akan digunakan untuk anaknya menikah, atau arah dan tempat mana yang baik untuk mendirikan toko? Lain kali mereka akan bertanya, bagaimanakah cara agar bisa membuat suami tetap lengket dan tidak akan jajan di Warung Bulak Adem yang ada di ujung desa –sebuah komplek pelacuran yang sengaja dilegalkan oleh pemerintah daerah kami. Tentu ramalan Ibuku memang tidak selalu tepat atau betul menjadi kenyataan.
“Aku hanya melihat apa yang bisa kulihat,” katanya menjawab para pelanggannya. “Takdir orang itu tak bisa dirubah. Aku tak bisa mendahului takdir Tuhan.”
Suatu kali ada seorang pelacur yang datang ke rumah. Seperti kuketahui, mereka biasa datang menggunakan jasa Ibuku agar pemasukan mereka lancar. Atau agar mereka tetap menjadi sang bunga mawar lokalisasi. Namun kali ini, Ibu tidak biasanya menyuruhku menyuguhkan air minum buat seorang perempuan lokalisasi. Ya, hal ini agak janggal. Sebelumnya Ibu tidak pernah menyuruhku berurusan dengan para pelanggannya. Tapi, aku hanya manut. Lagi pula aku sedang tak ada kesibukan. Pekerjaanku sendiri di ladang sebagai petani lombok sudah dapat sering kutinggal dan hanya menunggu panen.
“Lilik, kuperkenalkan pada tamu istimewa Ibu.”
Aku merasa heran, maksudku, tidak biasa sekali Ibu mengenalkanku pada pelanggannya. Dan sementara itu perempuan itu tersenyum simpul. Pupil matanya melebar. Mungkin ia agak terkejut juga dengan tajamnya pujian dari Ibuku. Ya, aku tak heran dengan kepandaian Ibuku yang satu ini. Ibuku tak hanya pandai memuji tapi juga pandai mensugesti para pelanggannya –yang karena dari hal itulah kami bisa makan setiap harinya.
“Lilik,” kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan perempuan itu.
“Maharani.”
Ia tersenyum manis. Ada lesung pipinya yang menarik.
Aku sejujurnya tak tahu maksud Ibu dengan memperkenalkan dengan salah satu pelanggannya. Sampai ketika perempuan itu pergi, Ibu mengajakku bicara. Dan Ibuku nyata berbinar ketika berbicara padaku kali ini.
“Ia akan menjadi istrimu kelak, Lik. Gadis itulah yang akan membuatmu bahagia.” Lanjutkan membaca

Balada Si Jantre Polan yang Dibakar Massa

Dimuat di koran Haluan

Jantung Sanyoto berdebar kencang melihat lelaki itu menginjakkan kaki di kios cukurnya. Sanyoto menelan ludah. Tenggorokannya kering tiba-tiba. Lelaki itu menatap gambar model potongan rambut di sebelah kaca besar seperti sedang memilih.
Ya, semua orang di pasar kenal dengan lelaki ini. Jantre Polan bromocorah pembantai berdarah dingin. Masih ingat Sanyoto saat lelaki itu menyilet telinga kacungnya sendiri. Dulu juga dia yang pertama kali menyiram bensin seorang pemabuk yang membuat onar. Padahal pemabuk itu seorang residivis yang disegani.

“Tidak ada yang mau dicukur, kan?”

Sanyoto mengangguk. Kata-kata sukar keluar dari lidahnya. “Ya, pak. Nggak ada sama sekali.”

Jantre Polan duduk akhirnya. Dan Sanyoto reflek menyelimutkan kain besar berbahan mori itu di pundak Jantre Polan.

“Mau potong gimana pak?” Sanyoto inisiatif bertanya.

Jantre diam. Sanyoto melirik ke mata tajam yang memandang dirinya di cermin itu. Diam tak ada jawaban.

“Kamu bisa adzan kan?”

“Apa pak?”

“Kamu bisa adzan?” ulang Jantre.

Sanyoto hampir tertawa. Ia tak paham pertanyaan itu. Tapi, ia takut untuk tertawa.

“Maksudnya pak?”

Lanjutkan membaca

Anomali Monti

dimuat di Solo Pos

Sebuah anomali barangkali terjadi pada Monti. Monti, adalah anak pertama Mama yang mempunyai tubuh paling besar di antara kami. Jika dilihat dari foto keluarga, siapapun tahu ia sangat mirip Papa. Tetapi karena mentalnya yang terbelakang membuat ia terlihat sangat kontras dari semua anak Mama yang rata-rata berprestasi. Mbak Ira, terutama yang paling keras kepada Monti –untuk tidak aku katakan membencinya bahkan menuduh Monti hasil hubungan gelap Mama.

“Ia tidak mungkin mirip Papa. Sama sekali tidak! Monti adalah seorang idiot dan itu tak mungkin menurun dari Papa,” pendapat Mbak Ira dengan ketus.

Sejatinya aku tahu Mbak Ira hanya kecewa dengan Mama. Seperti yang berulang kali ia katakan, Mama selalu menekannya karena ia adalah satu-satunya anak perempuan di antara kami. Anak perempuan mempunyai kewajiban yang besar menurut Mama. Dan anehnya karena terlalu sering ditekan seperti itu alih-alih Mbak Ira membenci Monti satu-satunya anak “yang tak berguna” bagi keluarga.

Mamaku sendiri, di usianya yang senja tinggal bersama Monti di Jakarta. Aku tinggal di semarang, di studio sekaligus galeri kecilku. Ira tinggal di Jogjakarta dengan keluarganya karena dekat dengan rumah sakit ia berpraktek sebagai dokter. Kakakku, Agus, tinggal di istana negara, tempat ia bekerja. Edi, sedang menyelesaikan S3 nya di Australia. Ed, begitu biasa kami memanggilnya, pergi dari rumah melanjutkan studi setelah perkawinannya gagal. Ia mengatakan satu hal padaku sebelum ia berangkat.
Lanjutkan membaca

Guru Menulis sebagai Agen Masyarakat Adiluhung untuk Mengcounter Berita Hoax di Lini Massa

Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, masyarakat dijejali informasi yang begitu deras mengalir sampai ke pojok-pojok kamar tidur melalui berbagai media massa. Informasi, menurut Peter F Drucker, sudah bersifat transnasional yang tak ada lagi batas-batas nasional. Dengan sifat transnasional tersebut, informasi global, melemahkan dan menghancurkan identitas nasional kemudian menggantikannya dengan identitas kebudayaan baru. Artinya juga, informasi (pengetahuan) yang menjadi faktor penentu bagi eksistensi masyarakat baru yang disebutkan sebagai masyarakat pascakapitalis. Dalam masyarakat baru tersebut sumber sumber ekonomi dasar bukan lagi modal, (kapital) sumber daya alami bukan pula tenaga kerja, tetapi pengetahuan. Kekuatan informasi itu pula yang juga diyakini oleh Alvin Toffler sebagai The Highest Quality Power, lebih tinggi daripada Money Power dan Muscle Power.

Nah dalam kondisi milineal seperti inilah membanjirnya informasi dalam banyak hal membuat masyarakat tidak berdaya. Apalagi informasi dan berita hoax merupakan salah satu ekses negatif yang tumbuh subur di generasi milenial jaman ini mengalahkan variabel-variabel komunikasi lainnya.

Secara definitif, hoax adalah pemberitaan palsu untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya agar mereka mempercayai dan meyakini sesuatu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. (wikipedia).

Masyarakat Indonesia pun gemar merayakan hoax. Seperti pernah terjadi pada kasus meninggalnya Uje. Adanya penampakan foto awan yang berbentuk sosok orang berdoa di atas tempat kecelakaan sang ustadz gaul itu. Akibatnya, tanah dan tempat kematian Uje dikeramatkan, diambil, dan dibawa pulang sebagai jimat dan media kesyirikan. Bahkan hal itu berlanjut kepada sengketa permasalahan kubur Uje karena banyaknya peziarah yang ingin ngalap berkah kepada almarhum.

Contoh lainnya adalah berita hoax pengungsi Rohingnya diduplikasi hampir sebagian besar oleh muslimin Indonesia dan menjadi trending topic di lini massa. Dari istri presiden Turki yang datang ke Aceh. Tapi beberapa dari berita tersebut adalah berita hoax semata.

Sebenarnya tidak hanya Indonesia saja, dari luar negeri juga sering terjadi dan parahnya langsung diimpor oleh media Indonesia. Misalnya kejadian yang belum lama terjadi, media Arab dan Israel digemparkan dengan berita seorang biarawati El Savador yang melahirkan Isa Al Masih. Beberapa koran dan media digital Indonesia ikut melansir berita tersebut dengan tajuk Isa Al Masih telah lahir. Diberitakan sebelumnya biarawati asal El Salvador berusia 31 tahun tidak tahu bahwa dirinya sedang hamil dan tiba-tiba melahirkan seorang bayi laki-laki seberat 3,5 kilogram. Pun hal ini berkaitan dengan kematian Ariel Sharon, fenomena Arab Spring (peperangan besar yang sekarang melanda sebagian negara di Timur Tengah dan perang besar di Suriah). Diramalkan anak biarawati itu adalah Isa Al Masih yang akan memimpin dunia untuk membunuh Dajal. Menurut Rabi Yahudi, yang bernama Yatsahaq Kaduri, dengan hadirnya Dajjal akan terjadi perang sengit antara para pengikutnya dan penentangnya. Sepertiga penghuni bumi akan terlibat dalam perang yang berlangsung selama tujuh tahun ini. Kaduri percaya semua penentang Dajjal akan tewas dan akan muncul kekacauan hebat.

Namun sehari kemudian dilansir klarifikasi kelahiran “Bayi Imam Mahdi” itu adalah hoax semata. Setelah mendapat pelbagai respon luar biasa dari masyarakat Arab, biarawati yang bernama Roxana Rodriguez itu akhirnya mengaku bahwa ia telah melanggar sumpahnya untuk hidup selibat. Ia mengaku melakukan hubungan seksual dengan seorang lelaki ketika ia tidak tinggal di biara. Selama ini ia menutupi aib itu di gereja hingga aibnya terbongkar ketika anaknya lahir. Akibatnya masyarakat balik mencaci maki perempuan yang ‘tidak jadi melahirkan Imam Mahdi’ itu. Lanjutkan membaca

Tragedi Cinta dalam Sastra


(Resensi Kumcer Balada Bidadari, Yuditeha)
Resensi andri saptono*

Judul buku : Balada Bidadari (kumpulan cerpen)
Penulis : Yuditeha
Penerbit : Kompas
Cetakan : I, November 2016
Tebal : 133 hlm

Menulis adalah menjauhi rasa sakit dan merayakan cinta (Atmokanjeng)

Menulis cerpen sastra yang bertemakan cinta tragedi adalah pekerjaan ganda sekaligus. Penulis diharuskan berpikir dan juga merasakan nasib tragedi cinta para tokohnya. Yuditeha, dalam antologi cerpen, Balada Bidadari (2016), yang diterbitkan oleh penerbit Kompas ini, menulis kisah cinta para tokohnya yang terkadang di luar logika sekaligus berusaha memasukkan empati di dalamnya. Penulis seperti ini memang tidak banyak yang berhasil, Yuditeha sedikit saja yang berusaha ajeg agar cerpen itu menarik dibaca juga tidak sepi makna.

Cerpen yang terbaik dalam antologi ini, Rusmiyati, mengisahkan balada cinta seorang penari wayang orang. Ia jatuh cinta pada seorang tokoh pejabat yang menurut Rusmiyati adalah sosok Arjuna baginya. Rusmiyati pasrah saja ketika ia hamil dan tak bisa menuntut apa-apa dari sang kekasih itu karena lelaki itu sudah berkeluarga. Konflik ini menjadi tidak biasa, karena justru orang lainlah, sang aku tokoh, yang memposisikan sebagai kacamata norma dan nilai sosial dalam masyarakat itu sendiri. Padahal, Rusmiyati, melakoni cinta yang “bermasalah” itu dengan berbunga-bunga.

Lebih menarik, adalah Yuditeha bermain-bermain dalam dekonstruki cerita rakyat yang sudah terkenal di Jawa. Ada dua cerita rakyat di antologi ini yang juga bertemakan cinta. Kisah Sangkuriang dengan dongeng Tangkupan Perahu (digubah menjadi Lelaki Sampan), dan kisah Jaka Tarub yang beristrikan bidadari (Balada Bidadari). Ketika cerita ini digubah menjadi kisah kekinian, Yuditeha membuat alur yang gotik. Bidadari dengan sayap patah, patung, seniman patung, cemburu, pertengkaran menjadi warna yang suram. Atau ketika Sangkuriang yang awalnya flamboyan menjadi murung justru ketika ia bertemu “cinta sejatinya”, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Dari kedua cerpen ini Yuditeha lebih menekankan unsur psikologis pada konflik antar tokohnya bukan pada kesaktian tokoh yang biasanya menjadi daya pikat dari cerita rakyat.
Lanjutkan membaca

Meruwat Kemerdekaan Indonesia: Sejahtera Tanpa Korupsi

Kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan
kemerdekaan indonesia
untuk kedua kalinya!

Hal-hal yang mengenai
hak asasi manusia
utang-piutang
dan lain-lain
yang tak habis-habisnya
INSYA ALLAH
akan habis
diselenggarakan
dengan cara saksama
dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya
Jakarta, 25 Maret 1992
Atas nama bangsa Indonesia
Boleh – siapa saja

Prolog
Sebuah sajak parodi berjudul Proklamasi, 2 yang digubah penyair Hamid Jabbar menjadi cerminan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Kita ternyata masih sering sarapan pagi bersama televisi yang menyiarkan berita korupsi yang makin menggurita. Korupsi yang sejatinya menggagalkan makna kemerdekaan yang selalu kita peringati setiap 17 Agustus ini.
Barangkali, kita memerlukan semacam seremonial yang besar. Yang lebih megah dari sekadar peringatan tujuh belasan dan upacara bendera. Kita memerlukan sebuah ritual luar biasa daripada gegap gempita dentuman meriam di istana negara. Kita memerlukan sebuah ruwatan massal, yaitu ruwatan kemerdekaan Indonesia dalam jiwa sanubari sendiri. Ruwatan sejatinya lebih dari merawat, tetapi mengembalikan hakikat dan martabat kemerdekaan Indonesia yang sejati.

Negara Siaga Korupsi
Di negeri yang konon terkenal subur serta gemah ripah loh jinawi ini, entah mengapa korupsi terjadi setiap hari. Kita lantas bertanya, apa yang salah dengan negeri ini?
Sungguh, Indonesia mendapat peringkat ketiga dalam kuantitas kejahatan korupsi yang menyaingi negara-negara lain di Asia Tenggara. Pada 8 Maret 2010 PERC (Political & Economic Risk Consultancy) menempatkan Indonesia pada ranking pertama dari 16 negara terkorup di Asia Pasifik. Pada periode tahun 2001-2009, jumlah uang yang dikorupsi mencapai Rp 73,07 triliun. Namun total nilai hukuman finansial yang dijatuhkan kepada pelaku hanya Rp 5,32 triliun atau 7,29 persen dari total dana yang dikorupsi. (infokorupsi.com). Selama kurun waktu 2016, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan 17 operasi tangkap tangan (OTT) tersangka kasus tindak pidana korupsi. Hingga yang paling menghebohkan di awal tahun 2017 ini kasus korupsi E-KTP, yang merugikan negara hampir 2,3 trilyun. Bahkan, di tingkat desa penulis sendiri ada indikasi penggunaan Dana Desa (DD) yang tidak tepat. Mulai dari potongan PPH, PPN, dan potongan administrasi lainnya sebesar 16,5 %, yang menyunat bantuan Dana Desa tersebut.
Sungguh mempertanyakan banalitas korupsi adalah seperti menuduh kepada diri sendiri bahwa korupsi telah menjadi milik kita semua. Seperti yang disampaikan oleh Cak Nun, barangkali karena kita terlalu sibuk membangun teknologi eksternal sehingga lupa membangun dengan arif bagian teknologi internal. Jelasnya lagi yang ia maksud dengan term eksternal dan internal dalam konteks korupsi sejalan dengan yang disampaikan oleh Tamrin Amal Tomagola. Dimulai dari hal kecil tatkala kita bekerja tidak sungguh-sungguh atau seorang anak yang khawatir mendapatkan nilai buruk saat ulangan di sekolah, memilih untuk menulis contekan daripada belajar giat. Waham korupsi sejak dini ini jika kemudian menjadi kaidah bersama di kalangan peserta didik, sejak di sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Pun korupsi menggagalkan makna kemerdekaan seperti pesan para founding father daripada bangsa ini. Sebagai rakyat kita hanya membayangkan jika uang yang dikorupsi tersebut digunakan untuk investasi, paling tidak hasilnya akan memberi peluang kerja bagi orang miskin dan hasil produksinya dapat mendorong angka pertumbuhan ekonomi.
Data yang diluncurkan oleh BPS BPS (Biro Pusat Statistik) mengenai angka kemiskinan maka kita akan memperoleh informasi bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 berjumlah 31,02 juta orang (13,33 persen). Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah dari Maret 2009 ke Maret 2010. Pada Maret 2009, sebagian besar (63,38 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan begitu juga pada Maret 2010, yaitu sebesar 64,23 persen. Arti dari semua ini adalah betapa uang yang sejatinya didistribusikan untuk rakyat telah dimakan habis para koruptor bangsat itu!
Ya, begitulah nasib kita. Bahkan ada sebuah anekdot lucu mengisahkan nasib generasi Indonesia di jaman sekarang. Konon, kekayaan kita sejatinya tak akan habis untuk tujuh turunan, namun sayang disayang, generasi kita adalah keturunan ke delapan. Begitulah, sungguh malang nasib kita, baik kekayaan atau kemerdekaan di atas kaki sendiri, itu pun sudah tak kita miliki.

Membangun Gerakan Sosial antikorupsi
Dalam rangka memberantas korupsi, dunia internasional telah menandatangani deklarasi pemberantasan korupsi di Lima, Peru pada tanggal 7-11 September 1997 dalam konferensi anti korupsi yang dihadiri oleh 93 negara. Deklarasi yang kemudian dikenal dengan Declaration Of 8th International Conference Against Corruption diyakini bahwa korupsi mengerosi tatanan moral masyarakat, mengingkari hak-hak sosial dan ekonomi dari kalangan kurang mampu dan lemah. Konferensi tersebut juga mempercayai bahwa memerangi korupsi adalah urusan setiap orang dari setiap masyarakat. Memerangi korupsi mencakup pula mempertahankan dan memperkuat nilai-nilai etika dalam semua masyarakat. Karena itu sangat penting untuk menumbuhkan kerjasama diantara pemerintah, masyarakat sipil, dan pihak usaha swasta.
Hal ini pulalah yang membuat Presiden Jokowi keroyo-royo mencanangkan revolusi mental kepada bangsa ini, yaitu revolusi yang bertumpu pada tiga nilai, yaitu integritas, etos kerja, gotong royong. Artinya pula, presiden sebenarnya ingin semua warga masyarakat republik indonesia ini harus direvolusi mentalnya. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mendukung program revolusi mental berkenaan dengan program antikorupsi adalah gerakan sosial antikorupsi. Gerakan sosial antikorupsi ini harusnya juga diinisiasi oleh semua institusi di negara ini. Entah itu pemerintahan, pendidikan, usaha dan bisnis, ataupun pariwisata misalnya. Pun seyogianya gerakan semacam ini tentu bisa menjadi pioner bagi gerakan-gerakan antikorupsi lainnya. Entah itu mungkin akan dilanjutkan mendirikan sekolah non-formal antikorupsi, membentuk paguyuban petani antikorupsi, mendirikan pengusaha antikorupsi, komunitas aparatnegara anti korupsi, dsb. Dan harapan kita semua kelak gerakan sosial antikorupsi di masyarakat ini bukan sekedar seremonial belaka atau ritual tahunan dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan bangsa Indonesia ini.
Masyarakat sebenarnya mengharapkan hukuman yang lebih keras dan tegas terhadap koruptor agar tercipta efek jera. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, yang diperbarui dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, mengatur hukuman mati bisa dijatuhkan kepada pelaku korupsi apabila tindak pidana itu dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan UU yang berlaku, pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai pengulangan, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. Namun, dalam Rancangan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diajukan tahun 2008, ketentuan hukuman mati bagi koruptor tak dikenal. Sejumlah ketentuan berkaitan dengan ancaman hukuman lebih ringan dari UU sebelumnya.
Mungkin agar wacana hukuman mati kembali mencuat, dukungan terhadap pelaksanaan hukuman mati hendaknya harus dilontarkan kembali seperti Majelis Ulama Indonesia, NU, Muhammadiyah, atau organisasi agama di Indonesia ini agar lebih berperan dalam pemberantasan korupsi. Kisah Nabi Muhammad SAW yang akan memotong tangan Fatimah binti Muhammad seandainya putrinya itu mencuri, bisa menjadi sebuah pembelajaran yang amat berharga bisa disampaikan lewat kultum (kuliah tujuah menit) di masjid atau di saat tabligh akbar agar wacana antikorupsi ini tidak mengendor. Selain juga bagaimana mengefektifkan kembali organisasi keagamaan ini mensosialisasikan pesan sosial antikorupsi dalam setiap kesempatan yang ada.

Epilog
Mungkin malam ini, di hampir di seluruh sudut desa dan kota di Indonesia, sebagian besar warga masyarakat Indonesia sedang menggelar tirakatan malam kemerdekaan. Mencoba menggali makna dan tujuan proklamasi kemerdekaan sekaligus berdoa untuk kemerdekaan yang sejati untuk negeri ini. Dan dalam hening dan khusuk doa, marilah kita sejenak menanamkan pada diri sanubari untuk mewaspadai penyakit korupsi dalam diri kita. Gerakan sosial antikorupsi harus diinisiasi di semua lini. Dimulai dari keluarga harus betul menanamkan sikap selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja agar tidak tercipta mental koruptor. Dan dalam ranah bernegara mari kita dukung bersama lembaga pengawas terhadap tindak pidana korupsi (KPK) dan mendukung ormas keagamaan untuk menjadi pelopor yang terus menghasung umatnya untuk memberantas tindak pidana korupsi.
Barangkali, itulah bentuk ruwatan massal yang diperlukan oleh jiwa bangsa kita yang sakit ini. Ruwatan hati sanubari kita sendiri yang akan memberikan dampak positif bagi lingkungan kita dan utamanya negara Indonesia tercinta ini. Walhasil, kelak kita bisa berharap negara Indonesia ini akan benar-benar menjadi negara gemah ripah, lohjinawi, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Semoga.