Arsip Tag: cerpen

Pemimpi

dimuat di Solo Pos

Lagu “Patient” GNR mengalun dari speaker peron stasiun. Cukup aneh, lagu ini mengingatkan tentang tujuh tahun yang lalu, ketika kita berpisah. Di saat itu mengalun lagu “Patient” yang dilantunkan AXL seakan-akan menjadi penanda.

Aku ingat saat itu kau mengatakan bahwa semua harus berakhir. Harus berpisah. Tak ada yang boleh menangis. Sialnya, justru kau yang menangis.

“Aku bodoh, maafkan aku,” katamu, sembari mengais sengit air mata.

Kau harus pergi menempuh studi di Irlandia. Mengambil beasiswa yang menurutmu berharga untuk dilewatkan. Waktu itu aku ingin mengejarmu. Tinggal di Bracket Island. Kubaca di laman wisata di sana, wisatawan bisa tinggal gratis. Tetapi syaratnya aku harus kerja di kedai kopi selama 6 bulan. Selain itu aku bisa mendapatkan akomadasi, gaji dan tunjangan.

Akan tetapi, minusnya di sana semua serba minim. Penduduknya baru 160 orang. Tak ada listrik. Tak ada wifi. Benar-benar tempat yang terpencil.

Pun, tak ada yang betah dengan kesunyian.

Ya, saat itu kita tak punya pilihan. Kita punya kesibukan masing-masing. Aku sedang mengurusi bisnis penerbitan buku. Kau harus menyelesaikan S2 mu di sana.

“Kau tak pernah menanyakan mengapa aku memilih Irlandia?”

Aku mengedikkan bahu.

“Sempat terpikirkan. Tapi, barangkali itu pun tak berguna.”

Kurasa itu percapan terakhirku. Tepat ketika lagu “Patient” berakhir, kereta datang. Kau melambaikan tangan. Dan aku tetap memasukkan tangan di saku. Kulihat kau menangis. Tapi yakin kutahu, akulah yang terpuruk. Kau tahu aku sangat mencintaimu.

Aku memasang headset dan mendengarkan lagu “unforgiven” Metallica. Aku marah. Tapi semuanya tersimpan di dalam dada. Hingga sekarang. Lanjutkan membaca

Suami untuk Farida

dimuat di Lombok Post 11/6

Farida menangis lagi. Tersedu-sedu sampai terguncang. Hingga tangan Ayahnya memegang pundaknya. Ayahnya keluar dari mobil tak tega demi melihat pemandangan yang menghibakan itu.
“Ayo kita pulang, tak baik menangis di kuburan.”
“Aku hanya ingin mengadukan semua kesedihan ini Ayah.”
“Kubur ini tak akan bisa memberi jawaban. Ayo kita bicarakan ini di rumah. Tak ada masalah yang tak punya jalan keluar.”
Kata-kata Ayahnya bagi cambuk bagi Farida yang sudah tenggelam dalam kesedihan itu. Ia masih mengusap air matanya ketika mengikuti Ayahnya ke dalam mobil.
Sepulang dari kuburan, Pak Rosidi memanggil istri dan kedua adik Farida yang lain. Aji masih kuliah di kedokteran dan Umi masih di semester pertama psikologi. Farida, adalah anak tertua. Ia menikah dengan Rustam, lelaki yang hobi bercocok tanam itu. Farida agak buruk rupa. Bibirnya sumbing. Itulah salah satu hal yang membuat seluruh keluarga bahagia ketika Rustam yang polos dan lugu itu mau mempersunting Farida. Tetapi kebahagiaan Farida hanya seumur jagung. Ketika Rustam pulang dari sawah dengan sepeda motornya, sebuah bus keparat menabrak dan meninggalkannya sekarat di tengah jalan. Rustam mengalami pendarahan hebat di kepala. Kemungkinan sembuh sedikit sekali. Andaikata sembuh, ia pasti mengalami gegar otak parah. Lanjutkan membaca