Arsip Tag: novelis

Elegi Seorang Pecandu Buku

Aisyah adalah seorang pecandu buku. Seisi rumahnya penuh dengan buku. Pernah tetangganya bilang, rumahnya adalah yang paling rentan kebakaran satu komplek ini. Pasalnya, semua dinding dari ruang tamu hingga kamar mandi tak luput dari rak buku.

Aisyah terkekeh. Ia menganggap itu sebagian pujian.

Ya, semua buku itu adalah koleksinya dari sejak ia SD. Sampai usianya yang 29 akhir tahun ini, nyaris setiap bulan tak pernah absen belanja buku. Baginya belanja buku adalah kehormatan[1]. Bahkan ia berharap keluarganya akan menjadi keluarga percontohan pecinta buku di perumahan ini. Begitu harapannya sering ia katakan kepada Zain, sang suami. Aisyah ingin Bilqis kecil yang baru berumur 8 bulan itu sudah mewarisi ilmu mengarsip Dewey[2] sejak dini.

Zain tertawa saja dengan bualan Aisyah. Tapi, memang saat ini impian Aisyah itu tampaknya harus bersabar dulu. Pasalnya Zain belum mencintai buku seperti dirinya. Ya, Zain lebih senang dengan hal-hal yang praktis, semisal mesin dan komputer. Dan memang suaminya adalah orang bengkel. Pun bengkelnya yang berada di jalan Purwosari ini sangat sukses karena kerja keras dan keuletan Zain.

Tetapi, terkadang Zain suka mengkritik Aisyah yang suka menghabiskan waktu seharian dengan buku dan ‘sedikit melupakan’ si Bilqis. Jika hal ini terjadi sindiran tajam dari Zain akan beruntun menyerangnya tanpa ampun.

Aisyah terkekeh saja menimpali kekesalan suaminya. Menurut Aisyah, Bilqis itu juga menyukai buku seperti dirinya. Buktinya ia sering melihat Bilqis yang baru berumur beberapa bulan itu suka menggigit-gigit buku atau kertas brosur di meja. Ah, kecilnya suka menggigiti buku, kalau besar jadi seorang kurator atau kritikus buku, pikir Aisyah.

“Aku ingin punya juga anak lelaki yang menuruni bakatku. Aku ingin mewariskan bengkelku itu nanti pada anak-anakku.” Lanjutkan membaca

Hujan Bulan Desember

Hujan tak berhenti turun sejak semalam. Genangan air di halaman makin meninggi. Alamat mungkin selokan di depan rumah meluap. Namun yang merisaukanku bukan tentang kemungkinan banjir di komplek perumahan jika hujan deras di bulan-bulan Desember seperti ini. Adalah rasa dingin dan senyap yang dikirimkan oleh hujan. Perasaan tidak nyaman. Kesendirian yang berat. Harapan-harapan yang tersangkut dalam jaring laba-laba besar karena kepala memikirkan banyak hal sekaligus.

Aku tak berencana untuk mengakhiri kenestapaan ini. Sebagai penulis kurasa memang aku telah terbiasa menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan. Ini berlangsung lebih dari lima belas tahun. Karya tulisan lebih banyak yang tersimpan di komputer daripada dimuat di media massa. Alih-alih beberapa hal yang menyenangkan bukan datang dari riwayat penulisan itu sendiri. Tetapi, aku tak hendak menceritakan bagaimana detail soal itu. Kau akan memahami hal ini jika melakukan seperti aku lakukan. Seperti orang tuaku yang tak paham dengan hidupku yang lebih memilih sebagai penulis.

Mereka mengeluh tentang hidupku yang tak keruan. Mereka meminta aku agar memilih pekerjaan yang bagus. Sebuah pekerjaan yang benar-benar bisa membuatku hidup mapan. Mereka akan melakukan apa saja untuk itu. Siap membantu koneksi dan tetek bengek lainnya.

Namun, sebenarnya mereka sedang membuat tembok yang tinggi denganku. Sebuah hal kesia-siaan yang tak menyenangkan. Jadi inilah kesepian yang bertambah dibawa oleh hujan. Membasahi hatiku. Menenggelamkanku dalam kerisauan yang kejam. Terkadang rokok dan minuman yang masuk ke dalam lambungku seakan hanya sebuah pelarian sekilas. Hampa dan tak bermakna. Toh, ia tak akan bisa mengubah apapun. Atau taruhlah orang tak seharusnya bergantung pada dua hal ini: rokok dan minuman. Lanjutkan membaca